dip
Belikan Kopi
Modul 16 · special needs disability and neurodivergence

Penyesuaian dan rencana dukungan di sekolah

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–1213–177 menit baca
Penyesuaian dan rencana dukungan di sekolah

Penyesuaian dan rencana dukungan di sekolah

Modul 16 · Kebutuhan khusus & neurodivergensi · Artikel 7 · Wave 3 · umur 4-17


Anak dengan kebutuhan khusus biasanya sudah punya, atau seharusnya punya, semacam pengaturan dukungan formal di sekolah, sebuah rencana yang menetapkan penyesuaian dan bantuan yang dia terima. Di Indonesia, ini bisa berarti anak bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa), atau di sekolah reguler yang menjalankan program inklusi dengan dukungan guru pendamping. Hal yang sama di mana pun ialah rencana seperti ini melibatkan pertemuan, keputusan, dan koordinasi yang terus berjalan antara keluarga dan sekolah, dan dalam pengaturan kedua rumah, itu berarti sekolah sedang bekerja dengan dua orang tua, bukan satu.

Tulisan ini soal menjalani rencana dukungan sekolah sebagai orang tua yang berpisah, memastikan kedua orang tua masuk ke dalam prosesnya, menampilkan sikap yang bisa dijalankan di hadapan sekolah, dan menangani situasi ketika kedua orang tua tidak sepakat. Mekanisme sistem rencana dukungan yang berlaku di sekolah anakmu bisa dijelaskan oleh pihak sekolah; tulisan ini soal dimensi co-parenting yang berada di atas sistem apa pun yang sedang kamu jalani.

Kedua orang tua dalam prosesnya

Prinsip pertama ialah kedua orang tua sebaiknya ikut dalam proses dukungan sekolah, bukan hanya satu. Ini penting karena beberapa alasan. Sekolah mendapat manfaat dari informasi yang datang dari kedua rumah, karena anak diamati dan didukung di dua lingkungan, dan masing-masing orang tua melihat hal yang mungkin terlewat oleh pihak lain maupun oleh sekolah. Anak pun mendapat manfaat ketika kedua orang tua memahami dan berkomitmen pada rencana dukungan itu, karena rencananya sering kali melibatkan hal yang perlu didukung oleh kedua rumah. Dan kedua orang tua sama-sama punya kepentingan yang sah, dan biasanya punya hak untuk terlibat, dalam keputusan tentang pendidikan dan dukungan bagi anak mereka.

Dalam praktiknya, ini berarti kedua orang tua diundang dan hadir di pertemuan rencana dukungan sebisa mungkin, keduanya menerima dokumen dan kabar terbaru, dan keduanya menjadi bagian dari keputusan. Proses di mana satu orang tua terlibat penuh sementara yang lain dikecualikan atau tidak hadir akan menghasilkan rencana yang hanya dipahami dan didukung oleh satu rumah, dan itu melemahkannya, serta bisa membuat orang tua yang dikecualikan merasa tersisih dari sesuatu yang penting tentang anaknya.

Memastikan kedua orang tua masuk ke dalam proses kadang-kadang butuh usaha yang disengaja, terutama kalau kebiasaan sekolah adalah berkomunikasi dengan satu orang tua saja. Ada baiknya memastikan sekolah punya nomor telepon dan alamat surel kedua orang tua, dan tahu untuk melibatkan keduanya. Sebagian besar sekolah akan menyesuaikan diri dengan permintaan ini kalau diminta, dan ini permintaan yang masuk akal. Guru pendamping dan guru BK biasanya orang yang paling tepat untuk dihubungi lebih dulu, dan artikel soal membangun hubungan dengan guru di modul Rutinitas usia sekolah membahas cara membangun hubungan dengan sekolah secara lebih luas.

