dip
Belikan Kopi
A Year And Beyond

Saat anak-anak tidak suka pasanganmu

By the dip team · 11 menit baca

Saat anak-anak tidak suka pasanganmu

Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 105 · Wave 2 · Tender


Kamu sudah mengenalkan anak-anak kepada pasangan barumu. Mereka sudah bertemu beberapa kali sekarang. Dari sisimu, hubungan itu berjalan seperti biasa. Hubungan anak-anak dengan pasanganmu tidak begitu. Mereka sopan kalau pasanganmu ada. Mereka tidak menanyakannya saat pasanganmu tidak ada. Minggu lalu salah satu dari mereka mengatakan sesuatu yang menusuk, dan kamu memikirkannya terus sejak itu. Versi jujurnya, mereka memang tidak suka orang ini, dan kamu harus memikirkan apa yang mesti dilakukan.

Artikel ini membahas empat jenis rasa tidak suka, apa yang perlu kamu dengarkan di balik alasan anak-anak tidak menyukai pasanganmu, percakapan yang perlu kamu lakukan dengan anak-anak, percakapan yang perlu kamu lakukan dengan pasanganmu, dan bagaimana mengenali kapan hubungan itu dengan anak-anak memang benar-benar tidak cocok.

Empat jenis rasa tidak suka

Tidak semua rasa tidak suka itu sama. Mengenali jenis yang mana yang sedang kamu hadapi memengaruhi apa yang perlu dilakukan.

Jenis 1: Tidak suka karena penyesuaian

Anak-anak tidak suka pasanganmu karena pasanganmu orang baru. Kehadiran orang dewasa baru dalam hidup orang tua mereka memang tidak disambut, siapa pun orangnya. Mereka akan dingin pada siapa saja yang kamu kenalkan.

Cara mengenalinya: rasa tidak suka mereka bersifat umum. Mereka tidak punya keluhan yang spesifik. Cara mereka memperlakukan pasanganmu kurang lebih sama dengan cara mereka menghadapi siapa pun yang baru dalam hidupmu. Waktu dan penyatuan yang bertahap biasanya melunakkan jenis ini.

Apa yang perlu dilakukan: teruskan proses penyatuan itu dengan pelan. Jangan paksa mereka menyukai pasanganmu. Sebagian besar rasa tidak suka karena penyesuaian mereda dalam enam hingga dua belas bulan, seiring pasanganmu menjadi semakin akrab.

Jenis 2: Tidak suka karena kesetiaan

Anak-anak tidak suka pasanganmu karena menyukainya terasa seperti pengkhianatan, terhadap pernikahan yang dulu, terhadap Co-Parent, terhadap keluarga yang dulu mereka miliki. Rasa tidak suka itu bukan tentang orangnya. Ia tentang apa artinya kalau mereka menyukai orang itu.

Cara mengenalinya: mereka sopan tapi menjaga jarak. Mereka mungkin menyebut Co-Parent secara terang-terangan di depan pasanganmu. Kadang mereka tampak sedih, bukan marah, saat berada dekat pasanganmu. Mereka mungkin melaporkan keberadaan pasanganmu kepada Co-Parent dengan cara yang menunjukkan adanya tarikan kesetiaan.

Apa yang perlu dilakukan: sebut dinamika yang mendasarinya dengan lembut, secara empat mata. Bunda rasa mungkin berat ya buat kamu suka sama [Nama], karena gimana rasanya nanti buat orang tua kamu yang satunya. Kamu boleh punya hubungan sama [Nama] yang terpisah dari apa pun yang berkaitan dengan rumah yang satunya. Bunda nggak minta kamu memilih. Setelah itu, lepaskan. Jangan mendesak supaya selesai.

Jenis 3: Tidak suka yang spesifik

Anak-anak tidak suka hal-hal tertentu pada pasanganmu. Pasanganmu terlalu berisik. Dia terlalu banyak bertanya. Dia terlalu berusaha keras. Dia mengambil terlalu banyak ruang. Rasa tidak suka itu tertuju pada perilaku yang bisa diamati.

