dip
Belikan Kopi
Modul 14 · Kehidupan emosi anak Anda

Saat anakmu mengidealkan masa-masa dulu

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia10 menit baca
Saat anakmu mengidealkan masa-masa dulu

Saat anakmu mengidealkan masa-masa dulu

Modul 14 · Kehidupan emosi anakmu · Artikel 03 · Wave 2 · untuk semua usia


Pagi Sabtu. Di dapur. Anakmu yang berumur delapan tahun berdiri di dekat meja, membantumu membuat panekuk. Sedari tadi dia mengoceh terus. Lalu, di tengah-tengah mengaduk, dengan suara yang ceria dengan cara yang tidak betul-betul sepadan dengan percakapannya, dia berkata, Bunda ingat nggak dulu kita selalu makan panekuk bareng pagi Sabtu, pas kita masih tinggal di rumah lama? Itu paling enak deh.

Kamu sedang memegang wajan. Kamu merasakan ada sesuatu yang menegang di bawah tulang dadamu.

Sebenarnya kamu tidak ingat Sabtu-Sabtu berpanekuk itu sebagai sesuatu yang paling enak. Yang kamu ingat, tahun-tahun sebelum perpisahan itu kebanyakan terasa berat. Sabtu-Sabtu itu kadang baik-baik saja, kadang tegang, kadang justru pagi setelah pertengkaran panjang semalamnya. Yang kamu ingat, kamu berjalan seperti di atas kulit telur. Yang kamu ingat, kamu merasa lega saat anak-anak tenggelam dengan sesuatu, supaya kamu tidak perlu berpura-pura.

Tapi anakmu yang berumur delapan tahun itu, dia mengingat sesuatu yang lain. Dia mengingat keluarga yang dulu pernah ada. Dia sudah merapikan memori itu. Versi yang dia pegang sekarang adalah versi yang sebenarnya tidak persis seperti yang dia ceritakan.

Inilah artikel tentang momen panekuk itu. Tentang apa yang sedang anakmu lakukan saat dia mengidealkan masa lalu. Tentang kenapa mengoreksinya adalah langkah yang keliru. Dan tentang bagaimana memegang duka orang tua yang ikut muncul di sampingnya.

Apa yang sedang terjadi

Anak-anak, dalam bulan-bulan dan tahun-tahun setelah sebuah perpisahan, kadang melewati satu fase mengidealkan struktur keluarga yang dulu. Fase ini tidak terus-menerus. Ia datang dan pergi. Pada sebagian anak ia lebih kuat daripada yang lain. Sering kali ia memuncak di suatu titik antara enam dan dua puluh empat bulan setelah perpisahan, meski ia bisa muncul lagi belakangan, terutama di momen-momen perubahan keluarga (pasangan baru, Co-Parent yang sedang berjuang, hari raya besar).

Apa yang sedang dilakukan pengidealan ini, secara struktur:

Ia bagian dari kerja integrasi. Anak itu sedang menyusun sebuah cerita tentang apa keluarganya dulu, apa yang terjadi padanya, dan apa yang dia miliki sekarang. Cerita itu bukan rekaman forensik. Ia sebuah gerak mencari makna. Sedikit perapian memang bagian dari cara seorang anak bisa memegang kehilangan itu.

Ia gerak menjaga ikatan. Anak itu sudah kehilangan sesuatu, yaitu keluarga yang dulu, dan kehilangan itu nyata. Pengidealan itulah caranya berpegang pada hal yang sudah hilang. Dulu kita selalu makan panekuk bareng sebagiannya adalah tindakan kasih sayang terhadap satu versi keluarga yang sudah tiada.

Ia kadang sebuah protes kecil. Itu paling enak bisa jadi cara diam-diam anak itu berkata aku kangen masa itu, dan aku nggak yakin aku boleh bilang kalau aku kangen. Cara dia menyusun kalimatnya lembut dengan sengaja. Ia sebuah penjajakan yang halus.

Ia kadang sebuah permintaan. Dulu kita selalu makan panekuk bisa juga menjadi permintaan tidak langsung untuk lebih banyak panekuk. Anak itu berharap keluarga yang baru ini punya lebih banyak ritual yang dia ingat dari yang lama. Pengidealan itu permukaannya; di bawahnya ada keinginan akan sesuatu yang masih bisa dia dapatkan.