Menampilkan sikap yang bisa dijalankan di hadapan sekolah

Ketika kedua orang tua ikut dalam prosesnya, muncul satu pertanyaan yang tidak ada bagi orang tua yang masih bersama: bagaimana kalian berdua terlihat di mata sekolah? Dan di sinilah tujuan yang menuntun adalah menampilkan sikap yang bisa dijalankan dan berpusat pada anak, dengan menjaga konflik apa pun yang ada di antara kalian tetap di luar pertemuan sekolah dan di luar rencana dukungan anak.

Ini bukan berarti berpura-pura jadi pasangan yang bahagia atau menyembunyikan bahwa kalian berpisah; sekolah terus-menerus berurusan dengan keluarga yang berpisah dan tidak butuh sandiwara. Maksudnya, dalam pertemuan rencana dukungan dan dalam hubungan dengan sekolah, fokus tetap pada anak dan kebutuhannya, dan konflik orang tua tidak membajak prosesnya. Pertemuan yang berubah menjadi ajang bagi orang tua untuk bertengkar, mencari menang, atau saling menjatuhkan adalah pertemuan yang mengecewakan anak, karena energi yang seharusnya dipakai untuk merancang dukungan yang baik malah habis untuk mengelola perselisihan orang tua. Pihak sekolah, yang hadir demi anak, akhirnya jadi wasit di antara dua orang dewasa alih-alih membantu seorang murid.

Jadi disiplinnya ialah datang ke proses sekolah sebagai dua orang tua yang, apa pun yang sebenarnya terjadi di antara kalian, sehaluan dalam menginginkan dukungan terbaik bagi anak. Kalian boleh berbeda pendapat soal hal-hal yang spesifik dan menyelesaikannya, tapi perbedaan itu tetap bersikap profesional dan berpusat pada anak, bukan menjadi pribadi dan saling menyerang. Sekolah yang melihat dua orang tua bekerja sama untuk dukungan anak mereka, bahkan dua orang tua yang jelas-jelas berpisah, bisa menjalankan tugasnya. Sekolah yang terjebak di tengah konflik orang tua justru kesulitan melakukannya.

Sebisa mungkin, sedikit koordinasi sebelum pertemuan itu membantu, kedua orang tua menyamakan pandangan lebih dulu soal poin-poin utama, supaya pertemuannya sendiri lebih mulus dan perbedaan apa pun setidaknya sudah diketahui sebelumnya alih-alih meledak di depan sekolah. Ini tidak selalu bisa dilakukan, tapi kalau memungkinkan, hal ini membuat pertemuan jauh lebih produktif.

Ketika orang tua berselisih di hadapan sekolah

Kadang-kadang orang tua memang benar-benar berbeda pendapat soal dukungan untuk anak, dan perbedaan itu berisiko tampil di lingkungan sekolah. Satu orang tua ingin dukungan yang lebih banyak, yang lain merasa itu tidak perlu. Yang satu menerima rencananya, yang lain menolak. Perbedaan itu nyata dan tidak punya tempat lain yang jelas selain pertemuan tempat rencana itu diputuskan.

Beberapa hal bisa membantu di sini. Pertama, perbedaan itu lebih baik diselesaikan di antara orang tua, dengan bantuan profesional kalau perlu, ketimbang diselesaikan di depan sekolah, karena lingkungan sekolah bukan tempat untuk menyelesaikan perselisihan orang tua dan rencana anak tidak seharusnya menjadi korbannya. Ketika orang tua buntu, jalur mediasi dan, untuk keputusan pendidikan, pemahaman tentang kerangka pengambilan keputusan yang kalian jalankan, lebih tepat daripada mengubah pertemuan dukungan menjadi sebuah pertandingan.

Kedua, pihak sekolah adalah orang-orang profesional yang sering kali bisa membantu, dengan lembut, dengan menjaga pertemuan tetap berfokus pada kebutuhan anak yang sebenarnya dan pada apa yang ditunjukkan oleh bukti, bukan pada sikap orang tua. Guru pendamping atau guru BK yang cakap kadang-kadang bisa meredakan perbedaan pendapat orang tua dengan menambatkan semuanya kembali ke anak. Membiarkan mereka memainkan peran itu, alih-alih menekan mereka secara konfrontatif, bisa jadi produktif.