Cara mengenalinya: saat kamu tanya, mereka bisa menyebutkan yang spesifik. Dia tuh nanya-nanya soal sekolah mulu. Dia ketawain hal yang nggak lucu. Dia maksa ngajak tos terus. Keluhannya konkret.

Apa yang perlu dilakukan: tanggapi keluhan itu dengan serius. Cara anak-anak membaca perilaku orang dewasa sering kali akurat. Pasanganmu mungkin perlu menyesuaikan cara dia berinteraksi. Percakapan dengan pasanganmu soal penyesuaian itu biasanya berjalan lebih baik dari perkiraan kalau kamu membingkainya dengan hati-hati.

Jenis 4: Tidak suka yang tepat

Anak-anak tidak suka pasanganmu karena ada sesuatu yang memang benar-benar tidak beres. Pasanganmu meremehkan mereka saat kamu tidak memperhatikan. Pasanganmu mengucapkan hal-hal kecil yang melemahkan mereka. Pasanganmu menunjukkan perilaku halus terhadapmu yang ditangkap anak-anak sebelum kamu sendiri menyadarinya.

Cara mengenalinya: cara anak-anak membaca semakin tajam seiring waktu, bukannya melunak. Keluhan-keluhan itu punya pola. Perilaku pasanganmu berubah tergantung apakah kamu ada di sana atau tidak. Orang lain dalam hidupmu (sesekali) mulai menyuarakan kekhawatiran.

Apa yang perlu dilakukan: percayai cara mereka membaca. Kadang anak-anaklah yang pertama menyadari hal-hal yang sudah lama kamu yakinkan pada diri sendiri untuk tidak kamu lihat. Ini jenis yang paling serius, dan responsnya pun besar, dibahas dengan jujur dalam bagian tentang hubungan di bawah.

Sebagian besar situasi orang tua, pasangan, dan anak melibatkan satu atau dua jenis ini, kadang berlapis. Tugas pertama adalah mengenali jenis yang mana, atau jenis-jenis mana, yang sedang berlangsung.

Apa yang perlu kamu dengarkan di balik alasan mereka tidak suka pasanganmu

Cara untuk mengenali jenis rasa tidak suka yang sedang kamu hadapi adalah dengan mendengarkan baik-baik apa yang sebenarnya anak-anak katakan. Bukan jawaban di permukaan atas pertanyaan kamu suka dia nggak? tapi sinyal-sinyal yang ada di bawahnya.

Lima hal yang perlu kamu dengarkan.

1. Kespesifikan

Keluhan yang samar (dia nyebelin, dia aneh) biasanya penyesuaian atau kesetiaan. Keluhan yang spesifik (dia selalu lakuin X, dia bilang Y) biasanya tidak-suka-yang-spesifik atau tidak-suka-yang-tepat.

Semakin spesifik, semakin berat bobot rasa tidak suka itu.

2. Pengulangan

Satu keluhan biasanya bergantung pada situasi. Keluhan yang sama selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan adalah sinyal. Pola dalam apa yang mereka gambarkan adalah informasi.

Kalau tema yang sama muncul berulang kali (dia nggak bener-bener dengerin aku, dia selalu ganti topik kalau aku ngomong), tanggapi dengan serius.

3. Bahasa tubuh

Apa yang mereka katakan dengan kata-kata adalah satu saluran. Apa yang dilakukan tubuh mereka saat berada dekat pasanganmu adalah saluran lain, kadang lebih akurat. Perhatikan: tubuh yang menegang saat pasanganmu masuk ruangan, mencari-cari alasan untuk pergi saat pasanganmu datang, gerakan yang mengecil (lebih sedikit bicara, lebih sedikit tertawa) saat pasanganmu ada.

Respons tubuh lebih sulit dipalsukan daripada respons kata-kata. Kalau anak berkata aku suka kok sama dia tapi tubuhnya berkata sebaliknya, percayai tubuhnya.

4. Bagaimana mereka menggambarkan pasanganmu kepada orang lain

Dengarkan bagaimana anak-anak menggambarkan pasanganmu kepada teman, kepada keluarga, kepada Co-Parent. Gambaran kepada pihak ketiga sering kali lebih jujur daripada apa yang mereka katakan langsung kepadamu.

