Hari raya besar pertama setelah berpisah
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Hari raya besar pertama setelah berpisah
Modul 18 · Hari libur & acara sekolah · Artikel 01 · Wave 1 · untuk semua usia
Tanggalnya makin dekat, tanggal yang dulu berarti seluruh keluarga berkumpul di satu tempat, dan tahun ini semuanya akan terasa berbeda. Hari raya besar pertama setelah perpisahan datang membawa seluruh beban dari apa yang sudah berubah. Semua orang bisa merasakan kedatangannya, anak-anak terutama, dan ada rasa cemas yang mengendap di balik segala persiapan, karena inilah perayaan saat bentuk baru keluarga ini menjadi mustahil untuk diabaikan.
Apa pun hari rayanya, perayaan tahunan besar yang menjadi alasan keluargamu berkumpul, entah itu Idul Fitri, Natal, Imlek, atau Nyepi, yang pertama setelah perpisahan adalah sebuah tonggak, dan ia memang layak diperlakukan sebagai tonggak. Inilah saat perubahan itu berhenti menjadi sesuatu yang abstrak dan menjelma jadi kenyataan yang sungguh-sungguh dirasakan, pada hari yang seharusnya membahagiakan. Melewatinya dengan baik tidak berarti membuatnya terasa seolah tidak ada yang berubah. Artinya menangani perubahan itu dengan cukup kelembutan sehingga hari itu masih bisa menyimpan kehangatan yang nyata untuk anakmu.
Yang pertama adalah tonggak duka
Ada baiknya kita menamai apa sebenarnya hari raya besar pertama itu, yaitu sebuah tonggak duka, bagi anak-anak dan sering kali bagi orang dewasa juga. Hari raya itu padat dengan kenangan dan harapan. Itulah hari saat keluarga paling menjadi dirinya sendiri, paling berkumpul, paling utuh, dan kedatangannya dalam susunan yang baru membuat kehilangan itu terasa nyata dengan cara yang tidak bisa ditunjukkan oleh hari-hari biasa.
Jadi memang ada kesedihan yang patut diperkirakan, dan mencoba menutupinya dengan keceriaan yang dipaksakan biasanya justru memperburuk keadaan. Anak-anak mungkin merasakan ketiadaan cara yang lama dengan tajam. Kamu pun mungkin merasakannya. Berpura-pura bahwa hari itu sama membahagiakannya seperti dulu, padahal semua orang bisa merasa bahwa tidak begitu, akan meninggalkan anak-anak sendirian dengan kesedihan yang tidak diakui siapa pun. Cara yang lebih jujur adalah memberi sedikit ruang untuk perasaan itu sambil tetap membangun kehangatan yang nyata ke dalam hari itu. Tahun ini berbeda, dan itu wajar kalau terasa sedih. Kita juga akan punya hari yang benar-benar menyenangkan bersama. Kedua sisi itu sama-sama benar, dan mengucapkan keduanya membuat anak bisa memegang kesedihan dan kehangatan sekaligus, tanpa harus memilih atau berpura-pura.
Inilah juga sebabnya yang pertama paling berat, dan sebabnya ia akan jadi lebih ringan. Hari raya pertama dalam bentuk yang baru ini belum ada petanya, berat oleh perbandingan dengan cara yang dulu. Menjelang yang kedua dan ketiga, cara baru itu sudah punya sejarahnya sendiri, tradisi-tradisi kecilnya sendiri, kewajarannya sendiri. Rasa perih yang pertama itu sebagiannya adalah perihnya hal yang belum biasa, dan itu akan memudar. Mengetahui bahwa yang pertama adalah yang paling terjal bisa membantumu memegangnya, dan memegang anakmu, dengan kesabaran orang yang tahu bahwa tanjakan itu akan melandai.
Tradisi baru, bukan mengulang yang lama
Naluri yang kuat pada hari raya pertama adalah mengulang yang lama setepat mungkin, agar semuanya tetap sama dan anak-anak merasakan guncangan paling sedikit. Cara ini biasanya berbalik melawan. Pengulangan yang setia pada hari raya lama, dikurangi satu orang tua, kebanyakan justru menonjolkan ketiadaan. Kursi yang kosong terdengar lebih nyaring ketika segala sesuatu di sekelilingnya ditata persis seperti dulu. Anak-anak duduk dalam suasana yang akrab dan justru merasakan, dengan tajam, satu hal yang hilang.
Langkah yang lebih membantu sering kali adalah membangun sesuatu yang baru ketimbang mengulang yang lama. Tradisi baru, sekecil apa pun, memberi hari itu identitasnya sendiri ketimbang menjadikannya salinan yang menyusut dari apa yang sudah hilang. Kegiatan yang berbeda, tempat yang baru, satu ritual segar yang menjadi milik versi keluarga ini. Kebaruan itu melakukan dua hal. Ia mengelak perbandingan langsung yang menyakitkan dengan cara yang lama, dan ia memberi anak-anak sesuatu untuk menumbuhkan rasa hari raya yang baru, yang sungguh-sungguh menjadi milik mereka dalam susunan yang baru.
Ini bukan berarti membuang semua yang dicintai anak-anak. Beberapa hal berharga sebaiknya tetap dibawa, karena kesinambungan juga penting, dan seorang anak yang berpegang erat pada satu hal hari raya yang dia sayang biasanya layak diizinkan menyimpannya. Seninya ada pada perpaduannya. Pertahankan beberapa hal yang benar-benar menenangkan dan yang tidak melulu berfungsi menyoroti ketiadaan, lalu bangun hal-hal baru di sekelilingnya supaya hari itu punya bentuknya sendiri, bukan versi lama yang dihantui.
