dip
Belikan Kopi
Modul 13 · Tingkah laku & pengaturan emosi

Saat anakmu tidak mau pergi ke sekolah

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–127 menit baca
Saat anakmu tidak mau pergi ke sekolah

Saat anakmu tidak mau pergi ke sekolah

Modul 13 · Perilaku & regulasi emosi · Artikel 6 · Wave 2 · usia 4-12


Pagi hari kini berubah jadi semacam adu kebuntuan dengan rupa yang lain. Sakit perut yang muncul saat sarapan lalu hilang menjelang siang. Air mata di gerbang sekolah. Anak yang memelukmu erat, memohon agar boleh tinggal di rumah, atau yang terang-terangan menolak memakai seragam. Sesuatu yang dulu jadi bagian biasa dari hari kini berubah menjadi perjuangan harian, dan kamu terjepit di antara mengantarnya ke sekolah dan kesusahan yang tampak nyata, yang justru disebabkan oleh proses mengantarnya ke sana itu sendiri.

Penolakan ke sekolah, atau menghindari sekolah, sering muncul atau menguat setelah perpisahan, dan biasanya ini sama sekali bukan soal sekolah. Paling sering ini adalah bentuk kecemasan akan perpisahan, anak yang menjadi takut berjauhan dari orang tua yang dia khawatir akan kehilangannya, lalu mengungkapkan rasa takut itu lewat penolakan terhadap perpisahan harian yang dituntut sekolah. Memahami apa yang ada di baliknya mengubah cara kamu merespons, karena respons yang paling kelihatan jelas, yaitu mendesak dengan lebih keras lagi, justru cenderung memperburuk keadaan.

Ini biasanya bukan soal sekolah

Saat anak tiba-tiba tidak tahan pergi ke sekolah setelah perpisahan keluarga, sekolah jarang jadi masalah yang sebenarnya. Persoalan yang lebih dalam biasanya adalah kecemasan tentang perpisahan itu sendiri. Dunia anak baru saja membuktikan bahwa orang yang dia andalkan bisa pergi, bahwa keluarga bisa berubah tanpa peringatan, bahwa orang yang tadinya selalu ada mungkin tidak ada lagi. Dalam terang itu, setiap perpisahan jadi terasa berat. Meninggalkanmu untuk satu hari sekolah berhenti jadi rutinitas dan mulai jadi pementasan kecil dari kehilangan yang dia takutkan.

Inilah sebabnya gejala fisik begitu sering muncul. Sakit perut, sakit kepala, rasa mual, itu semua bukan pura-pura. Kecemasan tinggal di dalam tubuh, terutama pada anak yang belum punya kata-kata untuk menamainya, dan anak yang benar-benar cemas memang benar-benar merasa tidak enak badan. Tubuhnya sedang mengungkapkan ketakutan yang tidak bisa dia ucapkan. Mengatakan kepadanya bahwa perutnya baik-baik saja justru meleset dari intinya. Memang ada yang tidak beres, hanya saja yang tidak beres itu adalah rasa takut, bukan penyakit.

Kadang ada juga unsur yang berkaitan dengan sekolah, masalah dengan teman, kesulitan dengan tugas, sesuatu yang terjadi di kelas, dan itu memang layak diperiksa. Tapi setelah perpisahan, pendorong yang paling umum adalah kecemasan akan perpisahan tadi, dan menghindari sekolah adalah bentuknya yang tampak. Bacalah dia sebagai anak yang ketakutan, bukan anak yang membangkang, dan jalan ke depannya pun berubah.

Penenangan yang tidak menenangkan

Respons yang paling alami terhadap anak yang cemas adalah menenangkannya, dan banyak-banyak. Kamu pasti baik-baik aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Bunda ada di sini kok. Bunda janji bakal jemput kamu. Dan walaupun kehangatan dan penenangan itu penting, menumpuknya terus-menerus justru bisa, secara paradoks, memberi makan kecemasan itu alih-alih meredakannya.

