Anak yang mengadu domba kedua orang tuanya
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Anak yang mengadu domba kedua orang tuanya
Modul 13 · Perilaku & regulasi emosi · Artikel 11 · Wave 3 · untuk umur 8-12
Kamu baru tahu kalau anakmu yang berumur sepuluh tahun bilang dia butuh sepatu baru karena Co-Parent melarang, lalu bilang ke Co-Parent hal yang sama soal kamu. Atau acara menginap yang kamu larang ternyata diizinkan di rumah satu lagi tanpa kamu tahu cerita lengkapnya. Belakangan ini, di suatu titik, anakmu mengembangkan keterampilan baru, yaitu kemampuan untuk memainkan celah di antara kedua rumah, menceritakan versi yang berbeda kepada masing-masing orang tua supaya dia dapat apa yang dia mau. Rasanya seperti dimanipulasi oleh anak sendiri, dan ini memunculkan satu pertanyaan yang membuat khawatir soal dia mau jadi anak seperti apa.
Anak yang mengadu domba kedua orang tuanya sedang melakukan sesuatu yang muncul, hampir seperti sudah terjadwal, di sekitar tahun-tahun akhir SD, dan ini cenderung membuat orang tua lebih khawatir daripada yang seharusnya. Dalam kebanyakan kasus, ini bukan tanda watak yang manipulatif. Ini sebuah kemampuan perkembangan yang baru datang dan menemukan hal paling jelas yang bisa dilakukannya. Memahami hal ini mengubah responsmu, dari kekhawatiran dan hukuman menjadi perbaikan struktural yang lebih tenang.
Kemampuan baru, bukan watak baru
Sekitar umur delapan sampai dua belas tahun, anak-anak mengembangkan kapasitas kognitif untuk memegang dua sudut pandang sekaligus dan untuk memahami bahwa orang yang berbeda punya informasi yang berbeda. Ini lompatan perkembangan yang sungguhan. Anak yang lebih kecil umumnya belum bisa melakukan ini; anak yang lebih besar bisa. Dan salah satu tempat pertama kemampuan baru ini diuji adalah situasi kedua rumah, yang kebetulan menyediakan dua orang dewasa yang terpisah dengan dua kumpulan informasi yang terpisah dan ada celah di antara keduanya.
Jadi anak bereksperimen dengan celah itu. Dia sadar bahwa Bunda tidak selalu tahu apa yang dikatakan Ayah, bahwa Ayah tidak selalu mengecek ke Bunda, bahwa sebuah permintaan yang dibingkai dengan cara yang tepat kepada orang tua yang tepat bisa berhasil padahal kalau jujur justru akan gagal. Lalu dia mencobanya. Ini bukan karena mereka manipulator kecil yang penuh siasat. Ini karena mereka baru saja mengembangkan kemampuan untuk membaca dua pikiran sekaligus dan celah informasi di antaranya, dan tatanan kedua rumah adalah laboratorium yang alami untuk itu. Anak yang tinggal di satu rumah pun melakukan versi yang sama, menceritakan kepada satu orang tua apa yang dikatakan orang tua yang lain, tapi celah di antara kedua rumah membuatnya lebih mudah dan lebih tersedia.
Melihatnya sebagai kemampuan perkembangan, bukan cacat watak, itu penting, karena ini mengubah reaksimu. Kamu bukan sedang membesarkan seorang manipulator. Kamu sedang menyaksikan sebuah pencapaian kognitif yang normal menemukan peluangnya. Perilaku ini memang perlu ditangani, tapi dengan ketenangan orang yang sedang menutup sebuah celah aturan, bukan dengan kepanikan orang yang baru menemukan cacat moral.
Kenapa celah itu yang jadi masalah sebenarnya
Anak hanya bisa mengadu domba kedua rumah karena ada celah untuk dimanfaatkan, yaitu jarak informasi di antara kedua orang tua. Perilaku ini sepenuhnya bergantung pada kedua rumah yang tidak saling mencocokkan cerita. Begitu kedua orang tua berkomunikasi, walau sekadarnya, soal hal-hal yang sedang dimanfaatkan anak, celah itu menutup dan strateginya berhenti bekerja, karena anak tidak bisa lagi mengandalkan masing-masing orang tua yang tidak tahu apa yang dikatakan pihak satunya.
Ini kabar yang sungguh baik, karena artinya perbaikannya sebagian besar bersifat struktural, bukan soal disiplin. Kamu tidak menyelesaikan ini terutama dengan memergoki dan menghukum anak tiap kali. Kamu menyelesaikannya dengan menutup celah itu, sehingga strateginya tidak lagi membuahkan hasil. Anak yang belajar bahwa orang tuanya ternyata memang saling mencocokkan cerita soal hal-hal penting akan cepat berhenti repot-repot mencoba, karena usahanya tidak lagi berhasil.
Ini juga berarti bahwa celah yang dibiarkan terbuka lebar, dalam arti tertentu, adalah sebuah undangan. Dua rumah yang tidak pernah berkomunikasi, yang anak tahu tidak pernah berkomunikasi, sama saja memberi anak peluang yang selalu tersedia untuk mengadu domba. Perilaku ini bukan semata-mata perbuatan anak; sebagian darinya adalah hasil dari celah komunikasi yang dibiarkan terbuka oleh orang dewasa. Menutupnya adalah tugas orang dewasa, sama besarnya dengan tugas anak.
