
Tahap 3 · Satu tahun dan seterusnya · Artikel 115 · Wave 3
Kamu akan menyadarinya pada suatu Sabtu di acara olahraga sekolah anak, atau di pesta ulang tahun anak tetangga, atau dari cara orang tua lain saat menjemput anak pulang sekolah sudah mulai terasa akrab. Orang-orang di sekitar hidupmu punya bentuk sekarang. Setahun lalu, belum. Sebagian datang lewat persahabatan yang makin dalam. Sebagian datang lewat komunitas sekolah. Sebagian datang dari kegiatan baru yang kamu mulai. Sebagian datang lewat pertemanan anak-anakmu. Tak ada satu pun yang direncanakan. Menjelang Tahap 3, komunitas yang tak kamu sadari sedang kamu bangun itulah komunitas yang kamu punya.
Artikel ini membahas apa sebenarnya yang membentuk komunitas Tahap 3, empat jenis hubungan di dalamnya, bagaimana ia berbeda dari komunitas zaman pernikahan, kenapa sebagian besarnya tidak direncanakan, apa yang bisa kamu lakukan untuk menjadikannya lebih disengaja mulai sekarang, dan apa yang ia berikan sepanjang tahun-tahun ke depan.
Apa sebenarnya yang membentuk komunitas Tahap 3
Kata komunitas itu kabur. Bagi orang tua Tahap 3, biasanya ia berarti sesuatu yang spesifik, satu set hubungan berlapis yang menghasilkan infrastruktur praktis dan emosional dalam hidup setelah perpisahan.
Lima lapisan.
1. Persahabatan yang makin dalam. Sedikit teman yang melewati masa itu dan keluar lebih dekat dari sebelumnya. Lapisan inti.
2. Lingkaran aktif. Kelompok teman yang lebih luas yang kamu temui rutin. Nongkrong, makan malam, kegiatan bersama. Ini persahabatan yang berjalan pada kedalaman sedang dan terjaga oleh kontak ringan yang berulang.
3. Kontak fungsional. Tetangga. Orang tua di gerbang sekolah. Orang-orang dalam kehidupan kerjamu. Orang tua dari teman-teman anakmu. Perkakas kehidupan sehari-hari. Mereka bukan teman dalam arti sebenarnya, tapi juga bukan orang asing. Kontak fungsional inilah yang membuat minggumu berjalan.
4. Keluarga yang terlibat. Anggota keluarga, saudara kandung, orang tua, kadang sepupu, kadang kerabat yang lebih jauh, yang terlibat secara praktis dan emosional dalam hidupmu sekarang. Tingkat keterlibatan ini berbeda-beda dari satu keluarga ke keluarga lain. Bahkan ketika ada, biasanya jumlahnya lebih sedikit ketimbang persahabatan, tapi lebih kokoh dari sisi struktur.
5. Orang baru yang bermunculan. Tambahan terbaru. Seorang teman baru dari konteks baru. Pasangan baru kalau kamu sedang berkencan. Orang baru lewat pekerjaan atau minatmu. Lapisan baru ini kecil tapi nyata.
Bentuk keseluruhan dari lima lapisan ini adalah komunitasmu. Ia lebih besar daripada yang biasanya kamu sadari, dan menyadari keberadaannya adalah bagian dari Tahap 3.
Empat jenis hubungan di dalamnya
Kalau kamu melihat lintas lapisan itu, hubungan-hubungannya terbagi ke dalam empat jenis.
Jenis 1: Hubungan yang perlu dirawat
Hubungan ini butuh masukan terus-menerus untuk bertahan. Persahabatan, anggota keluarga yang kamu jaga kedekatannya, ikatan komunitas tertentu. Ia butuh perhatian. Ia membalas setimpal dengan apa yang kamu beri.
Sebagian besar komunitas aktifmu adalah hubungan yang perlu dirawat. Perawatannya sepadan dengan nilainya.
Jenis 2: Hubungan yang tertidur
Hubungan ini tertidur tapi bisa dihidupkan kembali. Orang yang akan kamu hubungi kalau terjadi sesuatu yang penting. Teman lama yang akan senang mendengar kabarmu. Keluarga yang jarang kamu hubungi tapi akan ada saat dibutuhkan.
Hubungan ini tidak butuh dirawat untuk bertahan. Ia diam di sana, siap kalau diperlukan, sering tidak terpakai bertahun-tahun. Keberadaannya tetap berarti bahkan saat ia tertidur.