Kamu tidak bisa merekayasa agar tidak sengaja mendengar hal-hal ini. Saat muncul dengan sendirinya, perhatikan.

5. Apa yang tidak mereka katakan

Sebagian dari sinyal yang paling penting ada di dalam ketiadaan. Anak-anak tidak menanyakan pasanganmu. Mereka tidak membawa-bawa momen yang dibagi bersama. Mereka tidak memasukkan pasanganmu ke dalam cerita tentang minggu mereka.

Ketiadaan sebutan itu adalah bentuk bukti tersendiri. Tanggapi dengan serius.

Percakapan yang perlu kamu lakukan dengan anak-anak

Percakapan langsung, pada akhirnya, biasanya diperlukan. Tiga prinsip tentang bagaimana melakukannya.

Prinsip 1: Berdua saja, tekanan rendah

Bukan saat makan malam keluarga. Bukan di depan pasanganmu. Bukan saat kamu sedang melakukan hal lain. Sebuah momen khusus yang hanya ada kamu dan anak itu, dengan cukup ruang bagi mereka untuk bicara jujur.

Perjalanan di dalam mobil, jalan-jalan, satu malam yang tenang, hal-hal seperti ini cenderung berjalan lebih baik daripada sesi duduk bersama yang dirancang. Semakin rendah formalitasnya, semakin jujur jawaban yang cenderung keluar.

Prinsip 2: Pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan mengarahkan

Baik: Gimana perasaan kamu soal [Nama] yang makin sering ada di sini? Kurang baik: Kamu suka [Nama], kan?

Baik: Gimana rasanya kalau dia datang? Kurang baik: Kamu nggak apa-apa kan kalau dia datang?

Pertanyaan yang mengarahkan mengundang penghiburan. Pertanyaan terbuka mengundang kejujuran.

Prinsip 3: Terima tanpa berdebat

Apa pun yang mereka katakan, terima. Jangan membela pasanganmu. Jangan membingkai ulang pengalaman mereka. Jangan mencoba meyakinkan mereka bahwa cara mereka membaca itu salah.

Kalau mereka mengatakan sesuatu yang mengejutkanmu, diam dulu bersamanya. Itu membantu Bunda buat tahu. Makasih ya sudah cerita. Kalau mereka mengatakan sesuatu yang tidak kamu setujui, kamu tidak harus setuju, tapi kamu juga tidak perlu melawannya.

Percakapan itu untuk informasi, bukan untuk penyelesaian. Penyelesaian datang belakangan.

Percakapan yang perlu kamu lakukan dengan pasanganmu

Setelah kamu mengumpulkan informasi dari anak-anak, biasanya kamu perlu melakukan percakapan dengan pasanganmu. Ada tiga bentuk percakapan ini, tergantung jenis rasa tidak suka.

Untuk tidak suka karena penyesuaian

Anak-anak butuh waktu buat terbiasa sama kamu. Ini normal. Yuk kita teruskan apa yang sedang kita jalani dan jangan memaksa mereka. Mereka akan menerima dengan ritme mereka sendiri.

Ini bukan benar-benar percakapan tentang masalah. Ini sebuah penyetelan. Pasanganmu perlu tahu bahwa penyatuan yang pelan itulah kerjanya, bukan sebuah kegagalan.

Untuk tidak suka yang spesifik

Aku selama ini mendengarkan cerita anak-anak soal gimana mereka menjalani waktu bersama kamu. Mereka menyebut beberapa hal yang spesifik [sebutkan 2-3]. Bisa nggak kita lihat gimana caranya menyesuaikan sebagian dari itu?

Ini percakapan yang lebih sulit. Pasanganmu mungkin merasa dikritik. Mulailah dengan rasa hormat kepada pasanganmu, bingkai cara anak-anak membaca sebagai informasi, ajukan penyesuaian alih-alih tuntutan.

