
Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 122 · Wave 2 · Lembut
Kamu sedang di suatu tempat yang biasa-biasa saja. Sebuah dapur, di dalam mobil, sebuah kafe, jalan-jalan bareng teman. Ada hal lucu terjadi, dan kamu tertawa, dan tawa itu naik betul-betul dari suatu tempat yang sudah lama tidak mengeluarkannya. Bukan tawa sopan yang kamu lakukan berbulan-bulan ini, yang tersangkut di tenggorokan dan menahan diri di tengah jalan keluarnya. Tapi tawa yang sungguhan. Dan tepat di belakangnya, setengah terkejut, datang satu lintasan pikiran: oh, di situ ternyata aku.
Artikel ini soal tawa itu. Tawa pertama yang tanpa syarat, yang tidak ada tanda bintangnya, setelah satu rentang panjang tawa yang selalu ada syarat menempel padanya. Kenapa ia lebih bermakna daripada yang kelihatan, kenapa ia kadang datang bersama rasa bersalah, dan apa yang sedang ia sampaikan kepadamu.
Tawa yang bersyarat
Selama hampir sepanjang tahun pertama, tawa yang kamu lakukan itu bersyarat. Ia bekerja menyiasati duka. Ia cukup nyata pada saatnya, lalu ia mendarat kembali ke dalam beratnya, seolah berat itulah garis dasarnya dan tawa itu cuma tamu sebentar yang harus pergi. Kamu bisa menertawakan satu lelucon dan tetap merasakan kesedihan itu duduk di bawahnya sepanjang waktu. Tawanya tidak sampai ke dasar.
Itu wajar, dan ia bukan kepura-puraan. Itulah yang dilakukan tawa selama kamu sedang berduka. Kemampuannya ada, tapi volumenya dikecilkan, karena sebagian dirimu masih memegang beban itu, dan kamu tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri kepada sebuah tawa selagi kamu memeluk sesuatu dengan kedua tangan.
Apa yang berbeda dari yang tanpa syarat
Tawa yang tanpa syarat adalah tawa yang, sepanjang durasinya, bebannya tidak ada. Bukan ditahan. Cuma, untuk saat itu, betul-betul tidak hadir. Tawanya sampai ke dasar karena dasarnya, sejenak, lapang.
Ia biasanya membuatmu terkejut, karena kamu tidak memutuskan untuk merasa lebih baik. Kamu tidak sedang mengerjakan pemulihanmu pada saat itu. Kamu cuma sedang menjalani hidup, dan tawa itu datang dengan sendirinya, dan justru itulah intinya: ia bukti bahwa pemulihan itu sudah terjadi di bawah kesadaranmu, di latar belakang, tanpa kamu mengurusnya. Tubuhmu sembuh sedikit saat kamu tidak sedang memperhatikan, dan tawa itulah tanda buktinya.
Kenapa ia bisa datang bersama rasa bersalah
Bagi sebagian orang, tawa sungguhan yang pertama langsung diikuti satu penurunan yang aneh, sebuah rasa yang menyerupai rasa bersalah. Boleh nggak sih aku tertawa kayak gitu? Apa terlalu cepat? Apa artinya kalau aku bisa?
Rasa bersalah itu berjalan di atas satu persamaan yang sunyi dan keliru: bahwa menjadi baik-baik saja berarti pernikahan itu tidak penting, atau bahwa kegembiraan sekarang adalah sejenis pengkhianatan terhadap duka, atau terhadap keluarga yang dulu ada. Tidak satu pun dari itu yang benar. Kamu bisa tertawa sepenuhnya dan tetap pernah menyayangi apa yang hilang darimu. Tawa itu tidak menghapus duka atau mengecilkan apa yang dulu nyata. Duka dan kegembiraan tidak berada pada satu tombol tunggal yang lebih banyak satu berarti lebih sedikit yang lain. Keduanya berjalan di jalur yang terpisah, dan hari ketika keduanya berjalan pada volume penuh bukanlah pengkhianatan terhadap salah satunya. Itu cuma rasa dari sebuah hidup yang utuh.
Kalau rasa bersalah itu datang, biarkan ia lewat tanpa terlalu keras berusaha membujuk dirimu keluar darinya. Ia sebuah refleks lama, dan ia memudar seiring semakin banyaknya tawa tanpa syarat yang kamu kumpulkan.
