dip
Belikan Kopi
A Year And Beyond

Ketika anak-anak bertanya tentang Tuhan, roh, atau kenapa

By the dip team · 9 menit baca

Ketika anak-anak bertanya tentang Tuhan, roh, atau kenapa

Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 78 · Wave 3


Pertanyaan itu datang di waktu yang tak terduga. Bunda, Tuhan masih sayang Ayah dan Bunda nggak? Kalau kita berdoa, apa semuanya bisa balik kayak dulu? Kenapa ini bisa terjadi kalau Tuhan itu baik? Pertanyaan anak soal hal-hal keimanan, selama dan setelah perpisahan, berbeda dari pertanyaan soal lokasi di Artikel 03 dan pertanyaan soal teman keluarga di Artikel 114. Ini adalah pertanyaan tentang makna, yang ditanyakan oleh anakmu sendiri, sering kali tentang kerangka iman yang selama ini kamu pakai untuk membesarkan mereka. Cara kamu menjawab itu penting, karena sebagian dari hubungan mereka sendiri dengan kerangka itu sedang terbentuk lewat jawaban-jawabanmu.

Artikel ini membahas apa yang sebenarnya ditanyakan anak-anak, empat kategori pertanyaan yang umum, apa yang bisa dikatakan dengan cara yang jujur tanpa membebani mereka, bagaimana menghadapi pertanyaan ketika imanmu sendiri sedang retak, bagaimana menghadapinya ketika imanmu justru semakin dalam, dan apa yang harus dilakukan ketika mereka menanyakan pertanyaan yang tak bisa kamu jawab.

Apa yang sebenarnya ditanyakan anak-anak

Pertanyaan harfiahnya soal keimanan. Pertanyaan yang sesungguhnya biasanya sesuatu yang spesifik tentang diri mereka.

Empat hal yang umum ada di baliknya.

1. Mereka ingin kepastian bahwa kerangka itu masih berlaku. Perpisahan itu telah mengguncang rasa keteraturan mereka. Kalau Tuhan, atau dharma, atau struktur moral yang dalam itu masih bekerja, berarti dunia masih bisa diandalkan. Pertanyaan itu sedang memeriksa apakah kerangka itu masih kokoh.

2. Mereka sedang berusaha memahami apa yang terjadi. Anak-anak memakai kerangka itu untuk memaknai peristiwa. Kerangka itu seharusnya menata pernikahan, keluarga, cara hidup berjalan. Perpisahan itu tidak pas dengan semua itu. Pertanyaan mereka adalah bagian dari usaha memikirkan bagaimana kerangka itu menjelaskan hal yang tidak pas.

3. Mereka sedang menguji apa yang boleh mereka pikirkan. Anak-anak memperhatikan pertanyaan seperti apa yang bisa diterima oleh orang tuanya. Cara mereka bertanya itu sebagian adalah ujian, apakah pertanyaan ini boleh diajukan, dan seperti apa nanti tanggapannya.

4. Mereka sedang mengelola perasaan mereka sendiri lewat kerangka itu. Bagi anak yang punya imannya sendiri yang aktif, kerangka itu adalah sumber kekuatan. Pertanyaan itu kadang adalah bagian dari memakai sumber itu untuk menghadapi apa yang sedang mereka rasakan.

Jawaban yang tepat menyambut pertanyaan di baliknya tanpa berceramah. Singkat, jujur, disesuaikan dengan usia.

Empat kategori pertanyaan yang umum

Pertanyaan-pertanyaan keimanan itu cenderung berkelompok.

Kategori 1: Pertanyaan tentang keadilan

Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa ini hukuman? Apa kita ini jahat?

Ini soal keadilan dan hubungan kerangka itu dengan penderitaan. Pertanyaan ini sulit karena jawaban kerangka tentang penderitaan sering kali adalah bagian iman yang paling berat dalam tradisi mana pun.

Apa yang bisa dikatakan: singkat, jujur, tanpa berpura-pura punya jawaban yang sebenarnya tidak kamu punya. Bunda rasa ini bukan hukuman. Bunda rasa hal yang berat memang kadang terjadi, dan kita nggak selalu tahu kenapa. Orang tetap dicintai meski sedang melewati hal yang berat. Untuk pembingkaian yang spesifik bernuansa agama: Tuhan nggak membuat keluarga berpisah. Manusia yang melakukannya, kadang, ketika tetap bersama justru akan lebih buruk. Kita nggak sedang dihukum.

