dip
Belikan Kopi
Modul 16 · special needs disability and neurodivergence

Perbedaan cara belajar dan jam mengerjakan PR

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–126 menit baca
Perbedaan cara belajar dan jam mengerjakan PR

Perbedaan cara belajar dan jam mengerjakan PR

Modul 16 · Kebutuhan khusus & neurodivergensi · Artikel 5 · Wave 2 · usia 4-12


Untuk anak dengan perbedaan cara belajar, disleksia, diskalkulia, perbedaan dalam memproses informasi, atau salah satu dari sekian banyak cara otak bisa terhubung untuk belajar secara berbeda, jam mengerjakan PR bisa menjadi jam yang paling sulit sepanjang hari. Apa yang bagi anak lain selesai dalam dua puluh menit, bagi dia memakan dua jam penuh perjuangan. Air mata, rasa frustrasi, sikap menghindar, dan stres orang tua yang ikut menumpuk mengubah meja makan menjadi titik ledakan setiap malam. Dan dalam pengaturan kedua rumah, titik ledakan itu terjadi di dua dapur, kadang ditangani dengan cara yang sangat berbeda.

Tulisan ini khusus soal jam mengerjakan PR, karena di situlah perbedaan cara belajar muncul paling tajam dalam kehidupan sehari-hari di rumah, dan karena di situlah orang tua bisa berbuat kebaikan yang nyata atau justru kerusakan yang nyata, tergantung bagaimana dia menanganinya. Prinsip penuntunnya layak disebut sejak awal: lindungi hubungan, bukan lembar PR-nya. Hubungan antara kamu dan anakmu jauh lebih berharga daripada PR mana pun, dan ketika keduanya berbenturan, hubungan itulah yang menang.

Kenapa PR begitu sulit

Anak dengan perbedaan cara belajar bekerja lebih keras daripada teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas yang sama, sering kali jauh lebih keras, dan sering sambil menyadari bahwa dia sedang berjuang dengan sesuatu yang dianggap mudah oleh orang lain. PR yang dirancang untuk anak yang belajar secara umum bisa benar-benar tidak cocok dengan cara kerja otaknya, yang berarti jam mengerjakan PR menuntut dia melakukan sesuatu yang sulit, kadang memalukan, di penghujung hari sekolah yang sudah menyita lebih banyak tenaga daripada yang dikeluarkan teman-temannya.

Inilah sebabnya PR begitu sering menghasilkan air mata, rasa frustrasi, dan sikap menghindar pada anak-anak ini. Sikap menghindar itu terutama mudah disalahartikan sebagai malas atau membangkang, padahal biasanya itu adalah keengganan yang sangat masuk akal dari seorang anak untuk melakukan sesuatu yang sulit dan membuatnya merasa buruk tentang dirinya sendiri. Membaca perjuangan dengan PR sebagai informasi, anak yang sedang memberi tahumu ini benar-benar sulit buat aku, bukan sebagai kenakalan, adalah langkah pertama untuk menanganinya dengan baik.

Tulisan tentang penyesuaian di sekolah dalam modul ini membahas bagaimana sisi sekolah bisa disesuaikan agar lebih cocok dengan anak, yang merupakan bagian dari jawaban jangka panjang. Tulisan ini membahas sisi rumah, yaitu jam yang sebenarnya di meja itu.

Lindungi hubungan, bukan lembar PR-nya

Inilah langkah intinya. Ketika jam mengerjakan PR menghasilkan konflik, air mata, dan stres, PR itu tidak sepadan dengan rusaknya hubunganmu dengan anakmu. Orang tua yang berubah menjadi mandor tugas yang penuh stres setiap malam, yang bertengkar dengan anak di setiap soal, yang menjadikan jam mengerjakan PR sebagai waktu konflik, sedang membayar lembar PR yang selesai itu dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu perasaan anak bahwa rumah adalah tempat yang aman dan bahwa orang tuanya ada di pihaknya.

Ini bukan berarti PR tidak penting atau kamu lantas membiarkan semuanya terbengkalai. Ini berarti ketika PR dan hubungan berbenturan, kamu melindungi hubungan. Secara praktik, ini terlihat seperti tetap tenang bahkan saat anaknya tidak tenang, menjaga jam mengerjakan PR seminim mungkin stresnya, tahu kapan harus berhenti sebelum semuanya jadi merusak, dan bersedia membiarkan satu PR menjadi tidak sempurna atau tidak selesai daripada menggilas anak dan dirimu sendiri sampai habis demi PR itu.

Ini juga berarti tetap berada di pihak anak alih-alih menjadi musuh PR-nya. Kamu dan anak melawan tugas yang sulit, bukan kamu melawan anak karena tidak mengerjakan tugas. Anak yang merasakan orang tuanya sebagai sekutu yang mendukung dalam hal yang sulit jauh lebih baik keadaannya daripada anak yang merasakan orang tuanya sebagai sumber tekanan dan penghakiman tambahan. Persekutuan itu lebih berguna daripada pemaksaan.