Apa yang sedang ia sampaikan kepadamu
Tawa sungguhan yang pertama adalah sebuah penanda, seperti malam pertama kamu tidur nyenyak penuh atau Sabtu pertama yang kamu lalui sendirian tanpa kamu cemaskan. Ia sedang memberitahumu bahwa rentang dirimu sedang kembali. Untuk waktu yang lama, rentang emosimu termampat ke dalam jalur sempit antara mati rasa dan sedih. Tawa yang tanpa syarat adalah puncak rentang itu yang kembali, dan di tempat puncak itu kembali, sisanya menyusul: keceriaan, rasa menanti dengan antusias, kekonyolan, kemampuan untuk dibawa hanyut oleh sesuatu yang baik.
Ia juga sedang menyampaikan sesuatu tentang siapa dirimu yang sedang terbentuk. Tawa yang naik betul-betul itu sering kali sedikit berbeda dari tawa di masa pernikahan. Orang kadang menyadari mereka kini menertawakan hal-hal yang berbeda, atau lebih gampang, atau lebih keras. Diri yang sedang tersusun kembali punya selera humornya sendiri, dan tawa sungguhan yang pertama adalah salah satu tempat paling awal kamu mendengarnya.
Cara membiarkan lebih banyak yang masuk
Kamu tidak bisa memproduksi sebuah tawa yang tanpa syarat, dan mencobanya cuma menghasilkan jenis yang bersyarat. Tapi kamu bisa menciptakan keadaan yang membiarkannya terjadi lebih sering.
Beradalah di sekitar orang-orang yang selalu bikin kamu tertawa. Humor itu menular dan bersifat relasional. Teman-teman yang mengenalmu sejak dulu, yang dengannya ada kedekatan yang gampang, sering kali di situlah tawa sungguhan yang pertama kembali, karena mereka tidak memperlakukanmu dengan hati-hati. Mereka cuma sedang melucu ke arahmu, seperti yang selalu mereka lakukan.
Biarkan dirimu menonton, membaca, mendengarkan hal-hal yang murni untuk bersenang-senang, tanpa tujuan memperbaiki diri. Tahun pertama berat oleh yang serius, yang terapeutik, yang memproses. Komedi juga obat. Izin untuk menganggap sesuatu lucu adalah bagian dari pemulihan, bukan pengalih dari pemulihan.
Dan ketika yang sungguhan itu datang, perhatikanlah. Bukan dengan cara yang mematikannya, tapi setelahnya, dengan tenang. Tadi itu tawa yang sungguhan. Menandainya, dengan ringan, membantumu mencatat bahwa ia semakin sering, dan ia memang semakin sering.
Penutup
Tawa pertama yang tanpa syarat adalah hal kecil yang bermakna hal besar: bagian dalam dirimu yang volumenya dikecilkan oleh duka sedang kembali naik, dengan sendirinya, tanpa diminta. Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk melayakkannya atau melindunginya. Kamu cuma perlu membiarkannya terjadi, dan membiarkan rasa bersalah yang kadang mengejarnya berlalu, dan percaya pada apa yang sedang ia sampaikan, yaitu bahwa kamu masih ada di dalam sana, seluruh dirimu, dan kamu sedang kembali.
Rujukan cepat
- Tawa yang bersyarat bekerja menyiasati duka; yang tanpa syarat sampai ke dasar karena bebannya, untuk saat itu, tidak ada.
- Ia mengejutkanmu karena pemulihan sudah terjadi di bawah kesadaranmu. Tawa itulah tanda buktinya.
- Kalau rasa bersalah menyusul, ia berjalan di atas persamaan yang keliru: kegembiraan sekarang bukan pengkhianatan terhadap apa yang hilang darimu. Duka dan kegembiraan berjalan di jalur yang terpisah.
- Ia menandakan rentang emosimu yang penuh sedang kembali, dan sering kali selera humor yang sedikit baru.
- Kamu tidak bisa memaksakannya, tapi kamu bisa berada dekat orang-orang yang lucu dan membiarkan dirimu menikmati sesuatu tanpa alasan.
Kamu bisa tertawa naik sampai puncaknya dan tetap pernah menyayangi apa yang hilang darimu. Kegembiraan tidak diambil dari duka. Keduanya berjalan di jalur yang terpisah.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.