Kategori 2: Pertanyaan apakah-mereka-masih

Tuhan masih sayang Bunda nggak meski Bunda yang pergi? Ayah masih masuk surga nggak? Kita masih akan ke [tempat ibadah itu] nggak?

Ini soal apakah janji-janji baik dari kerangka itu masih berlaku untuk keluargamu dalam susunannya yang baru. Pertanyaan ini biasanya tentang kekhawatiran tertentu yang anak serap dari suatu tempat, dari ajaran tradisimu, dari hal yang dikatakan orang, dari hal yang mereka cemaskan.

Apa yang bisa dikatakan: kepastian yang jelas. Iya. Tuhan masih sayang kita berdua. Nggak ada yang berubah soal itu gara-gara perpisahan ini. Atau versi yang setara dalam istilah tradisimu. Jangan diperpanjang; kepastian itulah intinya.

Kategori 3: Pertanyaan apakah-bisa-memperbaikinya

Kalau kita berdoa cukup kuat, apa Bunda dan Ayah bisa balik bersama? Kalau aku benar-benar baik, apa Tuhan akan menghentikan ini?

Ini soal apakah kerangka itu bisa membatalkan apa yang sudah terjadi. Pertanyaan ini menyingkapkan harapan seorang anak bahwa kerangka itu punya kuasa yang bisa mereka raih lewat usaha.

Apa yang bisa dikatakan: jujur, lembut, tanpa menghancurkan. Berdoa itu baik dan banyak gunanya. Tapi doa nggak membuat orang yang sudah memutuskan untuk hidup terpisah kembali hidup bersama. Bukan itu tujuan doa. Hati-hati supaya tidak melemahkan hubungan mereka dengan doa atau ibadah; cukup jelaskan apa yang bisa dan tak bisa dilakukan doa.

Kategori 4: Pertanyaan yang lebih besar

Kenapa ada rasa sakit? Apa yang terjadi kalau keluarga berpisah? Apa kata agama kita soal perceraian?

Ini pertanyaan keimanan yang lebih besar, kadang dipicu oleh keadaan itu sendiri. Anak sedang menyelami kerangka itu pada tingkat yang lebih dalam dari sebelumnya.

Apa yang bisa dikatakan: bingkai yang singkat, lalu ajakan untuk percakapan yang berlanjut. Itu pertanyaan yang besar. Tradisi yang berbeda menjawabnya dengan cara yang berbeda. Tradisi kita bilang [versi singkat yang jujur]. Kita bisa terus mengobrolkannya. Jangan menyampaikan ceramah; pintu yang terbuka itulah yang mereka butuhkan.

Bagaimana jujur tanpa membebani

Lima prinsip.

1. Sesuaikan jawaban dengan usia mereka

Anak usia enam tahun butuh kosakata keimanan yang berbeda dari anak usia empat belas tahun. Jangan mencoba menyampaikan ajaran yang belum bisa mereka tampung. Jangan kabur di tempat yang sebenarnya bisa mereka pahami secara spesifik.

Penyesuaian usia ini adalah keterampilan yang sama seperti di Artikel 03 dan 114. Isinya di sini berbeda; cara menyesuaikannya serupa.

2. Jangan berpura-pura yakin saat kamu tidak yakin

Kalau kamu tidak tahu kenapa Tuhan membiarkannya terjadi, jangan bilang kamu tahu. Bunda nggak sepenuhnya tahu kenapa itu jujur dan tidak merusak iman mereka. Berpura-pura yakin menghasilkan iman yang dibangun di atas kebohongan, dan itu lebih rapuh daripada iman yang dibangun di atas ketidakpastian yang diakui dengan jujur.

3. Jangan menyeret mereka ke dalam pergulatan imanmu

Hubunganmu sendiri dengan kerangka itu, entah sedang mendalam, sedang retak, atau di tengah-tengah, bukan hal yang harus mereka tanggung. Jangan bilang ke mereka bahwa kamu sudah tidak yakin lagi soal Tuhan. Jangan bilang ke mereka bagaimana tradisi itu telah mengecewakanmu. Mereka sedang membentuk hubungan mereka sendiri; jangan sampai hubunganmu menjadi proyek yang harus mereka tangani.