Sebagian besar pasangan, kalau diajak bicara dengan hormat seperti ini, akan menyesuaikan diri. Ada yang tidak bisa atau tidak mau. Itu pun sebuah informasi.

Untuk tidak suka yang tepat

Ini percakapan yang paling serius. Anak-anak telah menangkap sesuatu yang memang nyata. Pasanganmu perlu tahu apa yang telah teramati.

Jangan masuk dengan tuduhan. Masuklah dengan pengamatan yang spesifik. Anak-anak bilang kamu melakukan [hal yang spesifik] saat aku nggak ada di ruangan. Aku ingin memahami apa yang sedang terjadi. Lalu dengarkan.

Ada pasangan yang mendengar percakapan ini lalu menyesuaikan diri. Ada yang tidak. Ada yang menjadi defensif dengan cara yang justru menegaskan cara anak-anak membaca. Respons pasanganmu itu sendiri adalah sebuah petunjuk.

Saat hubungan itu dengan anak-anak memang benar-benar tidak cocok

Pada sebagian kecil kasus, tapi yang memang nyata, hubungan itu dengan anak-anak memang tidak cocok. Pasanganmu tidak bisa atau tidak mau menyesuaikan diri. Rasa tidak suka anak-anak bertahan atau malah menguat. Gesekannya bersifat struktural.

Saat ini benar, pasanganmu tidak bisa tetap berada dalam hidupmu pada taraf seperti sekarang. Ini berat untuk dihadapi, tapi inilah aturan yang berlaku.

Tiga prinsip.

1. Anak-anak didahulukan

Bukan karena mereka lebih penting daripada kebahagiaanmu. Karena mereka tidak memilih keadaan ini, dan kamu yang memilihnya. Ketimpangan dalam hal pilihan itulah yang menciptakan ketimpangan dalam hal prioritas.

Kalau hubungan itu menuntut anak-anak untuk hidup dengan kerusakan yang berlangsung terus, hubungan itu tidak bisa diteruskan pada tarafnya sekarang.

2. Jangan mencoba menunggunya berlalu dengan mengorbankan anak-anak

Kalau kepedihan anak-anak terhadap pasanganmu bertahan dan signifikan, menunggu lebih lama biasanya tidak membantu. Semakin lama berlangsung, semakin besar harganya bagi mereka. Bertindak lebih awal biasanya lebih kecil harganya daripada bertindak belakangan.

3. Mengakhiri atau menata ulang hubungan adalah pilihan yang nyata

Kadang langkah yang tepat adalah mengakhiri hubungan itu. Kadang langkah yang tepat adalah menatanya ulang (pasanganmu tidak hadir saat anak-anak ada, kamu bertemu dia di luar rumah, hubungan itu diteruskan dalam bentuk yang berbeda).

Keduanya pilihan yang nyata. Mana pun terasa berat. Tidak satu pun yang merupakan kegagalan. Ada hubungan yang memang tidak cocok dengan kehidupan yang benar-benar sedang kamu jalani.

Saat kamu tergoda untuk mengesampingkan anak-anak

Ada satu godaan tertentu yang perlu disebut. Hubungan itu terasa baik bagimu. Pasanganmu memenuhi kebutuhan yang kamu sampai lupa kamu punya. Penolakan anak-anak terasa seperti sebuah penghalang.

Saat kamu berada dalam keadaan ini, godaannya adalah mengesampingkan rasa tidak suka mereka. Mendesak mereka lebih keras supaya mau berinteraksi dengan pasanganmu. Membingkai rasa tidak suka mereka sebagai sesuatu yang harus mereka lewati. Memakai otoritas untuk memaksa mereka menurut.

Jangan.

Mengesampingkan rasa tidak suka anak-anak terhadap pasangan baru adalah salah satu hal paling merusak yang bisa kamu lakukan di masa ini. Harganya muncul belakangan: di masa remaja, dalam hubungan mereka denganmu saat dewasa, dalam kemampuan mereka untuk memercayai cara mereka sendiri membaca orang. Tindakan mengesampingkan itu punya akibat jangka panjang yang tidak terlihat pada saat itu.

