Pola 'tunggu sampai Ayah pulang'
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Pola 'tunggu sampai Ayah pulang'
Modul 13 · Tingkah laku & regulasi emosi · Artikel 15 · Wave 3 · umur 4-12
Ini ungkapan dari zaman pengasuhan yang lebih lama, tapi polanya masih hidup dan subur dalam keluarga yang berpisah, sering dalam bentuk yang baru. Salah satu orang tua, biasanya yang merasa dialah yang memikul beban disiplin yang lebih berat, mulai menunda momen-momen sulit ke pihak yang satu lagi. Tunggu sampai Ayah dengar soal ini. Nanti Bunda cerita pas dia jemput kamu. Kamu urus sendiri sama Ayah soal itu. Disiplinnya dipindahkan ke orang tua yang tidak ada di ruangan, dan muncullah dinamika aneh di mana tidak ada satu pun dari kedua rumah yang benar-benar memegang kuasanya sendiri.
Dalam keluarga yang berpisah, ini bisa berjalan ke dua arah dan mengambil beberapa bentuk. Orang tua sehari-hari yang kelelahan dan mengancam dengan reaksi Co-Parent. Orang tua akhir pekan yang tidak mau jadi orang jahat dan menunda semuanya kembali ke rumah utama. Orang tua yang merasa kalah dalam hal disiplin dan meminjam kuasa pihak yang satu lagi untuk mendapatkan kepatuhan. Di balik semua versinya, masalah strukturalnya sama, yaitu disiplin yang seharusnya dipegang oleh rumah tempat ia terjadi malah diekspor ke orang tua yang tidak ada di situ, dan itu tidak berhasil, karena alasan-alasan yang layak dipahami.
Kenapa disiplin yang diekspor itu gagal
Menunda disiplin ke orang tua yang tidak hadir gagal untuk anak karena beberapa alasan yang saling berkaitan, dan semuanya soal bagaimana kuasa dan konsekuensi sebenarnya bekerja untuk seorang anak.
Waktunya salah. Anak-anak, terutama yang lebih kecil, butuh konsekuensi dan respons yang dekat secara waktu dengan perilakunya. Konsekuensi yang datang berjam-jam atau berhari-hari kemudian, saat Co-Parent sudah kembali, terputus dari momen yang menyebabkannya. Anak itu sudah melanjutkan hidupnya; responsnya mendarat pada anak yang berbeda dalam keadaan yang berbeda. Disiplin yang ditunda melewatkan jendela perkembangan di mana ia sebenarnya bisa mengajarkan sesuatu.
Kuasanya bocor. Saat kamu menunda ke Co-Parent, kamu sebenarnya sedang memberi tahu anak bahwa kamu tidak memegang kuasa di rumahmu sendiri, bahwa kuasa yang sesungguhnya ada pada orang tua yang tidak ada di situ. Ini melemahkan kedudukanmu di mata anak. Orang tua yang hanya bisa menegakkan sesuatu dengan menyebut nama Co-Parent telah menyerahkan kuasanya sendiri, dan anak langsung merasakannya. Rumah di mana disiplin selalu jadi tugas orang lain akan jadi rumah tanpa kuasa yang bisa diandalkan yang hadir di dalamnya.
Ia meracuni rumah yang satu lagi. Menempatkan orang tua yang tidak hadir sebagai penegak, sebagai sosok yang akan membawa konsekuensi, sebagai sosok yang harus ditakuti, menjadikan orang tua itu sebagai orang jahat dan mencemari hubungan anak dengannya. Akhir pekan yang seharusnya jadi waktu untuk kedekatan malah jadi waktu di mana disiplin yang menumpuk disampaikan. Anak belajar mengaitkan satu orang tua dengan kehangatan dan yang satu lagi dengan hukuman, yang tidak menguntungkan siapa pun dan merusak ikatan orang tua yang dipinggirkan itu dengan anak.
Dan ini menempatkan anak di tengah-tengah. Disiplin yang dialirkan antara kedua rumah menjadikan anak sebagai pembawa masalah di antara dua orang tua, yang justru posisi yang seluruh pustaka ini berusaha jauhkan dari anak.
Setiap rumah memegang disiplinnya sendiri
Prinsip yang membenahi ini mudah diucapkan dan butuh kedisiplinan untuk dijalani. Setiap rumah memegang kuasanya sendiri dan menangani momen-momennya sendiri, pada saat itu juga, dengan dirinya sendiri.
