dip
Belikan Kopi
Modul 16 · special needs disability and neurodivergence

Saat satu orang tua tidak menerima diagnosisnya

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia7 menit baca
Saat satu orang tua tidak menerima diagnosisnya

Saat satu orang tua tidak menerima diagnosisnya

Modul 16 · Kebutuhan khusus & neurodivergensi · Artikel 08 · Wave 3 · untuk semua usia


Kamu sudah sampai pada titik menerima diagnosis anakmu. Kamu sudah membaca banyak hal, duduk bersama perasaan itu, mulai membangun dukungan. Tapi Co-Parent kamu belum. Dia tidak percaya. Dia merasa anak itu baik-baik saja, atau cuma butuh disiplin yang lebih ketat, atau nanti akan hilang sendiri seiring dia besar, atau diagnosisnya dilebih-lebihkan atau salah. Dan sekarang kamu berusaha mendukung seorang anak yang rumahnya yang satu lagi sama sekali tidak menerima bahwa ada sesuatu yang perlu didukung, dan itu termasuk salah satu posisi yang paling sepi dan paling melelahkan dalam co-parenting kebutuhan khusus.

Ini situasi yang berat, dan ini umum terjadi. Ini juga tidak selesai lewat satu percakapan atau satu artikel saja. Yang ditawarkan tulisan ini adalah satu cara untuk memahami apa yang biasanya sedang terjadi, gambaran yang jelas tentang apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan soal itu, dan fokus pada melindungi anakmu agar tidak terjebak di tengah selama perbedaan pandangan itu berproses menuju penyelesaiannya, yang sering kali, walau tidak selalu, memang tercapai.

Ini tulisan yang lembut, karena ada kekecewaan yang nyata dan sering kali ada kesepian yang nyata di dalamnya.

Penolakan itu sering kali duka atau ketakutan

Hal pertama yang membantu adalah memahami apa yang biasanya ada di balik keengganan seorang orang tua menerima sebuah diagnosis, karena itu jarang sekadar keras kepala atau kebodohan, dan memperlakukannya seperti itu justru cenderung memperkuatnya.

Paling sering, ketidakterimaan itu adalah duka atau ketakutan yang memakai topeng penyangkalan. Menerima sebuah diagnosis berarti menerima satu versi dari anakmu, dan dari harapan-harapanmu untuknya, yang berbeda dari versi yang dulu kamu bayangkan, dan itu kehilangan yang nyata untuk diratapi. Bagi sebagian orang tua, penyangkalan adalah tahap duka tempat mereka tersangkut, cara untuk menahan kenyataan yang menyakitkan yang belum siap mereka hadapi. Bagi sebagian yang lain, ini soal ketakutan: takut akan apa arti diagnosis itu, takut akan labelnya, takut akan stigma yang melekat padanya di benaknya sendiri atau di lingkungannya, takut bahwa menerimanya membuat hal itu jadi lebih nyata atau seolah-olah menjadi salahnya. Dan bagi sebagian lagi, ini keyakinan yang tulus, walau keliru, yang berakar pada cara mereka dibesarkan atau pada apa yang mereka pahami tentang kondisi seperti ini.

Melihat penyangkalan dengan cara ini penting karena ini mengubah pendekatanmu. Seorang orang tua yang sedang berduka atau ketakutan tidak akan tergerak dengan diberi tahu bahwa dia salah, dibanjiri bukti, atau dibuat merasa bodoh. Hal-hal itu justru cenderung memperdalam sikap bertahannya. Seorang orang tua yang sedang berduka atau ketakutan bisa saja, seiring waktu, sampai pada penerimaan saat dukanya terproses dan ketakutannya mereda, apalagi kalau dia tidak dipaksa membela penyangkalannya menghadapi pasangan yang menyerang. Penerimaan sering datang seiring waktu, dan mendorong terlalu keras justru bisa memperlambatnya, bukan mempercepatnya.

Ini bukan berarti penyangkalan itu tidak berbahaya atau kamu cukup menunggu tanpa batas. Ini berarti memahaminya sebagai duka atau ketakutan, bukan sebagai niat jahat, mengarahkan kamu pada kesabaran dan kegigihan yang lembut alih-alih konfrontasi, dan itu biasanya lebih efektif untuk menggerakkan seorang orang tua menuju penerimaan.

Apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan

Penting untuk jernih melihat apa yang sebenarnya ada dalam kuasamu di sini, karena banyak dari kekecewaan dalam situasi ini lahir dari mencoba mengendalikan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan.

Kamu tidak bisa memaksa Co-Parent kamu menerima diagnosis itu. Kamu tidak bisa membuat dia memercayainya, merasakannya, atau menyerapnya lewat perdebatan atau tekanan. Penerimaannya adalah miliknya untuk dicapai sendiri, sesuai waktunya, dan mencoba memaksanya biasanya malah berbalik merugikan. Ini berat untuk diterima, tapi menerimanya menyelamatkan kamu dari energi dan konflik yang terbuang sia-sia dalam jumlah besar.

Yang bisa kamu lakukan ada beberapa hal. Kamu bisa mendukung anak itu sepenuhnya di rumahmu sendiri, memberikan pemahaman, penyesuaian, dan bantuan yang ditunjukkan oleh diagnosis itu, terlepas dari apa pun yang dilakukan rumah yang satu lagi. Seorang anak yang punya satu rumah yang benar-benar memahaminya dan mendukungnya jauh lebih beruntung daripada anak yang tidak punya keduanya, dan menjadikan rumahmu tempat seperti itu sepenuhnya ada dalam kendalimu. Kamu bisa terus berbagi informasi dengan lembut, tanpa tekanan, membiarkan pintu terbuka bagi Co-Parent kamu untuk sampai pada penerimaan dalam waktunya sendiri, sebagai undangan, bukan konfrontasi. Kamu bisa melibatkan para profesional, karena kadang seorang orang tua yang tidak mau menerima diagnosis dari Co-Parentnya justru mau menerimanya dari dokter, guru, atau spesialis yang dia percaya, dan suara seorang profesional bisa mendarat di tempat yang tidak bisa dijangkau suaramu. Dan kamu bisa memastikan dukungan medis dan pendidikan yang mendasar untuk anak itu tetap berjalan, dan ini membawa kita pada soal kewenangan mengambil keputusan.

Kerangka pengambilan keputusan

Saat perbedaan pandangan itu meluas sampai ke keputusan yang nyata, apakah anak itu mendapat suatu penanganan tertentu, apakah dia mendapat dukungan di sekolah, apakah dia minum obat yang diresepkan, persoalannya berhenti soal keyakinan dan beralih menjadi soal kewenangan. Dan di sinilah penting untuk memahami kerangka yang menjadi dasar gerakmu.

Keputusan tentang penanganan medis dan pendidikan seorang anak biasanya punya struktur pengambilan keputusan yang sah secara hukum, yang ditentukan oleh pengaturan tanggung jawab orang tua dalam kasusmu. Dalam sebagian pengaturan, keputusan tertentu butuh persetujuan kedua orang tua; dalam pengaturan lain, satu orang tua punya kewenangan memutuskan hal-hal tertentu, atau keputusan tertentu dialokasikan dengan cara tertentu. Memahami kerangkamu sendiri, keputusan mana yang butuh persetujuan bersama, apa yang bisa diputuskan sendiri oleh salah satu orang tua, bagaimana kebuntuan yang sesungguhnya diselesaikan, akan memberi tahu kamu di mana posisimu sebenarnya saat perbedaan pandangan itu menghambat keputusan yang dibutuhkan anak.

Saat kebuntuan yang sesungguhnya menghalangi anak mendapat dukungan yang mendasar, jalur penyelesaian memang ada justru untuk situasi seperti itu. Para profesional yang menangani kadang bisa memecah kebuntuan itu dengan kewenangan dan keahlian mereka. Mediasi, yang dibahas di modul tersendiri, bisa membantu dua orang tua yang sama-sama terkunci menemukan jalan keluar. Dan saat itu pun gagal sementara sebuah keputusan benar-benar harus diambil demi kesejahteraan anak, kerangka hukum menyediakan satu mekanisme, walau itu langkah yang serius dan jalan terakhir. Intinya bukan untuk buru-buru menempuh jalur hukum; intinya untuk tahu bahwa pemenuhan kebutuhan mendasar seorang anak pada akhirnya bukan sandera dari penolakan satu orang tua, dan bahwa jalan keluar memang ada saat perbedaan pandangan itu sungguh-sungguh membahayakan akses anak pada dukungan yang dia butuhkan.