Ia hampir tidak pernah menjadi vonis terhadap masa kini. Seorang anak yang mengidealkan masa lalu biasanya tidak bermaksud keluarga yang sekarang ini lebih buruk. Yang dia maksud adalah aku kangen apa yang dulu ada. Keduanya bukan pernyataan yang sama, walaupun terdengar mirip.

Apa kata naluri, dan kenapa itu keliru

Naluri orang tua yang kuat, saat seorang anak mengidealkan masa lalu, adalah untuk mengoreksinya.

Eh, sebenarnya dulu nggak seenak itu kok. Kamu ingat nggak Bunda sama Ayah dulu sering banget berantem? Ingat nggak makan siang Minggu pun nggak bisa tenang, mesti ada aja yang meledak?

Respons ini terasa jujur. Ia juga, hampir selalu, langkah yang keliru. Ada beberapa alasannya.

Anak itu tidak sedang minta ketepatan. Dia bukan sedang menulis makalah sejarah. Dia sedang mencari makna. Mengoreksi catatan sejarah itu mengganggu kerja mencari makna dan tidak menghasilkan apa-apa yang berguna.

Ia memposisikan kamu melawan keluarga yang sudah hilang. Keluarga yang dulu itu mencakup kedua orang tua. Mengoreksi pengidealan itu memosisikan kamu sebagai orang tua yang berkata keluarga itu buruk. Anak itu membaca ini sebagai vonis atas satu versi hidup yang dia sayangi. Dia merasa vonis itu mengenai dirinya juga, karena dia pun ada di dalam keluarga itu.

Ia bisa mendarat sebagai protes tentang keluarga yang sekarang. Seorang orang tua yang dengan tajam mengoreksi versi masa lalu yang diidealkan itu, dalam pembacaan anaknya, juga sedang membela masa kini. Nggak, sekarang lebih baik kok. Pembelaan atas masa kini itu bisa mendarat sebagai permintaan supaya anak itu setuju bahwa keadaan sekarang lebih baik, dan itu lebih dari apa yang sedang diminta darinya.

Ia bisa menimbulkan rasa malu. Anak itu baru saja membuka sebuah momen lembut tentang kerinduan. Koreksi itu membingkai kerinduan tersebut sebagai tidak akurat, dan itu menimbulkan perasaan bahwa dia seharusnya tidak merindukannya. Dia akan menarik diri dari berbagi perasaan serupa di lain waktu.

Langkah yang tepat bukan menyetujui pengidealan itu, bukan pula mengoreksinya. Langkah yang tepat adalah menerimanya.

Apa yang kamu lakukan

Lima praktik.

Terima tanpa menyetujui. Iya, Bunda ingat panekuk itu. Itu sudah cukup. Kamu mengiyakan memori itu tanpa menyetujui bahwa itu yang paling enak. Kamu tidak berbohong. Panekuk itu memang pernah ada. Kamu cuma membiarkan memori menjadi memori.

Jangan koreksi catatan sejarah. Koreksi yang kamu punya itu memang tepat. Tapi pada momen ini, ia tidak berguna. Versi sejarah keluarga yang akurat itu untuk percakapan di masa depan, dalam suasana hati yang berbeda, mungkin bertahun-tahun dari sekarang saat anak itu sudah lebih besar dan sedang menanyakan pertanyaan yang lain. Sekarang bukan saatnya untuk percakapan itu.

Jangan pantulkan duka itu balik ke anak. Seorang orang tua yang mendengar itu paling enak lalu menjawab aduh, Sayang, Bunda juga kangen sudah menjadikan momen itu tentang dirinya sendiri. Anak itu sedang berbagi satu memori kecil yang lembut. Duka orang tua, kalau diluapkan pada volume yang sama, akan menguasai seluruh ruangan. Anak itu akan mencatat bahwa berbagi memori memunculkan kesedihan orang tuanya, dan itu membuatnya berhenti berbagi.

Berpaling ke masa kini. Bunda ingat panekuk itu. Yang ini juga enak lho. Peralihan yang lembut itu tidak menyangkal masa lalu. Ia cuma membawa percakapan kembali ke masa kini, tempat anak itu sedang hidup sekarang. Masa kini punya kebaikannya sendiri, walaupun berbeda dari apa yang sedang diidealkannya.