Putuskan strukturnya jauh-jauh hari
Sebagian besar rasa sakit hari raya pertama datang bukan dari hari itu sendiri, melainkan dari ketidakpastian dan konflik menit-menit terakhir di sekelilingnya. Siapa yang menjaga anak, kapan, untuk bagian yang mana, bagaimana serah-terimanya berjalan, apa yang sedang disiapkan masing-masing rumah. Dibiarkan tidak terselesaikan sampai detik terakhir, pertanyaan-pertanyaan ini menghasilkan persis ketegangan yang merusak hari raya bagi seorang anak.
Jadi putuskan strukturnya jauh-jauh hari, lewat jalur Co-Parent, dengan tenang dan sejak awal. Jadwal hari raya, siapa yang menjaga anak untuk bagian yang mana, bagaimana perpindahan selama hari raya berlangsung, apa yang direncanakan masing-masing rumah, semuanya disepakati berminggu-minggu sebelumnya alih-alih diperdebatkan beberapa hari menjelang. Artikel tentang jadwal hari libur di modul jadwal membahas mekanismenya. Intinya di sini adalah perencanaan itu sendiri merupakan bagian dari melindungi hari itu. Anak yang tahu rencananya, yang tidak ikut menyerap konflik menit-menit terakhir tentang dia akan berada di mana, baru benar-benar bisa menikmati hari raya dengan tenang.
Ada baiknya juga mengelola perbandingan antara kedua rumah. Hari raya pertama bisa memicu persaingan diam-diam, masing-masing rumah berusaha membuat perayaannya yang paling hebat, paling disayang, paling menang. Anak-anak merasakannya dan itu membebani mereka. Jauh lebih baik kalau masing-masing rumah cukup membuat perayaannya sendiri terasa hangat dan tulus, tanpa membanding-bandingkan dengan apa yang sedang dilakukan rumah yang satu lagi, supaya anak-anak bisa menikmati keduanya tanpa harus jadi pencatat skor dalam lomba yang tidak pernah mereka ikuti.
Biarkan ia tidak sempurna
Mungkin hal paling melegakan yang bisa kamu ketahui tentang hari raya besar pertama adalah bahwa ia tidak harus berjalan sempurna, dan kemungkinan besar memang tidak akan. Bisa jadi ada momen yang berat, gelombang kesedihan, anak yang merindukan orang tua yang tidak ada di tengah hari itu, kendala teknis kecil, satu saat ketika ketiadaan itu terasa. Ini normal, dan ini bukan kegagalan.
Tekanan untuk membuat hari raya pertama terasa ajaib, untuk membuktikan kepada anak-anak bahwa segalanya masih indah, sangat besar dan justru kontraproduktif. Ia memasang ukuran yang mustahil dan mengubah hari itu menjadi sebuah pertunjukan. Anak-anak tidak butuh hari raya yang ajaib dan tanpa cela. Mereka butuh hari raya yang tulus, dengan orang tua yang hadir dan tenang, yang bisa memegang kehangatan sekaligus momen-momen berat yang sesekali muncul tanpa membuat semuanya runtuh. Hari raya yang menyimpan sedikit kesedihan dan banyak kehangatan, dipegang oleh orang tua yang tenang, itu sebuah keberhasilan. Hari raya yang terlihat sempurna tapi ditenagai keceriaan yang dipaksakan dan ketegangan yang terpendam, itu bukan.
Jadi bidiklah yang tulus, bukan yang sempurna. Bangun kehangatan yang nyata, beri ruang untuk perasaan, jaga strukturnya tetap tenang dan jelas, dan biarkan ketidaksempurnaan menjadi apa adanya. Anak-anak akan mengingat bukan apakah hari itu tanpa cela, melainkan apakah mereka merasa dicintai dan merasa aman di dalamnya, dan itu sepenuhnya bisa dicapai bahkan pada hari yang membawa sedikit duka.
Penutup
Hari raya besar pertama setelah berpisah adalah tonggak duka, hari saat perubahan itu terasa paling nyata, dan kesedihan memang patut diperkirakan, bukan ditutupi dengan keceriaan yang dipaksakan. Inilah yang paling berat, dan ia akan jadi lebih ringan seiring cara baru itu membangun sejarahnya sendiri. Condonglah ke arah tradisi baru ketimbang mengulang setia hari raya lama, karena pengulangan kebanyakan justru menyoroti ketiadaan, sambil tetap mempertahankan beberapa hal yang benar-benar menenangkan. Putuskan strukturnya sejak awal dan dengan tenang lewat jalur Co-Parent, dan tahan diri dari persaingan antara kedua rumah. Dan yang terpenting, biarkan ia tidak sempurna, dengan membidik hari yang tulus, hangat, dan tenang ketimbang sebuah pertunjukan tanpa cela.
Yang pertama membawa beban paling berat. Pegang ia dengan kejujuran dan kehangatan, biarkan ia tidak sempurna, dan kamu memberi anakmu sebuah hari raya yang berbeda tapi tetap, sungguh-sungguh, menjadi miliknya.
Hari raya pertama tidak harus terasa seolah tidak ada yang berubah. Ia hanya perlu terasa bahwa mereka dicintai melewati perubahan itu, dan itu adalah sesuatu yang bisa kamu berikan kepada mereka bahkan pada hari yang berat.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.