Begini sebabnya. Penenangan yang berlebihan bisa memberi sinyal kepada anak bahwa memang ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan, kalau tidak kenapa kamu bekerja sekeras itu untuk menenangkannya. Ia juga bisa berubah jadi semacam ritual yang anak jadi bergantung padanya, perlu makin banyak penenangan untuk merasa baik-baik saja, yang justru menguatkan kecemasan, bukan menguranginya. Dan ucapan perpisahan yang panjang dan penuh kecemasan di gerbang sekolah, yang berlarut karena kekhawatiran orang tua itu sendiri, cenderung membuat perpisahan jadi lebih sulit, bukan lebih mudah. Makin panjang ucapan perpisahannya, makin besar hal yang terkesan tersirat di baliknya, dan makin banyak waktu yang dimiliki rasa takut anak untuk membesar.

Sikap yang lebih membantu adalah keyakinan yang tenang, bukan penenangan yang dipaksakan. Orang tua yang bersikap biasa saja, hangat tapi tidak khawatir, ringkas saat berpamitan, menyampaikan lewat caranya bahwa sekolah itu aman dan biasa dan dia akan kembali seperti biasa. Bunda jemput jam tiga ya. Selamat belajar. Pelepasan yang cepat, hangat, dan penuh keyakinan berdampak lebih besar daripada yang panjang dan penuh kecemasan. Ketenanganmulah penenangan yang sebenarnya, jauh melebihi kata-katamu.

Kembali dengan lembut tapi tegas

Dengan penolakan ke sekolah, ada ketegangan yang nyata. Kamu tidak mau menorehkan trauma pada anak yang ketakutan dengan memaksanya, dan kamu juga tidak mau membiarkan kebiasaan menghindar berakar, karena menghindar memberi makan kecemasan. Makin sering anak tinggal di rumah untuk lari dari rasa takut, makin besar rasa takut itu tumbuh dan makin sulit untuk kembali. Membiarkan anak tinggal di rumah cenderung membuat pagi berikutnya jadi lebih berat, bukan lebih ringan.

Pendekatan yang umumnya berhasil adalah lembut tapi tegas. Kamu menanggapi rasa takut itu dengan serius dan merespons dengan kehangatan, dan kamu juga memegang harapan bahwa sekolah tetap berjalan. Kamu tidak mengabaikan perasaannya, dan kamu tidak membiarkan perasaan itu yang mengambil keputusan. Bunda tahu hari ini berat banget rasanya buat berangkat. Bunda lihat kok. Tapi kita tetap berangkat ya, dan Bunda bakal ada di sana waktu kamu pulang. Kamu memegang pengakuan dan batas itu sekaligus. Rasa takutnya nyata dan diakui; berangkatnya tetap terjadi.

Ini sulit dilakukan saat anakmu sedang benar-benar susah, dan bisa terasa kejam. Sebenarnya tidak. Membantu anak yang cemas melakukan hal yang dia takutkan, dengan dukunganmu, justru itulah cara kecemasan itu mengecil. Setiap hari saat dia berangkat lalu mendapati bahwa sekolah ternyata bisa dilewati dan kamu kembali seperti janji, rasa takut itu jadi sedikit lebih kecil. Membiarkannya menghindar justru mengajarkan kebalikannya, bahwa rasa takut itu benar dan hal itu memang terlalu berbahaya untuk dihadapi. Kembali dengan lembut tapi tegas adalah jalan yang lebih baik hati, walaupun jalan membiarkan dia menghindar terasa lebih lembut pada saat itu.

Dukungan praktis membantu proses kembalinya. Rutinitas pagi yang konsisten dan tenang. Perpisahan yang bisa diperkirakan dan ringkas. Kadang sebuah benda peralihan, sesuatu milikmu yang anak simpan di dalam tasnya. Penjemputan yang jelas dan bisa diandalkan, yang bisa dia pegang. Apa pun yang membuat perpisahan terasa aman dan pertemuan kembali terasa pasti.

Bekerja sama dengan sekolah

Kamu tidak harus menangani penolakan ke sekolah sendirian, dan memang sebaiknya tidak. Sekolah adalah mitra, dan mitra yang baik bisa membuat perbedaan yang sangat besar. Guru dan staf sekolah sering melihat penolakan ke sekolah dan biasanya punya strategi praktis, seorang orang dewasa terpercaya untuk menyambut anak di gerbang, rutinitas menengok keadaan yang tenang, pendekatan bertahap untuk kasus yang berat.