Jenis 3: Hubungan fungsional
Hubungan ini terikat pada konteks tertentu. Tempat kerja, sekolah, lingkungan tempat tinggal, kelompok kegiatan. Ia berfungsi di dalam konteks itu dan biasanya tidak meluas melampauinya. Sebagian berubah menjadi persahabatan seiring waktu, tapi sebagian besar tidak.
Hubungan fungsional kadang dipandang sebelah mata. Ia nyata. Ia membuat hidup berjalan. Ia tidak harus menjadi lebih dari apa adanya.
Jenis 4: Hubungan yang sedang tumbuh
Hubungan yang sedang terbentuk. Teman baru yang sudah mulai kamu sisihkan waktu untuknya. Tetangga yang sedang kamu kenali. Kemungkinan hubungan asmara. Ini semua masih di fase awal dan masa depannya belum jelas.
Sebagian besar tidak akan berkembang menjadi hubungan jangka panjang. Sebagian akan. Tugasnya adalah hadir untuknya sebagaimana adanya sekarang, tanpa memaksanya menjadi lebih.
Bagaimana ia berbeda dari komunitas zaman pernikahan
Komunitas Tahap 3 berbeda secara struktur dari apa yang kamu punya selama pernikahan. Lima perbedaan.
1. Ia tersusun di sekeliling kamu, bukan di sekeliling pasangan. Selama pernikahan, sebagian besar komunitasmu bersifat bersama, teman-teman pasangan, acara dua keluarga besar, lingkaran sosial yang sama. Komunitas Tahap 3 tersusun di sekeliling hidup individumu. Peralihan ini salah satu perubahan struktur yang lebih besar yang dihasilkan oleh perpisahan.
2. Ia lebih kecil. Sebagian besar orang tua berakhir dengan jumlah hubungan yang lebih sedikit setelah perpisahan dibanding saat menikah. Pengurangan itu bukan kekurangan, melainkan penyetelan terhadap kapasitas satu kehidupan tunggal.
3. Ia lebih dalam di tempat-tempat tertentu. Sebagian hubungan tertentu menjadi lebih dalam dibanding saat pernikahan. Kedalaman itu sering menggantikan keluasan.
4. Ia lebih langsung menjadi milikmu. Hubungan selama pernikahan mencakup beberapa yang sebenarnya teman Co-Parent yang kebetulan kamu kenal juga. Hubungan Tahap 3 adalah orang-orang yang kamu pilih, lebih daripada orang-orang yang datang sepaket dengan pernikahan.
5. Ia lebih disengaja dibangun. Komunitas zaman pernikahan sebagian diwarisi dan sebagian terkumpul mengikuti tahap hidup. Komunitas Tahap 3 punya lebih banyak unsur yang dibangun dengan sengaja di dalamnya. Bahkan bagian yang tidak direncanakan pun terpilih pada titik-titik keputusan yang benar-benar kamu ambil.
Perbedaan-perbedaan ini bukan lebih buruk. Hanya berbeda. Komunitas Tahap 3 bisa menjadi tatanan sosial yang kokoh dan memuaskan sekalipun lebih kecil dari versi zaman pernikahan.
Kenapa sebagian besarnya tidak direncanakan
Kalau kamu menengok komunitasmu sekarang dan menelusuri bagaimana tiap bagiannya tiba, sebagian besar kedatangannya tidak direncanakan.
Empat alasan kenapa sebagian besarnya tidak direncanakan.
1. Kamu tidak dalam kondisi untuk merencanakannya. Tahap 1 dan sebagian besar Tahap 2 bukan masa di mana kamu bisa membangun komunitas dengan sengaja. Kamu sedang bertahan. Hubungan yang terbentuk di masa-masa itu terbentuk karena keadaan, kapasitas, dan kehadiran orang lain kebetulan sejalan.
2. Orang-orang yang akan membentuk komunitasmu tidak bisa diramalkan. Teman yang menjadi lebih dekat itu belum tentu orang yang akan kamu tebak sebelumnya. Tetangga yang menjadi penting itu tidak terlintas di benakmu. Kegiatan yang kamu ikuti dan orang-orang yang kamu temui di sana tidak kelihatan dari titik tempatmu memulai.
3. Membangun komunitas butuh kontak ringan yang berulang. Mekanisme yang membentuk sebagian besar komunitas adalah interaksi kecil yang berulang dari waktu ke waktu. Kamu tidak merekayasa interaksi yang berulang itu, ia dihasilkan oleh struktur kehidupan sehari-hari. Jemput anak di sekolah, lingkungan kerja, kedekatan jarak antartetangga.
4. Perubahan struktur akibat perpisahan menghasilkan konteks baru. Rumah baru, jadwal baru, mungkin lingkungan tempat tinggal baru, pola baru dalam menyendiri. Struktur baru itu mempertemukanmu dengan orang-orang yang tidak akan kamu jumpai dalam keadaan lain.