Artinya, saat sesuatu terjadi di rumahmu, kamu menanganinya di rumahmu, sekarang, dengan responsmu sendiri. Kamu tidak menyimpannya untuk Co-Parent, tidak mengancam dengan reaksi Co-Parent, tidak mengekspor konsekuensinya. Perilaku itu terjadi saat giliranmu, dan menanganinya adalah tugasmu, saat itu juga di tempat itu. Begitu pula, rumah yang satu lagi menangani momen-momennya sendiri. Setiap orang tua adalah kuasa penuh di rumahnya sendiri, memegang harapan sehari-hari dan respons terhadapnya, tanpa meminjam kuasa pihak yang satu lagi atau membongkar muatannya ke sana.
Ini bukan berarti kedua rumah tidak pernah berkoordinasi. Untuk isu-isu besar yang berkelanjutan, orang tua bisa saja berdiskusi, lewat saluran bersama, soal pendekatan yang konsisten, seperti yang dijelaskan modul disiplin dan nilai. Tapi momen-momen sehari-hari ditangani oleh orang tua yang hadir, pada saat itu juga, dengan kuasanya sendiri. Koordinasi untuk pola-pola besar, ya. Mengekspor momen-momen harian, tidak.
Untuk orang tua yang merasa kalah, yang meraih kuasa pihak yang satu lagi karena kuasanya sendiri terasa kurang, jawabannya bukan dengan meminjam lebih banyak kuasa Co-Parent. Jawabannya adalah membangun kuasanya sendiri. Seorang orang tua bisa memegang kuasa di rumahnya sendiri terlepas dari apa yang dilakukan rumah yang satu lagi, lewat respons yang konsisten, tenang, dan hadir terhadap apa yang terjadi di depannya. Kuasa itu tumbuh dengan digunakan, bukan dengan dipinjam. Setiap kali kamu menangani sendiri momenmu sendiri, kedudukanmu di mata anak menguat. Setiap kali kamu menundanya, ia melemah.
Membenahi polanya
Kalau pola "tunggu sampai Ayah pulang" sudah telanjur mengakar, ia bisa diurai kembali. Pembenahannya adalah dengan mulai memegang kuasamu sendiri, pada saat itu juga, di rumahmu sendiri, dan berhenti menyebut nama atau menunda ke Co-Parent untuk hal-hal sehari-hari.
Ini mungkin terasa lebih sulit pada awalnya, terutama kalau kamu sudah lama bersandar pada kuasa Co-Parent, karena kamu sedang membangun kembali kedudukan yang sempat terlepas. Anak mungkin akan mengujinya, karena dia sudah belajar bahwa konsekuensi yang sesungguhnya datang dari tempat lain. Tapi saat kamu konsisten menangani sendiri momen-momenmu, dengan tenang dan bisa diandalkan, kuasamu di rumahmu sendiri akan terbangun kembali, dan polanya pun memudar. Anak belajar bahwa rumah ini pun punya orang tua yang memegang kendali, yang menenangkan baginya meski pada saat itu terasa kurang praktis.
Akan membantu juga kalau kamu berbicara dengan Co-Parent soal menghentikan pola itu dari kedua sisi, supaya tidak ada rumah yang mengekspor disiplin ke pihak yang satu lagi. Kedua rumah yang masing-masing memegang kuasanya sendiri, berkoordinasi hanya untuk hal-hal besar, memberi anak dua sumber struktur yang bisa diandalkan, bukan satu penegak dan satu penunda. Itu dunia yang lebih aman bagi anak dan pengaturan yang lebih adil bagi kedua orang tua.
Penutup
Pola "tunggu sampai orang tua yang satu lagi pulang", dalam segala bentuknya, mengekspor disiplin ke orang tua yang tidak ada di ruangan, dan ia gagal untuk anak karena waktunya salah, kuasa orang tua yang hadir bocor pergi, orang tua yang tidak hadir ditempatkan sebagai penegak, dan anak berakhir di tengah-tengah. Solusinya adalah setiap rumah memegang kuasanya sendiri dan menangani momen-momennya sendiri, pada saat itu juga, dengan dirinya sendiri, berkoordinasi untuk pola-pola besar yang berkelanjutan tapi tidak pernah mengekspor konsekuensi harian. Untuk orang tua yang merasa kalah, jawabannya adalah membangun kuasanya sendiri lewat respons yang konsisten dan hadir, bukan meminjam kuasa pihak yang satu lagi. Polanya bisa dibenahi dengan menuntut kembali kedudukanmu sendiri di rumahmu sendiri.
Disiplin itu milik rumah tempat ia terjadi. Pegang sendiri momen-momenmu, dan kamu memberi anakmu sebuah rumah yang punya kuasa andal yang hadir di dalamnya, bukan rumah yang selalu menunjuk ke arah orang tua di ujung jalan.
Momen itu milikmu untuk dipegang, di rumahmu, sekarang. Berhenti menunjuk ke arah Co-Parent, dan anakmu mendapat kedua rumah yang masing-masing berdiri di atas kakinya sendiri.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.