Ketiga, kalau salah satu orang tua sama sekali tidak menerima diagnosis atau kebutuhan anak akan dukungan, itulah situasi yang lebih dalam yang dibahas oleh tulisan khusus soal ketika salah satu orang tua tidak menerima diagnosis, dan biasanya hal itu perlu diselesaikan di tingkat tersebut dulu sebelum perselisihan soal rencana sekolah bisa reda. Perselisihan soal sekolah sering kali hanya gejala dari perselisihan yang lebih besar itu.

Sepanjang waktu, anak tidak seharusnya terjebak dalam atau memikul beban perselisihan orang tua soal dukungan sekolahnya. Anak yang merasa bahwa rencana dukungannya menjadi sumber konflik antara orang tuanya bisa merasa bahwa kebutuhannya adalah sebuah masalah, dan itu bentuk luka tersendiri. Menjaga perselisihan itu tetap di ranah orang dewasa dan profesional melindungi anak dari memikulnya.

Hal-hal praktis untuk konteks Indonesia

Beberapa hal ada baiknya diurus lebih awal. Surat keterangan dokter, hasil asesmen psikolog, atau laporan dari ahli yang mendiagnosis anakmu membantu sekolah memahami profilnya dan menjadi dasar bagi penyesuaian yang diberikan. Bagi anak penyandang disabilitas, dokumen seperti kartu penyandang disabilitas atau surat keterangan dari Dinas Sosial juga bisa membuka akses ke sejumlah layanan dan penyesuaian formal.

Untuk anak yang lebih besar yang akan menghadapi ujian sekolah atau asesmen kelulusan, penyesuaian seperti tambahan waktu, ruang terpisah, atau bantuan pendamping bisa diajukan ke pihak sekolah dan, bila diperlukan, ke Dinas Pendidikan berdasarkan dokumentasi yang sama. Pengajuan seperti ini biasanya perlu dimulai jauh hari, jadi ada baiknya membahasnya dengan guru pendamping dan guru BK satu atau dua tahun sebelumnya, bukan beberapa bulan menjelang ujian. Kedua orang tua sebaiknya tahu tentang pengajuan ini dan mendukungnya, karena penyesuaian seperti ini melekat pada anak, bukan pada satu rumah saja.

Penutup

Anak dengan kebutuhan khusus biasanya punya pengaturan dukungan sekolah yang formal, di Indonesia bisa melalui SLB atau program inklusi di sekolah reguler, dan dalam keluarga dengan kedua rumah, itu berarti sekolah bekerja dengan kedua orang tua. Kedua orang tua sebaiknya ikut dalam prosesnya, hadir di pertemuan, menerima dokumen, menjadi bagian dari keputusan, karena sekolah mendapat manfaat dari informasi kedua rumah dan anak mendapat manfaat ketika kedua orang tua memahami dan mendukung rencananya. Tujuannya ialah menampilkan sikap yang bisa dijalankan dan berpusat pada anak, dengan menjaga konflik orang tua tetap di luar pertemuan sekolah, idealnya dengan sedikit koordinasi sebelum pertemuan penting. Dan ketika orang tua memang berbeda pendapat, penyelesaiannya ada di antara orang dewasa dan profesional, bukan diperjuangkan di depan sekolah atau dipikul oleh anak.

Dukungan sekolah bagi anakmu paling kuat ketika sekolah melihat dua orang tua sehaluan dalam membantunya, apa pun yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Bawa kedua rumah masuk ke dalam prosesnya, jaga fokus tetap pada anak, dan biarkan rencananya menjadi soal kebutuhannya, bukan soal perselisihan kalian.

Sekolah bisa membangun dukungan yang baik di sekitar anak yang kedua orang tuanya datang sehaluan dalam membantunya. Jaga fokus pada kebutuhan anakmu, dan rencananya akan melayani anak, bukan konflik.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.