Sifat tanpa rencana inilah yang sebagian membuat komunitas itu berfungsi. Komunitas yang dirancang kadang terasa seperti pura-pura. Komunitas yang tumbuh lewat tekstur kehidupan terasa seperti kehidupan itu sendiri.
Apa yang bisa kamu lakukan untuk menjadikannya lebih disengaja mulai sekarang
Menjelang Tahap 3, kamu punya lebih banyak kapasitas untuk bersikap sengaja dibanding sebelumnya. Sifat tanpa rencana itu tepat untuk masa-masa awal, sedikit perhatian yang disengaja kini terasa tepat untuk sekarang.
Lima latihan.
1. Petakan apa yang kamu punya
Sisihkan satu malam atau satu jam di akhir pekan untuk benar-benar mendaftar orang-orang dalam komunitasmu. Siapa di tiap lapisan. Siapa yang rutin kamu temui. Siapa yang akan kamu hubungi saat krisis. Siapa yang sudah lama putus kontak denganmu dan ingin kamu sambung kembali.
Peta itu bukan dokumen proyek, melainkan satu momen untuk melihat apa yang ada. Sebagian besar orang, ketika benar-benar menengok, menemukan lebih banyak daripada yang mereka kira. Melihatnya saja sudah berguna.
2. Jaga apa yang berjalan baik
Kenali hubungan yang sedang memberi nilai untukmu sekarang dan jaga ia dengan sadar. Tampil hadir. Hubungi. Buat rencana. Jangan biarkan hubungan yang penting hanyut karena kamu tidak memperhatikan perawatannya.
Menjaganya tidak harus rumit. Saling tanya kabar sebulan sekali. Satu kegiatan bersama yang rutin. Kehadiran yang bisa diandalkan pada acara-acara yang menandai persahabatan itu.
3. Bangun apa yang belum ada
Kalau ada celah dalam komunitasmu, jenis persahabatan tertentu yang sekarang belum kamu punya, konteks yang akan memperluas lingkaranmu, bersikaplah sengaja dalam menanganinya. Ikut kegiatan itu. Ambil kelas itu. Terima undangan itu. Hubungan baru butuh konteks baru untuk terbentuk.
Jangan coba membangun semuanya sekaligus. Satu atau dua konteks sekali waktu, dijaga selama berbulan-bulan, menghasilkan lebih banyak daripada upaya yang berserakan.
4. Biarkan sebagian berakhir
Sebagian hubungan, bahkan yang sudah lama bertahan, tidak lagi cocok dengan hidupmu. Mengakhirinya dengan sengaja, kadang lewat kontak yang memudar, kadang lewat penataan ulang yang jelas, membebaskan kapasitas. Kapasitas itulah yang membuat membangun hal-hal baru menjadi mungkin.
Ini bukan kekejaman, melainkan pengakuan. Sebagian susunan sudah selesai menjalankan tujuannya.
5. Jangan terlalu merekayasanya
Godaannya, begitu kamu melihat komunitas sebagai sesuatu yang bisa kamu bentuk, adalah mengelolanya seperti proyek. Jangan. Komunitas menolak dikelola seperti proyek. Perhatian yang disengaja itu sebaiknya ringan, hanya beberapa persen dari keseluruhan energimu, bukan kerangka yang mendominasi.
Sebagian besar pembangunan komunitas tetap berlangsung lewat tekstur kehidupan. Perhatian sengajamu sekadar mendorongnya sedikit. Ia tidak mengarahkannya.
Apa yang komunitas itu berikan sepanjang tahun-tahun ke depan
Komunitas Tahap 3, yang dijaga selama bertahun-tahun, memberi hal-hal tertentu.
1. Infrastruktur praktis
Kemampuan untuk menangani tuntutan biasa kehidupan. Cadangan bantuan menjaga anak. Pertolongan saat sakit. Orang yang bisa dihubungi ketika sesuatu yang spesifik muncul. Infrastruktur ini sebagian besar tidak terlihat sampai dibutuhkan, dan saat dibutuhkan, ia kokoh.
2. Infrastruktur emosional
Orang untuk diajak bicara soal hal yang biasa maupun yang luar biasa. Beberapa saluran emosional, bukan bergantung pada satu atau dua orang. Penyebaran beban emosi ke seluruh komunitas itu membuatnya bisa bertahan lama.
3. Rasa dikenal
Sepanjang tahun, komunitasmu mengumpulkan pengetahuan tentang dirimu. Orang yang tahu sejarahmu. Orang yang tahu hidupmu sekarang. Orang yang akan mengingat hal-hal tentangmu yang kamu sendiri lupa. Rasa dikenal itu satu bentuk ketangguhan.
