Penyakit mental pada Co-Parent
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Penyakit mental pada Co-Parent
Modul 17 · Saat orang tua satunya sedang tidak baik-baik saja · Artikel 04 · Wave 2 · untuk semua usia
Orang tua satunya dari anakmu hidup dengan penyakit mental, dan itu memengaruhi caranya mengasuh. Mungkin penyakit itu membuatnya jadi tidak menentu, kadang menarik diri dan sulit dijangkau, kadang gampang meledak. Mungkin penyakit itu membuatnya jadi sulit diandalkan, atau sulit dipahami anak, atau menakutkan dalam kondisi tertentu. Kamu sedang berusaha mencari tahu apa yang harus disampaikan kepada anakmu, bagaimana membantunya menghadapi orang tua yang suasana hati dan perilakunya bisa membingungkan, dan bagaimana menyeimbangkan rasa iba pada orang yang sakit dengan tugas melindungi anakmu.
Tulisan ini berpasangan dengan artikel soal kecanduan, dan banyak yang beririsan, tapi penyakit mental punya teksturnya sendiri. Sering kali ia lebih kronis dan tidak terlalu bersiklus seperti kecanduan, bukan soal hadir atau tidak hadir, melainkan soal orang tua yang hadir tapi sedang tidak sehat dengan cara yang harus dilalui anak. Dan penyakit mental membawa stigmanya sendiri, yang membuat bagian rasa iba ini jadi sangat penting. Seperti seluruh isi modul ini, tulisan ini memegang dua hal sekaligus, bahwa penyakit mental adalah penyakit yang layak menerima rasa iba, dan bahwa dampaknya pada anak harus ditanggapi dengan serius.
Kalau kamu tidak aman dalam hubunganmu, atau kalau kamu khawatir akan keselamatan anak, artikel ini bukan tempat yang tepat untuk memulai. Layanan SAPA 129 (telepon 129, WhatsApp 08111-129-129) bisa mendampingimu. Sisa pustaka ini akan tetap ada saat kamu sudah siap.
Garis keselamatan, sekali lagi
Seperti pada kecanduan, ada satu garis yang tidak akan coba dipandu oleh artikel ini. Kalau penyakit mental Co-Parent kamu sampai membuat anakmu tidak aman dalam pengasuhannya, lewat penelantaran, lewat perilaku yang menakutkan atau berbahaya, lewat risiko apa pun yang sungguh-sungguh mengancam anak, itu sudah jadi urusan para profesional: dokter kamu, advokat keluarga terkait perlindungan hukum bagi anak, layanan perlindungan anak saat seorang anak berada dalam risiko, dan layanan krisis kesehatan jiwa saat ada nyawa yang terancam.
Penting untuk kita jelas dan tidak menstigma di sini. Sebagian besar orang yang hidup dengan penyakit mental bukanlah orang yang berbahaya, dan punya penyakit mental tidak menjadikan seseorang orang tua yang tidak aman. Mayoritas besar orang tua dengan penyakit mental menyayangi dan merawat anak-anak mereka, dan penyakit itu memengaruhi pengasuhan dengan cara yang sulit tapi tidak berbahaya. Garis keselamatan itu bukan soal penyakit mental secara umum; ia soal situasi khusus, apa pun penyebabnya, di mana seorang anak sungguh-sungguh berada dalam risiko, dan situasi itu jadi urusan para profesional. Dengan garis itu dipegang, sisa tulisan ini adalah tentang situasi yang jauh lebih umum: seorang anak dengan orang tua yang penyakit mentalnya membuat pengasuhan jadi lebih sulit dan hubungan jadi lebih membingungkan, di mana pertanyaannya adalah bagaimana membantu anak menghadapinya.
Apa yang perlu dipahami anak
Anak dengan orang tua yang sakit jiwa sering kali sedang berusaha memahami orang tua yang perilaku, suasana hati, dan keberadaannya membingungkan dan tidak konsisten dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh anak. Orang tua yang penuh kasih di satu hari dan tidak terjangkau di hari berikutnya, yang kadang seperti bukan dirinya sendiri, yang berperilaku dengan cara yang membuat anak bingung atau takut. Tanpa bantuan, anak-anak cenderung menariknya ke diri sendiri, menyimpulkan bahwa merekalah penyebab kondisi orang tua itu, atau bahwa mereka bisa memperbaikinya, atau bahwa orang tua yang menarik diri berarti mereka tidak disayangi.