4. Biarkan pintunya terbuka

Sebagian besar pertanyaan keimanan tidak terjawab dalam satu kali percakapan. Kita bisa terus mengobrolkan ini membiarkan pintunya terbuka. Anak akan kembali ke pertanyaan-pertanyaan itu selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

5. Bersedialah berkata Bunda nggak tahu

Ini yang paling sulit bagi banyak orang tua. Mengatakan Bunda nggak tahu, itu juga sesuatu yang Bunda pertanyakan kadang adalah jawaban yang paling jujur. Itu juga mengajari anak bahwa orang dewasa tidak harus sudah punya jawaban atas segalanya, dan itu sendiri adalah pelajaran keimanan yang berharga.

Ketika imanmu sendiri sedang retak

Kalau hubunganmu dengan kerangka itu sedang retak (Artikel 76), pertanyaan anak menjadi lebih sulit. Jawaban jujurmu tidak sepenuhnya tersedia. Tiga prinsip.

1. Jangan menularkan keretakan itu

Apa pun yang sedang terjadi dengan imanmu sendiri, jangan menjadikan anak bagian darinya. Bunda sudah nggak percaya semua itu lagi yang disampaikan kepada anak yang masih aktif dalam tradisinya itu melukai. Iman mereka tidak harus retak hanya karena imanmu retak.

2. Arahkan ke sumber lain

Kalau kamu tidak bisa menjawab pertanyaan itu dari keadaanmu saat ini, arahkan mereka kepada orang yang bisa. Co-Parent kalau dia yang memegang tradisi itu. Seseorang yang dipercaya di komunitas. Seorang guru tertentu. Pendidikan agama mereka di sekolah kalau memang relevan. Itu pertanyaan yang bagus buat [orang]. Dia bisa mengobrolkannya sama kamu lebih baik dari Bunda untuk saat ini.

3. Jujur soal keterbatasanmu tanpa membeberkan detailnya

Seorang anak bisa diberi tahu Bunda lagi melewati masa yang berat dengan iman Bunda sendiri, tapi Bunda mau imanmu tetap kuat tanpa diberi tahu isi keretakan itu. Ini jujur, sesuai usia, dan melindungi mereka dari hal yang seharusnya tidak perlu mereka cerna.

Ketika imanmu justru semakin dalam

Kalau hubunganmu dengan kerangka itu justru semakin dalam (Artikel 75), pertanyaan anak terasa berbeda. Jawaban jujurmu tersedia. Dua prinsip.

1. Jangan menjadikan pendalaman itu sebuah pelajaran

Godaan ketika imanmu sendiri semakin dalam adalah mengajar panjang lebar. Tahan. Jawaban yang singkat. Kedalaman itu terpancar lewat mutu jawaban, bukan lewat panjangnya.

2. Jangan mengaitkan pendalaman itu dengan perpisahan di benak mereka

Bunda melewati masa berat ini dengan iman yang lebih kuat dan kamu juga nanti begitu meletakkan beban pada anak untuk turut menghasilkan pendalaman. Mereka mungkin iya, mungkin juga tidak; pendalaman itu tidak bisa dihasilkan sesuai permintaan. Biarkan pengalamanmu menjadi milikmu; biarkan pengalaman mereka menjadi milik mereka.

Apa yang harus dilakukan ketika mereka menanyakan hal yang tak bisa kamu jawab

Kadang pertanyaannya memang di luar apa yang bisa kamu jawab. Kenapa ini harus terjadi? yang ditanyakan oleh anak yang rasa sakitnya tak bisa kamu sembuhkan.

Tiga hal yang bisa dilakukan.

1. Diamlah bersama pertanyaan itu, bersama mereka

Jangan tergesa menjawab. Pertanyaan itu sebagian adalah luapan rasa sakit. Diam bersama rasa sakit itu, secara fisik dekat dengan mereka, hadir, adalah bagian dari apa yang mereka butuhkan.

2. Jujur soal ketidaktahuanmu

Bunda nggak tahu. Bunda juga menanyakan hal yang sama. Bunda belum menemukan jawaban yang benar-benar pas. Kita berdua harus terus menanyakannya. Ini jujur, tidak berpura-pura, dan tidak meninggalkan mereka sendirian bersama pertanyaan itu.