4. Bentuk sebuah kehidupan
Hidup yang punya komunitas punya bentuk yang bisa dikenali. Minggu punya tekstur. Tahun punya pola-pola yang berulang. Orang-orang ada di sekitar dengan cara yang membuat hidup terasa seperti sebuah hidup, bukan rentetan peristiwa yang terpisah-pisah.
5. Dirimu yang lebih tua
Komunitas yang kamu bangun di Tahap 3, sebagiannya, adalah komunitas yang akan kamu punya saat kamu berusia enam puluhan dan tujuh puluhan. Hubungan yang dibangun sekarang berlipat ganda. Dirimu yang lebih tua sedang dirakit oleh kerja hubungan dari dirimu yang sekarang.
Ini salah satu alasan yang lebih besar kenapa komunitas Tahap 3 penting. Bentuk hari tuamu sedang ditentukan dalam hubungan yang kamu bangun sekarang.
Saat komunitas terasa tidak cukup
Sebagian orang tua Tahap 3 menengok komunitas mereka dan merasa ia tidak cukup. Tiga hal yang perlu diketahui.
1. Rasa tidak cukup bisa bersifat situasional
Satu periode di mana terasa tidak cukup tidak berarti komunitasnya memang kurang memadai. Kadang celahnya lebih soal kondisi kebutuhanmu saat ini ketimbang soal ukuran komunitas yang sebenarnya. Kelelahan, kehabisan tenaga, tekanan tertentu bisa menimbulkan rasa tidak cukup yang akan reda begitu tekanannya berlalu.
2. Celah yang nyata bisa ditangani
Kalau ada celah tertentu yang terus berlanjut, tidak ada teman dekat, tidak ada kontak dengan keluarga besar, tidak ada hubungan asmara, ini semua bisa ditangani dengan sengaja. Menanganinya butuh waktu. Komunitasmu setahun dari sekarang bisa jauh berbeda dari komunitasmu sekarang.
3. Sebagian kesepian memang bagian dari keadaan ini
Bahkan dengan komunitas yang kokoh, sebagian kesepian memang bagian dari hidup setelah perpisahan, terutama selama masa-masa anak-anak sedang bersama Co-Parent. Kesepian itu bukan tanda komunitas yang tidak cukup, melainkan tanda bahwa kamu satu manusia pada satu tahap hidup tertentu. Artikel-artikel di Tahap 2 tentang kesepian berlaku di sini.
Rujukan cepat
Lima lapisan komunitas Tahap 3:
- Persahabatan yang makin dalam.
- Lingkaran aktif.
- Kontak fungsional.
- Keluarga yang terlibat.
- Orang baru yang bermunculan.
Empat jenis hubungan:
- Hubungan yang perlu dirawat.
- Hubungan yang tertidur.
- Hubungan fungsional.
- Hubungan yang sedang tumbuh.
Lima perbedaan dari komunitas zaman pernikahan:
- Tersusun di sekeliling kamu, bukan pasangan.
- Lebih kecil.
- Lebih dalam di tempat-tempat tertentu.
- Lebih langsung menjadi milikmu.
- Lebih disengaja dibangun.
Empat alasan kenapa sebagian besarnya tidak direncanakan:
- Kamu tidak dalam kondisi untuk merencanakan.
- Orang-orang tidak bisa diramalkan.
- Membangun butuh kontak ringan yang berulang.
- Perubahan struktur menghasilkan konteks baru.
Lima latihan untuk menjadikannya lebih disengaja mulai sekarang:
- Petakan apa yang kamu punya.
- Jaga apa yang berjalan baik.
- Bangun apa yang belum ada.
- Biarkan sebagian berakhir.
- Jangan terlalu merekayasanya.
Apa yang komunitas itu berikan sepanjang tahun-tahun ke depan:
- Infrastruktur praktis.
- Infrastruktur emosional.
- Rasa dikenal.
- Bentuk sebuah kehidupan.
- Dirimu yang lebih tua.
Saat komunitas terasa tidak cukup:
- Rasa tidak cukup bisa bersifat situasional.
- Celah yang nyata bisa ditangani dengan sengaja.
- Sebagian kesepian memang bagian dari keadaan ini.
Penutup
Kamu tak berniat membangun sebuah komunitas. Komunitas itulah yang terbangun selama kamu berusaha melewati semuanya. Menjelang Tahap 3, tugasnya adalah melihat apa yang kamu punya, menjaganya, dan membentuk apa yang datang berikutnya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.