Kejujuran yang sesuai usia, dibingkai sebagai penyakit, membantu sama seperti pada kecanduan. Anak bisa diberi tahu bahwa orang tuanya punya penyakit, penyakit yang memengaruhi perasaan dan suasana hatinya dan kadang cara dia berperilaku, bahwa itu bukan salah anak, bahwa anak tidak bisa menyebabkannya maupun menyembuhkannya, dan bahwa orang tua itu menyayanginya bahkan saat penyakit itu membuatnya sulit menunjukkannya. Bunda punya penyakit yang kadang memengaruhi cara dia merasa dan berperilaku. Itu bukan salahmu, kamu tidak menyebabkannya, dan kamu tidak bisa memperbaikinya. Bunda sayang kamu, bahkan di hari-hari saat penyakit itu membuatnya sulit menunjukkannya seperti yang dia mau. Ini memberi anak sebuah kerangka yang melepaskan rasa bersalah, melepaskan beban untuk memperbaiki, dan melindungi rasa bahwa dirinya disayangi.
Ada dua pesan yang sangat penting bagi anak dari orang tua yang sakit jiwa. Pertama, bukan tugasmu untuk merawat orang tuamu. Anak-anak dari orang tua yang sakit jiwa kerap tergelincir ke peran perawat, mencoba mengelola suasana hati orang tua, menjadi perawat cilik, mengorbankan masa kecil mereka untuk menjaga orang dewasa yang sedang sakit. Mereka butuh izin yang gamblang dan diulang-ulang untuk tidak memikul itu, bahwa penyakit orang tua adalah urusan orang dewasa untuk diatasi, bahwa tugas anak hanyalah menjadi anak. Kedua, kamu tidak bisa memperbaikinya, dan kamu tidak harus. Anak yang percaya bahwa ia seharusnya bisa membuat orang tuanya membaik memikul beban yang mustahil; mengangkat beban itu dari pundaknya adalah sebuah kebaikan.
Seperti pada kecanduan, anak tidak perlu detail klinis, diagnosisnya, kekhususan penyakitnya, kenyataan-kenyataan orang dewasa. Yang mereka perlukan adalah bingkai penyakit yang sesuai usia, pelepasan rasa bersalah, perlindungan atas rasa bahwa dirinya disayangi, dan izin untuk tidak menjadi perawat bagi orang tuanya. Detailnya adalah urusan orang dewasa; kerangkanya adalah apa yang dibutuhkan anak.
Rasa iba dan keselamatan bersama-sama
Keseimbangan pada penyakit mental condong jauh ke arah rasa iba, karena stigmanya begitu kuat dan penyakit itu sungguh-sungguh bukan salah orangnya, sembari tetap memegang kesejahteraan anak sebagai batasannya.
Bagian rasa iba ini penting karena penyakit mental sangat distigma, dan seorang anak bisa menyerap pesan-pesan yang merusak, bahwa orang tuanya gila, berbahaya, memalukan, bahwa anak ikut tercemar karena hubungan itu, bahwa penyakit itu salah orang tuanya. Melawan ini dengan bingkai yang penuh iba dan tidak menstigma akan melindungi sekaligus hubungan anak dengan orang tuanya dan rasa anak terhadap dirinya sendiri. Orang tua itu punya penyakit, seperti penyakit lainnya, yang bukan salahnya dan tidak menjadikannya orang jahat ataupun menjadikan anak tercemar. Bingkai yang penuh iba ini lebih sehat bagi anak daripada bingkai yang menstigma.
Pada saat yang sama, rasa iba tidak menuntut anak untuk menyerap hal yang merusak, dan kesejahteraan anak tetap menetapkan batasan. Seorang anak bisa punya rasa iba yang dalam terhadap orang tua yang sakit dan sekaligus butuh perlindungan dari dampak-dampak penyakit yang lebih berat, butuh perasaannya sendiri diakui, butuh batasan saat penyakit itu membuat perilaku orang tua sungguh-sungguh berat baginya. Rasa iba pada orang tua dan perlindungan pada anak bisa hidup berdampingan. Kamu memegang bingkai yang penuh iba dan tidak menstigma itu, dan kamu melindungi kesejahteraan anak saat dampak penyakit itu menuntutnya.
Saat penyakit itu membuat perilaku orang tua terhadap anak sungguh-sungguh merugikan, bahkan tanpa naik ke tingkat darurat keselamatan, perangkat yang sama yang ditawarkan modul ini bisa dipakai: artikel tentang saat anak pulang dengan keadaan terguncang, tulisan tentang membatasi kontak dengan aman, panduan tentang dukungan profesional. Rasa iba pada penyakit itu tidak berarti anak harus sekadar menahan apa pun yang dihasilkan penyakit itu; ia berarti langkah-langkah perlindungan diambil dengan pengertian, bukan dengan penghakiman.