Ini layak dipegang berdampingan dengan kesabaran dari bagian sebelumnya. Kamu sabar dan lembut dalam menggerakkan Co-Parent kamu menuju penerimaan seiring waktu, dan kamu sekaligus tegas bahwa kebutuhan mendasar anak itu tetap terpenuhi sementara itu, lewat dukungan dari rumahmu sendiri dan, bila perlu, lewat struktur pengambilan keputusan yang ada.

Lindungi anak dari posisi terjepit di tengah

Di sepanjang semua ini, hal yang paling penting adalah melindungi anak agar tidak terjebak dalam perbedaan pandangan itu, karena di situlah kerusakan yang sesungguhnya mendarat kalau kamu tidak hati-hati.

Seorang anak yang kedua orang tuanya berbeda pandangan soal diagnosisnya bisa berakhir dalam posisi yang mustahil, mendengar dari satu orang tua bahwa dia punya kondisi nyata yang butuh dukungan, dan dari orang tua yang lain bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya atau bahwa dia cuma perlu berusaha lebih keras. Ini membingungkan dan merusak. Anak itu bisa merasa bahwa kesulitannya tidak nyata, atau bahwa dia gagal, atau bahwa menerima bantuan adalah pengkhianatan terhadap orang tua yang menyangkal bahwa dia membutuhkannya. Dia bisa menjadi tali yang ditarik di antara dua versi kenyataannya sendiri.

Maka rambu-rambunya jelas. Jangan berdebat soal diagnosis lewat anak atau di hadapannya. Jangan jadikan anak pembawa pesan atau bukti antar kedua rumah soal kondisinya. Jangan tempatkan anak pada posisi harus menyetujui pandangan satu orang tua menentang yang lain. Dan di rumahmu sendiri, berikan anak kenyataan yang mantap dan menerima, kamu memahaminya, kamu mendukungnya, kesulitannya nyata dan bukan kesalahannya, tanpa menjadikan itu senjata melawan Co-Parentnya. Anak itu butuh setidaknya satu rumah tempat kenyataannya diterima begitu saja, dengan tenang, dan kamu bisa menyediakannya terlepas dari apa pun yang dilakukan rumah yang satu lagi.

Pengalaman seorang anak hidup dengan sebuah kondisi sudah cukup berat tanpa harus pula menjadi medan yang diperebutkan antara kedua orang tuanya. Menjaga perbedaan pandangan orang dewasa tetap di ranah orang dewasa, dan memberi anak satu tempat penerimaan yang tenang, itulah hal paling melindungi yang bisa kamu lakukan sementara perbedaan pandangan yang lebih besar itu bergerak menuju penyelesaian apa pun yang akhirnya tercapai.

Penutup

Saat satu orang tua tidak menerima diagnosis seorang anak, ketidakterimaan itu biasanya duka atau ketakutan, bukan sekadar keras kepala, dan itu mengarahkan kamu pada kesabaran dan kegigihan yang lembut alih-alih konfrontasi, karena penerimaan sering datang seiring waktu dan mendorong terlalu keras justru bisa memperlambatnya. Kamu tidak bisa memaksa penerimaan Co-Parent kamu, tapi kamu bisa mendukung anak sepenuhnya di rumahmu sendiri, terus berbagi informasi dengan lembut, melibatkan para profesional tepercaya yang suaranya mungkin mendarat di tempat yang tidak bisa dijangkau suaramu, dan memastikan dukungan mendasar tetap berjalan lewat kerangka pengambilan keputusan yang berlaku dalam situasimu. Dan di sepanjang itu, kamu melindungi anak agar tidak terjebak di tengah, menjaga perbedaan pandangan di luar jangkauan pendengarannya dan memberinya setidaknya satu rumah tempat kenyataannya diterima dengan tenang.

Kamu tidak bisa membuat rumah yang satu lagi menerima apa yang sudah kamu terima. Kamu bisa menjadi rumah tempat anakmu dipahami dan didukung sepenuhnya, dan kamu bisa terus membiarkan pintu terbuka, dengan lembut, agar Co-Parent kamu sampai ke sana juga, dalam waktunya sendiri.

Kamu tidak bisa memenangkan penerimaan orang tua lain lewat perdebatan. Kamu bisa menjadi rumah tempat kenyataan anakmu diterima dengan tenang dan sepenuhnya, terus membiarkan pintu terbuka tanpa memaksa, dan memastikan kebutuhan mendasarnya terpenuhi sementara sisanya berproses ke arah penyelesaiannya sendiri.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.