Dan ini berarti berkomunikasi dengan sekolah ketika PR terus-menerus menyebabkan kesusahan sebesar ini. Anak dengan perbedaan cara belajar yang PR-nya menjadi krisis setiap malam mungkin butuh PR itu sendiri disesuaikan, dikurangi, atau disusun dengan cara berbeda, dan itu adalah percakapan dengan guru, bukan masalah yang diselesaikan dengan mendesak anak lebih keras di rumah. Tulisan-tulisan tentang hubungan dengan sekolah membahas percakapan itu.

Dukungan yang konsisten di kedua rumah

Perbedaan cara belajar memperoleh manfaat dari strategi dukungan yang konsisten, dan di kedua rumah itu berarti idealnya kedua orang tua memakai pendekatan yang selaras terhadap jam mengerjakan PR dan terhadap mendukung proses belajar anak. Anak yang mendapat bantuan PR yang tenang, terstruktur, dan mendukung di satu rumah, lalu bantuan yang penuh stres dan konflik di rumah yang lain, sedang mengalami pengalaman yang tidak konsisten, yang merusak baik proses belajarnya maupun rasa stabilnya.

Penyelarasan di sini tidak menuntut rutinitas yang persis sama, tapi memang akan terbantu oleh pemahaman bersama tentang beberapa hal yang penting: bahwa anak ini benar-benar punya perbedaan cara belajar dan bukan sedang malas, bahwa jam mengerjakan PR dijaga agar bersifat mendukung dan bukan penuh adu mulut di kedua rumah, bahwa strategi yang disarankan guru atau spesialis anak dipakai di kedua tempat, dan bahwa hubungan dilindungi di atas lembar PR di kedua rumah. Ketika kedua orang tua memegang prinsip-prinsip ini, anak membawa bantuan belajar yang konsisten dan mendukung di antara kedua rumahnya.

Ini bisa menjadi rumit ketika satu orang tua memahami dan menerima perbedaan cara belajar itu sementara yang lain tidak, mungkin meyakini anak hanya perlu berusaha lebih keras atau didesak lebih banyak. Itu situasi yang lebih sulit, yang dibahas tulisan tentang ketika salah satu orang tua tidak menerima diagnosis. Di mana situasi itu ada, anak bisa berakhir dengan bantuan yang mendukung di satu rumah dan tekanan di rumah yang lain, yang berat baginya, dan jalan keluarnya terletak pada orang dewasa yang mencapai pemahaman bersama, bukan pada anak yang harus menyerap ketidakkonsistenan itu.

Ketika kamu bukan pembantu yang tepat

Satu catatan jujur untuk jam mengerjakan PR. Kadang hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua adalah mengakui bahwa dia bukan orang yang tepat untuk membantu PR, atau tidak tepat untuk setiap mata pelajaran. Orang tua yang merasa jam mengerjakan PR begitu menegangkan sampai tidak tertahankan, yang tidak bisa tetap tenang sepanjang waktu itu, atau yang tidak punya kesabaran atau pendekatan yang dibutuhkan anak tertentu, tidak sedang gagal dengan mengakui hal itu. Kadang pembantu yang lain, Co-Parent kalau dia lebih cakap soal ini, guru les, kelompok belajar, kakak yang lebih besar, seorang spesialis, memang lebih baik untuk anak daripada orang tua yang menggilas tugas itu dalam kesusahan bersama.

Tidak ada aturan yang mengatakan orang tua harus mengawasi sendiri setiap PR. Melindungi hubungan kadang berarti mundur dari peran penegak PR dan mencarikan anak sumber bantuan yang lebih baik, sementara kamu tetap menjadi orang tua yang tenang dan mendukung yang tidak dikaitkan dengan perjuangan setiap malam itu. Itu bisa menjadi hadiah bagi kalian berdua.

Penutup

Untuk anak dengan perbedaan cara belajar, jam mengerjakan PR sering kali menjadi jam paling sulit sepanjang hari, karena dia bekerja jauh lebih keras daripada teman-temannya pada tugas yang tidak cocok dengan cara otaknya belajar, dan sikap menghindar yang muncul karenanya itu masuk akal, bukan malas. Prinsip intinya adalah melindungi hubungan, bukan lembar PR-nya: tetap tenang, menjaga jam itu seminim mungkin stresnya, tahu kapan harus berhenti, tetap di pihak anak, dan berkomunikasi dengan sekolah ketika PR menjadi krisis setiap malam. Idealnya kedua rumah memakai pendekatan yang konsisten dan mendukung, dengan situasi yang lebih sulit muncul ketika salah satu orang tua tidak menerima perbedaan cara belajar itu. Dan kadang langkah terbaik adalah mengakui bahwa kamu bukan pembantu yang tepat dan mencarikan anak sumber dukungan yang lebih baik.

Tidak ada lembar PR yang sepadan dengan hubunganmu dengan anakmu. Lindungi itu lebih dulu, jadikan jam mengerjakan PR sebuah persekutuan alih-alih ajang saling berhadapan, dan anakmu akan mendapat keduanya, yaitu dukungan yang dia butuhkan sekaligus orang tua yang tetap berada di pihaknya.

Lembar PR tidak pernah sepadan dengan hubungan itu. Tetaplah di sisi anakmu dalam menghadapi hal yang sulit, dan dia akan mendapat dukungan yang dia butuhkan tanpa kehilangan orang tua yang lebih dia butuhkan.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.