Kalau ada permintaan yang bisa ditindaklanjuti di bawahnya, anggap serius. Kadang dulu kita selalu makan panekuk adalah keinginan supaya rumah ini punya lebih banyak ritual pagi Sabtu. Kadang ia keinginan untuk melakukan sesuatu yang spesifik. Kadang ia keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Co-Parent, melakukan apa yang dulu biasa mereka lakukan. Keinginan yang bisa ditindaklanjuti itu layak ditangkap. Kamu kangen acara besar pagi Sabtu ya. Mau nggak kita bikin itu jadi lebih sering di sini? Kalau jawabannya iya, kamu bangun itu. Ritual baru, di rumah ini, adalah sebentuk pemulihan.

Saat pengidealan itu menjadi lebih tajam

Kebanyakan pengidealan bersifat lembut. Komentar soal panekuk itu. Sebutan biasa tentang rumah lama. Keinginan supaya sesuatu yang spesifik kembali.

Kadang pengidealan itu menjadi lebih tajam. Aku pengen kita masih tinggal bareng. Aku mau Bunda sama Ayah balikan. Kenapa sih kita nggak bisa jadi keluarga yang normal lagi?

Yang ini lebih sulit diterima tanpa tersentak. Responsnya mirip, hanya dengan satu tambahan.

Akui keinginan itu. Bunda tahu. Itu hal yang besar untuk diinginkan. Wajar banget kamu mau itu. Kamu tidak menjanjikannya. Kamu mengiyakan bahwa keinginan itu masuk akal.

Sebutkan kebenarannya dengan lembut. Bunda sama Ayah nggak akan balikan. Beginilah keadaannya sekarang. Diucapkan singkat. Tanpa permintaan maaf. Tanpa penjelasan. Kenyataan tetap kenyataan. Kamu memegangnya tanpa melembutkannya sampai hilang gunanya.

Beralih ke masa kini tanpa mengecilkan keinginan itu. Dan kita punya sesuatu yang baik di sini, walaupun ini bukan yang mungkin kamu harapkan. Kita bisa bikin versi ini berhasil. Peralihannya sama seperti tadi, hanya pada volume emosi yang lebih tinggi.

Jangan janjikan hal yang tidak bisa kamu tepati. Jangan bilang mungkin suatu hari nanti. Jangan bilang siapa tahu. Jangan bilang kita lihat nanti. Itu kata-kata pelembut yang memasang harapan palsu. Anak itu, pada suatu momen nanti, akan menyadari bahwa pelembut itu sebuah kebohongan. Kesadaran itu akan menghasilkan kehilangannya sendiri.

Kalau pengidealan itu lebih tajam dan lebih berlarut, dengan anak itu kembali ke sana setiap minggu, dengan intensitas, selama beberapa bulan, langkah yang tepat adalah menghadirkan dukungan. Modul 14 Artikel 07 (Soal terapi) membahas kapan terapi menjadi langkah yang tepat. Versi yang berlarut seperti ini termasuk pola yang biasa ditangani dengan baik oleh para terapis.

Saat pengidealan itu juga sebuah kritik

Sebuah variasi yang spesifik. Kadang pengidealan itu bukan sekadar nostalgia; ia menusuk. Dulu kita makan panekuk bareng, dan Bunda nggak nyuruh aku bikin sarapan sendiri. Versi yang diingat itu sedang bekerja sebagai perbandingan terhadap orang tua yang sekarang.

Naluri di sini adalah untuk membela diri. Bunda lagi bikin panekuk juga kok sekarang, kamu ngomong apa sih. Pembelaan itu adil, tapi tidak berguna.

Langkah yang lebih baik adalah membaca apa yang ada di bawah perbandingan itu. Anak itu biasanya sedang memberitahumu satu dari tiga hal:

  • Aku mau lebih banyak perhatian darimu daripada yang aku dapat sekarang (perbandingan itu tuasnya)
  • Aku marah soal sesuatu yang spesifik yang belum muncul (perbandingan itu permukaan dari kemarahan itu)
  • Aku sedang melewati momen yang berat dan aku mengarahkannya ke orang yang paling dekat (perbandingan itu cuma bahan yang kebetulan ada)

Responsnya untuk ketiganya mirip. Hei. Cerita dong ke Bunda ada apa sama kamu. Panekuk ini kayaknya soal sesuatu yang lebih besar deh. Diucapkan dengan tenang, bukan dengan defensif. Kamu sedang membuka sebuah pintu. Anak itu mungkin masuk lewat pintu itu, mungkin juga tidak. Kalau dia masuk, kamu akan mendapat gambaran yang lebih jelas tentang apa sebenarnya yang sedang dia katakan.