3. Tegaskan apa yang memang kamu tahu

Bahkan ketika kenapanya tak bisa dijawab, ada beberapa hal yang memang kamu tahu. Bunda tahu kita berdua sayang kamu. Bunda tahu kamu nggak bersalah atas apa yang terjadi. Bunda tahu kita akan baik-baik saja. Bagian-bagian yang diketahui itu menjadi sauh ketika bagian-bagian yang tidak diketahui terasa nyaring.

Ketika hubungan anak dengan kerangka itu berbeda dari hubunganmu

Kadang anak justru membentuk hubungan yang lebih dalam atau lebih tahan lama dengan kerangka itu dibanding kamu. Mereka cocok dengannya. Mereka ingin ikut serta. Mereka punya imannya sendiri yang tidak kamu bagi, atau tidak kamu bagi dengan kadar yang sama.

Tiga prinsip.

1. Dukung iman mereka meski kamu tidak membaginya

Hubungan mereka dengan kerangka itu adalah milik mereka. Dukung keterlibatan mereka. Beresi hal-hal praktisnya, antarkan mereka ke ibadah, dukung pendidikan agamanya, izinkan mereka menjaga amalannya. Dukungan itu tidak menuntut kamu untuk ikut meyakini iman mereka.

2. Jangan menggerogotinya

Jangan melontarkan komentar meremehkan yang halus. Jangan memutar bola mata ketika mereka berdoa. Jangan memberi sinyal kepada mereka bahwa kamu menganggap iman mereka naif. Pembentukan kerangka mereka sendiri layak dihormati, bahkan oleh orang tua yang sedang berada di tempat lain dengan iman itu.

3. Biarkan mereka punya guru dan komunitasnya sendiri

Perkembangan keagamaan mereka bisa didukung oleh orang lain selain kamu, Co-Parent kalau dia yang memegang tradisi itu, para pendidik agama, komunitas. Jangan menjadi satu-satunya orang dewasa yang membentuknya. Biarkan orang lain ikut berkontribusi.

Rujukan cepat

Empat hal yang sebenarnya ditanyakan anak-anak:

  1. Kepastian bahwa kerangka itu masih berlaku.
  2. Pemahaman tentang apa yang terjadi.
  3. Pengujian apa yang boleh mereka pikirkan.
  4. Pengelolaan perasaan mereka lewat kerangka itu.

Empat kategori pertanyaan keimanan yang umum:

  1. Keadilan (kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi).
  2. Apakah-mereka-masih (apakah janji-janji kerangka itu masih berlaku).
  3. Apakah-bisa-memperbaikinya (bisakah doa/ibadah membatalkan apa yang terjadi).
  4. Pertanyaan yang lebih besar (rasa sakit, perceraian, apa kata agama).

Lima prinsip untuk jujur tanpa membebani:

  1. Sesuaikan jawaban dengan usia mereka.
  2. Jangan berpura-pura yakin.
  3. Jangan menyeret mereka ke dalam pergulatan imanmu.
  4. Biarkan pintunya terbuka.
  5. Bersedialah berkata Bunda nggak tahu.

Ketika imanmu sedang retak:

  • Jangan menularkan keretakan itu.
  • Arahkan ke sumber lain.
  • Jujur soal keterbatasan tanpa detail.

Ketika imanmu semakin dalam:

  • Jangan menjadikan pendalaman sebuah pelajaran.
  • Jangan mengaitkan pendalaman dengan perpisahan di benak mereka.

Ketika mereka menanyakan hal yang tak bisa kamu jawab:

  • Diamlah bersama pertanyaan itu.
  • Jujur soal ketidaktahuanmu.
  • Tegaskan apa yang memang kamu tahu.

Ketika hubungan kerangka mereka berbeda dari hubunganmu:

  • Dukung iman mereka meski kamu tidak membaginya.
  • Jangan menggerogotinya.
  • Biarkan mereka punya guru dan komunitasnya sendiri.

Penutup

Pertanyaan anak soal keimanan selama dan setelah perpisahan adalah pertanyaan yang sungguhan, bukan fase yang akan lewat. Jawablah seperti kamu sendiri ingin dijawab oleh orang dewasa: dengan jujur, dengan singkat, dengan pintu yang terbuka untuk lain kali.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.