Kalau kamu mendapati dirimu ingin mengesampingkan, itu sebuah sinyal. Entah hubungan itu sudah menjadi lebih penting bagimu daripada kesejahteraan anak-anak (yang perlu ditelaah), atau kamu sedang kekurangan dukungan dalam suatu hal dan hubungan itu sedang menjadi penggantinya (yang perlu ditangani secara terpisah).

Apa pun ceritanya, mengesampingkan bukan jawabannya.

Apa yang perlu dilakukan kalau anak-anak menerima dengan pelan

Satu hal yang bisa menenangkan, yang layak ditawarkan. Sebagian besar hubungan pasangan dengan anak pada akhirnya mengendap menjadi sesuatu yang bisa berjalan, bahkan ketika masa awalnya sulit.

Enam hingga dua belas bulan penyatuan yang sabar dan pelan biasanya menghasilkan keseimbangan yang bisa berjalan, meski ada penolakan di awal. Bukan cinta. Bukan kedekatan. Sekadar bisa berjalan.

Kalau hubungan itu tepat, dan pasangan itu tepat, dan penyatuan itu diatur ritmenya dengan tepat, penolakan anak-anak biasanya akan melunak. Tidak selalu, tapi sering.

Kerja di masa ini adalah menjaga ritme yang pelan, menanggapi sinyal anak-anak dengan serius, menyesuaikan bentuk hubungan saat diperlukan, dan membiarkan waktu melakukan tugasnya. Keadaan akhirnya biasanya baik-baik saja. Masa pertengahannya saja yang tidak nyaman.

Rujukan cepat

Empat jenis rasa tidak suka:

  1. Tidak suka karena penyesuaian (umum, mereda seiring waktu).
  2. Tidak suka karena kesetiaan (tentang apa artinya kalau menyukai).
  3. Tidak suka yang spesifik (keluhan konkret tentang perilaku).
  4. Tidak suka yang tepat (anak-anak menangkap sesuatu yang memang nyata).

Lima hal yang perlu kamu dengarkan di balik alasan mereka tidak suka pasanganmu:

  1. Kespesifikan keluhan.
  2. Pengulangan tema.
  3. Bahasa tubuh dibanding laporan kata-kata.
  4. Bagaimana mereka menggambarkan pasanganmu kepada orang lain.
  5. Apa yang tidak mereka katakan (ketiadaan sebutan).

Percakapan dengan anak-anak, tiga prinsip:

  1. Berdua saja, tekanan rendah.
  2. Pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan mengarahkan.
  3. Terima tanpa berdebat.

Percakapan dengan pasanganmu, tiga bentuk:

  • Penyesuaian: penyetelan, bukan percakapan tentang masalah.
  • Spesifik: penuh hormat, bingkai sebagai informasi, ajukan penyesuaian.
  • Tepat: pengamatan yang spesifik, dengarkan responsnya, responsnya itu sendiri sebuah petunjuk.

Saat hubungan dengan anak-anak memang benar-benar tidak cocok:

  1. Anak-anak didahulukan (ketimpangan pilihan menciptakan ketimpangan prioritas).
  2. Jangan mencoba menunggunya berlalu dengan mengorbankan mereka.
  3. Mengakhiri atau menata ulang hubungan adalah pilihan yang nyata.

Jangan sekali-kali mengesampingkan rasa tidak suka anak-anak terhadap pasangan baru, ada akibat jangka panjang.

Apa yang perlu dilakukan kalau mereka menerima dengan pelan:

  • Sebagian besar hubungan pasangan dengan anak pada akhirnya mengendap jadi bisa berjalan.
  • 6-12 bulan penyatuan yang sabar dan pelan biasanya menghasilkan keseimbangan.
  • Masa pertengahannya tidak nyaman; keadaan akhirnya biasanya baik-baik saja.

Penutup

Cara anak-anak membaca pasanganmu itu adalah informasi, bukan suara bising. Kamu bisa sedang jatuh cinta pada seseorang dan tetap mendengar apa yang sedang anak-anakmu beritahukan kepadamu tentang orang itu.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.