Duka sejajar pada orang tua

Sebuah catatan yang harus disebut di sini, karena momen panekuk itu menyentuhnya.

Saat anakmu mengidealkan satu versi keluarga yang mencakup versi dirimu yang telah kamu tinggalkan, kamu bisa merasakan satu jenis duka yang tersendiri. Duka itu bukan sekadar untuk keluarga itu. Ia untuk versi dirimu yang dulu ada di keluarga itu. Dirimu yang dulu berada dalam hubungan yang berbeda. Dirimu yang dulu menjalani hidup yang berbeda. Dirimu yang saat itu belum tahu bahwa keluarga itu akan berubah.

Versi dirimu itu sudah tidak bisa diraih lagi. Pengidealan anakmu membuatnya hadir sebentar, dengan menyebutnya. Lalu ia surut kembali.

Duka ini nyata. Ia layak diberi perhatian. Tapi ia tidak layak diluapkan di momen panekuk itu.

Apa yang kamu lakukan dengan ini:

Sadari ia. Bunda lagi merasakan sesuatu sekarang. Itu versi duka-orang-tua. Itu bukan hal yang harus ditanggung anak Bunda.

Pikul ia sepanjang sisa sarapan itu. Jangan berpura-pura baik-baik saja. Jangan berpura-pura sedih. Jadilah saja orang tua yang sedang membuat panekuk, dengan sebuah perasaan di dalam dirimu yang kamu pegang secara pribadi.

Tangani ia belakangan, bukan di depan anak. Seorang teman, sebuah jurnal, seorang terapis, sebuah jalan kaki yang panjang. Duka-orang-tua tentang keluarga yang dulu layak punya saksi. Saksinya bukan anakmu.

Kalau duka-orang-tua itu berlarut, berulang, dan menimbulkan tekanan yang sungguh-sungguh, itu kerjanya yang tersendiri. Pustaka for-you/ dan Modul 09 membahas kehidupan emosi orang tua secara khusus. Kamu boleh menjadi orang tua yang juga masih berduka. Kamu tidak boleh menjadikan anakmu bertanggung jawab atas duka itu.

Penutup

Di dapur, beberapa saat kemudian. Panekuknya sudah habis dimakan. Anakmu yang berumur delapan tahun sudah pergi melakukan hal lain. Kamu sedang membilas wajan di bak cuci, air panas mengalir di atas tanganmu.

Kamu sudah berkata iya, Bunda ingat panekuk itu. Kamu sudah berkata yang ini juga enak. Kamu menuangkan jus lagi untuknya. Kamu menanyakan hal lain padanya. Percakapan itu berlanjut. Momen pengidealan itu datang dan pergi, dan tidak meninggalkan jejak yang terlihat pada pagi itu.

Yang ia tinggalkan, di dalam dirimu, adalah perasaan yang tiba di bawah tulang dadamu saat dia berkata paling enak. Perasaan itu masih ada, lebih kecil. Ia mungkin akan hilang menjelang makan siang. Kalau tidak menjelang makan siang, menjelang besok.

Jauh dari sekarang, saat anakmu sudah dewasa, dia tidak akan mengingat komentar soal panekuk itu. Dia akan punya satu hubungan dengan memorinya sendiri tentang masa kecilnya. Apakah dia boleh mengingatnya sebagaimana dia ingin mengingatnya. Apakah cerita-ceritanya tentang siapa keluarganya bisa ada tanpa dikoreksi. Apakah rumah yang dulu dia tinggali bisa memegang versi masa lalunya tanpa menjadikannya sebuah pertengkaran.

Kamu sudah memegang hari ini. Dengan membiarkan panekuk itu menjadi yang paling enak. Dengan membuatkannya panekuk yang baru. Dengan menyimpan dukamu sendiri secara pribadi. Dengan menjadi jenis orang tua yang bisa menerima sebuah memori lembut tanpa menghasilkan sebuah koreksi.

Rumah ini tetap berpegang. Kehidupan batin anakmu terus terbangun, dengan masa lalu utuh dalam bentuk yang dia inginkan.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.