Memberi tahu sekolah apa yang sedang terjadi di rumah, dalam takaran perincian sejauh yang kamu nyaman, membantu mereka memahami perilakunya dan mendukung anak. Artikel tentang guru yang tahu, di modul rutinitas usia sekolah, membahas cara membawa sekolah masuk ke dalam gambaran. Anak yang rumah dan sekolahnya selaras dalam membantunya melewati kecemasan akan jauh lebih baik keadaannya dibanding anak yang kedua dunianya tidak saling bicara.

Akan membantu juga kalau kedua rumah menangani pagi hari dengan konsisten. Penolakan ke sekolah yang disambut dengan kembali secara lembut tapi tegas di satu rumah dan dibiarkan menghindar di rumah satunya jadi membingungkan dan cenderung berlarut. Sebisa mungkin, samakan langkah dengan Co-Parent pada satu pendekatan bersama yang tenang dan konsisten. Pagi hari berjalan lebih baik saat kedua rumah mengirim pesan yang sama dan mantap.

Saat butuh lebih dari itu

Sebagian besar penolakan ke sekolah pasca perpisahan mereda dengan penanganan yang tenang, konsisten, serta lembut tapi tegas dalam beberapa minggu, dengan dukungan sekolah. Kadang ia lebih mengakar. Penolakan ke sekolah yang berat dan terus-menerus, kecemasan hebat yang tidak kunjung reda, atau anak yang kesusahannya besar dan meluas, memang layak mendapat dukungan profesional. Guru BK, dokter keluarga, atau psikolog anak bisa membantu menangani kecemasan yang melampaui apa yang bisa diselesaikan oleh pengasuhan yang tenang saja. Artikel tentang kecemasan dan tentang terapi membahas ini lebih jauh. Mencari bantuan itu bukan reaksi yang berlebihan; untuk penolakan ke sekolah yang sudah mengakar, sering kali justru itulah yang membalikkan keadaan.

Di Indonesia, banyak SD dan SMP kini punya guru BK yang bisa jadi tempat berkonsultasi, dan dokter di Puskesmas bisa memberi rujukan ke psikolog atau psikiater bila perlu. Kalau kecemasan anak terasa di luar kemampuanmu untuk menanganinya sendiri, jangan ragu mencari pendampingan ini lebih awal.

Kalimat yang kamu bawa

Penolakan ke sekolah setelah perpisahan biasanya adalah kecemasan akan perpisahan, bukan masalah dengan sekolah, anak yang ketakutan mengungkapkan rasa takut akan kehilangan lewat penolakan terhadap perpisahan harian, sering dengan gejala fisik yang nyata. Penenangan yang berlebihan dan perpisahan panjang yang penuh kecemasan cenderung memberi makan kecemasan; keyakinan yang tenang dan pelepasan yang singkat serta hangat meredakannya. Jalan untuk melewatinya adalah lembut tapi tegas, mengakui rasa takut sambil memegang harapan bahwa sekolah tetap berjalan, karena menghindar menumbuhkan rasa takut sedangkan menghadapinya dengan dukungan justru mengecilkannya. Bekerjalah sama dengan sekolah sebagai mitra, samakan langkah kedua rumah sebisa mungkin, dan carilah bantuan profesional untuk kasus yang sudah mengakar.

Anak yang ketakutan di gerbang itu bukan sedang menyusahkan. Dia takut ditinggalkan, dan cara kamu membantunya adalah menanggapi rasa takut itu dengan serius dan, dengan kehangatan, membantunya menemukan bahwa ditinggalkan itu aman dan kamu selalu kembali.

Penutup

Adu kebuntuan pagi itu bukan soal sekolah. Itu anak yang takut ditinggalkan. Pegang rasa takut dan keberangkatannya sekaligus, dan setiap kepulangan yang aman membuat rasa takut itu sedikit lebih kecil.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.