Memegang hubungan sekaligus kenyataan
Penyakit mental sering kali kronis, dan itu membentuk pandangan jangka panjang. Berbeda dengan situasi yang mungkin berakhir, penyakit mental yang kronis bisa jadi adalah kenyataan yang terus berjalan, yang dilalui anak sambil tumbuh besar di sampingnya. Ini menuntut sikap jangka panjang yang berkelanjutan, bukan sikap darurat krisis.
Saat orang tua itu aman dan hubungannya berharga bagi anak, mempertahankannya, dengan struktur dan dukungan apa pun yang dibutuhkan situasi, sering kali memang tepat, karena orang tua itu tetaplah orang tua si anak dan banyak anak dari orang tua yang sakit jiwa punya hubungan yang bermakna dan penuh kasih dengan mereka. Hubungan itu mungkin punya masa-masa sulit yang terikat dengan penyakitnya, dan mungkin butuh dukungan serta struktur, tapi ia tidak serta-merta jadi berkurang nilainya hanya karena penyakit itu ada.
Dan kamu memegang kenyataan bersama-sama. Penyakit itu mungkin dikelola dengan baik, dengan pengobatan, dan pengasuhannya mungkin sebagian besar stabil, dan itu layak diharapkan dan didukung. Atau penyakit itu mungkin tidak terkelola dengan baik atau parah, dan batasannya mungkin perlu lebih tegas, dan itu adalah kenyataan yang perlu disiapkan. Banyak orang tua dengan penyakit mental, terutama dengan pengobatan, mengasuh dengan baik, dan memegang harapan untuk itu adalah hal yang masuk akal. Memegang persiapan yang realistis untuk versi yang lebih sulit juga merupakan kebijaksanaan. Keduanya, bersama-sama, lebih berkelanjutan daripada penyangkalan atau keputusasaan.
Untuk dirimu sendiri, kalau memegang semua ini terasa terlalu berat, ada dukungan. Untuk dukungan emosional atau saat semuanya terasa terlalu berat, kamu bisa menghubungi Puskesmas atau dokter keluargamu sebagai titik awal, dan mereka bisa merujukmu ke layanan kesehatan jiwa. Yayasan Pulih juga menyediakan pendampingan psikososial bagi keluarga yang sedang melalui penyakit mental orang yang dikasihi. Titik awal untuk dukunganmu sendiri itu penting, bukan hanya untuk anak.
Penutup
Penyakit mental pada seorang Co-Parent berbeda dari kecanduan dalam hal ia sering kali lebih kronis, orang tua yang hadir tapi sedang tidak sehat dan bukannya tidak ada, dan ia membawa stigma yang membuat rasa iba jadi sangat penting. Garis keselamatan, saat seorang anak sungguh-sungguh berada dalam risiko, jadi urusan para profesional, sembari tetap jelas bahwa penyakit mental secara umum tidak menjadikan seseorang berbahaya atau orang tua yang tidak aman. Bingkai penyakit yang sesuai usia membantu anak memahami orang tua yang membingungkan tanpa menyalahkan dirinya sendiri, dengan dua pesan yang sangat penting: bukan tugas anak untuk merawat orang tuanya, dan ia tidak bisa dan tidak harus memperbaikinya. Rasa iba pada orang tua yang sakit dan perlindungan atas kesejahteraan anak bisa hidup berdampingan, dengan langkah-langkah perlindungan diambil dengan pengertian, bukan dengan penghakiman. Dan pandangan jangka panjang memegang dua hal sekaligus, harapan akan penyakit yang terkelola dengan baik dan persiapan yang realistis untuk versi yang lebih sulit.
Kamu sedang membantu anakmu menyayangi dan memahami orang tua yang penyakitnya membuat pengasuhan jadi sulit. Beri dia kerangka yang penuh iba dan bebas dari rasa bersalah, lindungi dia dari memikul apa yang bukan miliknya, dan pegang sekaligus harapan dan kenyataan yang dituntut oleh sebuah penyakit kronis.
Orang tua anakmu punya penyakit, bukan cacat watak, dan anakmu bukanlah penyebabnya maupun penyembuhnya. Beri dia rasa iba yang bebas dari rasa bersalah, perlindungan di mana dia membutuhkannya, dan kebebasan dari peran perawat yang memang tidak pernah jadi miliknya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.