Respons saat celahnya ditutup
Jadi, respons praktisnya sebagian besar adalah soal kedua rumah yang berkoordinasi secukupnya untuk menutup celah pada hal-hal yang penting.
Ini tidak menuntut kedua orang tua menjadi teman atau berkomunikasi terus-menerus. Yang dibutuhkan hanyalah saluran dasar yang bersifat sebatas urusan untuk keputusan-keputusan penting, jenis yang dibahas modul tentang komunikasi. Saat anak mengajukan permintaan yang memanfaatkan rumah satu lagi, satu pengecekan cepat, Ayah sudah bilang nggak boleh ya untuk acara menginapnya?, menutup celah itu. Saat kedua rumah berbagi informasi soal hal-hal besar, uang, izin, keputusan penting, anak tidak bisa mendapat jawaban yang berbeda dengan bertanya ke Co-Parent. Saluran berbagi informasi itu memang ada sebagiannya justru untuk hal ini.
Di samping perbaikan struktural itu, ada respons individual yang ringan. Saat kamu memergoki anak sedang memainkan celah itu, tangani dengan tenang, tanpa drama moral yang besar. Bunda sudah cek ke Ayah, dan dia memang sudah bilang nggak boleh. Kami saling bicara satu sama lain, jadi mencoba dapat jawaban yang beda dari Bunda nggak akan berhasil. Kalau kamu mau mengajukan alasan soal sepatunya, ajukan terus terang saja. Ini melakukan dua hal sekaligus. Ini menutup kejadian yang spesifik itu, dan ini memberi tahu anak, dengan biasa saja, bahwa celahnya sudah tertutup dan strateginya sudah usang. Tanpa kemarahan, tanpa ceramah soal watak, hanya sinyal yang jelas bahwa celah aturan itu tidak ada.
Kamu juga menyisakan ruang untuk versi yang sah. Anak yang mengajukan alasan yang tulus untuk sesuatu itu tidak apa-apa dan layak didengar; yang sedang kamu tutup adalah jalur penipuan lewat celah itu, bukan hak anak untuk meminta sesuatu. Kalimat "ajukan terus terang saja" mengundang versi yang jujur sambil menutup versi yang mengadu domba.
Apa yang anak dapatkan saat celahnya ditutup
Sekilas mungkin terlihat bahwa menutup celah itu hanya merampas satu cara anak untuk mendapatkan apa yang dia mau, padahal sebenarnya ini memberinya sesuatu yang lebih penting. Anak yang hidup di antara kedua rumah yang diam-diam berkoordinasi adalah anak yang hidup di dunia yang lebih aman dan lebih terjaga. Celah yang dimanfaatkan anak itu juga celah tempat dia bisa terjatuh, sebuah kelonggaran struktur yang, pada lapisan yang lebih dalam, terasa tidak aman. Anak menguji batas sebagiannya untuk mencari tahu apakah batas itu sungguh kokoh, dan anak yang menemukan bahwa kedua rumah ternyata memang berkomunikasi, bahwa strukturnya solid, bahwa dia sebenarnya tidak bisa menyelinap lewat celah-celahnya, akan merasa lega pada lapisan yang ada di bawah rasa kesal sesaatnya.
Dengan kata lain, menutup celah itu bukan hanya soal menghentikan manipulasi. Ini soal memberi anak struktur yang terjaga dan terkoordinasi yang membuatnya merasa terpeluk dengan aman. Anak yang bisa mengadu domba orang tuanya, sebagiannya, adalah anak yang menemukan sebuah celah yang mengkhawatirkan di dalam dunianya. Menutupnya memberi tahu dia bahwa orang dewasa sudah memegang kendali, dan itulah yang sebenarnya dia butuhkan, lebih dari sepatu itu.
Penutup
Anak yang mengadu domba kedua orang tuanya biasanya sedang menggunakan kemampuan perkembangan yang normal, yaitu kapasitas baru untuk membaca dua pikiran sekaligus dan celah informasi di antaranya, bukan sedang menyingkapkan watak yang manipulatif. Perilaku ini bergantung pada celah di antara kedua rumah, jadi perbaikan sebenarnya bersifat struktural: sebuah saluran dasar yang bersifat sebatas urusan, yang memungkinkan kedua orang tua mencocokkan cerita soal hal-hal penting, sehingga celahnya menutup dan strateginya berhenti membuahkan hasil. Tangani tiap kejadian dengan tenang, tanpa drama moral, dengan memberi sinyal bahwa celahnya sudah tertutup sambil tetap menyisakan ruang untuk permintaan yang jujur. Dan sadari bahwa menutup celah itu memberi anak dunia yang terjaga dan terkoordinasi yang membuatnya merasa dipeluk dengan aman.
Anakmu menemukan sebuah celah dan mengujinya, sebagaimana setiap kemampuan baru memang diuji. Tutup celah itu dengan tenang, maka kamu sekaligus mengakhiri strateginya dan memberinya struktur solid yang tanpa sadar sedang dia cari tahu.
Anak itu bukan manipulator; dia menemukan sebuah celah lalu mencobanya. Tutup celah di antara kedua rumah, maka strateginya akan lenyap diam-diam, menyisakan anak yang merasa lebih terpeluk, bukan kurang.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.