Anak-anak teman kamu dan pertanyaan-pertanyaan mereka
By the dip team · 11 menit baca

Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 114 · Wave 3
Suatu saat kamu akan berada di rumah seorang teman, atau di acara sekolah anakmu, atau di sebuah pesta keluarga, dan seorang anak yang bukan anakmu akan menatap kamu dengan tatapan polos khas anak-anak itu, lalu menanyakan sesuatu. Kenapa Om udah nggak tinggal sama [nama Co-Parent] lagi? Om sedih nggak? Mama sama Papaku bakal cerai juga nggak ya? Pertanyaan mereka berbeda dari pertanyaan orang dewasa, dan butuh jawaban yang berbeda pula. Anak-anak teman kamu sedang mengamati perpisahan ini dari luar, dan apa yang mereka lihat serta bagaimana kamu menjawab akan membentuk model dalam diri mereka tentang apa arti perpisahan.
Artikel ini membahas kenapa anak-anak menanyakan hal-hal ini, empat jenis pertanyaan yang mereka ajukan, apa yang sebenarnya ingin mereka ketahui, bagaimana menjawab dengan cara yang jujur dan sesuai usia, apa yang harus dilakukan ketika orang tua mereka ada di situ, dan lengkung yang lebih panjang dari hubungan kamu dengan anak-anak dalam hidupmu yang bukan anakmu sendiri.
Kenapa anak-anak menanyakan hal-hal ini
Ketika seorang anak yang mereka kenal melewati perpisahan, anakmu, anak teman, sepupu, anak-anak dalam lingkaran mereka yang lebih luas, semuanya memperhatikan. Perhatian itu memunculkan pertanyaan, dan pertanyaan itu sering kali diarahkan ke kamu karena kamulah orang dewasa yang terlihat dan yang sudah melaluinya.
Ada tiga hal yang mendorong pertanyaan-pertanyaan itu.
1. Mereka sedang memperbarui model mereka tentang cara dunia bekerja. Anak-anak membangun model di kepala mereka tentang pernikahan, keluarga, dan apa yang dilakukan orang dewasa. Ketika ada sesuatu yang tidak cocok dengan model itu, seperti sebuah perpisahan di lingkungan mereka yang lebih luas, mereka memperbarui modelnya. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah proses pembaruan tersebut.
2. Mereka ingin tahu apakah ini bisa terjadi pada mereka. Pertanyaan tersirat di balik banyak pertanyaan spesifik adalah: bisakah ini terjadi pada keluargaku? Mungkinkah orang tuaku melakukan hal seperti ini? Anak-anak dari keluarga yang masih utuh terutama menyimpan sedikit kekhawatiran soal apakah keutuhan itu bisa diandalkan. Perpisahan kamu membuat kekhawatiran itu terasa nyata bagi mereka, untuk sesaat.
3. Mereka ingin tahu apakah ini bisa dilalui. Kamu adalah bukti bahwa seseorang melewati hal ini dan tetap menjadi orang dewasa yang berfungsi. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang sebenarnya bermaksud: apakah kamu baik-baik saja, apakah ini menghancurkan kamu, apakah aku akan baik-baik saja kalau ini terjadi padaku. Ketenangan yang kamu tunjukkan diam-diam memberi mereka rasa lega, dan itu lebih penting daripada kata-kata tertentu.
Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bukan pencarian informasi dalam arti orang dewasa. Ini pencarian makna. Memahami hal ini membantu kamu menjawab dengan cara yang memenuhi apa yang sebenarnya mereka tanyakan.
Empat jenis pertanyaan
Pertanyaan-pertanyaan itu cenderung mengelompok ke dalam empat jenis.
Jenis 1: Pertanyaan fakta
Kenapa Om sama Tante udah nggak tinggal bareng lagi? [Nama Co-Parent] sekarang tinggal di mana? Kapan Om berhenti jadi suami istri?
Ini permintaan informasi yang langsung, di permukaan. Anak itu ingin tahu faktanya.
Yang sebaiknya dilakukan: beri jawaban fakta yang singkat. Kami udah nggak tinggal bareng karena kami bukan suami istri lagi sekarang. [Nama Co-Parent] tinggal di [daerah atau kota]. Tidak ada rincian melebihi yang ditanyakan. Tidak ada tafsiran.
Jenis 2: Pertanyaan emosi
Om sedih nggak? Om kangen sama [nama Co-Parent] nggak? Anak-anak Om baik-baik aja nggak?
Pertanyaan-pertanyaan ini menanyakan keadaan dalam dirimu dan keadaan orang-orang di sekitarmu. Anak itu ingin tahu bagaimana rasanya situasi ini.
Yang sebaiknya dilakukan: jujur tapi disesuaikan dengan usianya. Kadang Om sedih. Tapi sekarang Om kebanyakan baik-baik aja. Anak-anak juga sehat. Singkat, tepat, tenang. Ketenangan itu bagian dari jawabannya.
Jenis 3: Pertanyaan proyeksi
Mama sama Papaku bakal cerai juga nggak ya? Apa ini bisa terjadi sama keluargaku?
Ini pertanyaan tentang keluarga mereka sendiri. Anak itu sedang memakai situasi kamu untuk memikirkan situasinya sendiri.
Yang sebaiknya dilakukan: jangan meramal masa depan keluarga dia. Om nggak tahu soal keluarga kamu. Setiap keluarga beda-beda. Kalau kamu khawatir, kamu bisa tanya ke orang tua kamu soal itu. Kejujuran itu penting; kamu tidak bisa menjamin bahwa orang tuanya tidak akan berpisah, dan berpura-pura kamu bisa menjamin justru merusak kepercayaannya.
Mengarahkan pertanyaan itu kembali ke orang tuanya juga penting. Mereka semestinya bisa berbicara dengan orang tua mereka soal ini; mendorong percakapan itu mendukung komunikasi dalam keluarga mereka.
Jenis 4: Pertanyaan besar
Kenapa sih orang bisa cerai? Cerai itu jelek nggak? Anak-anaknya gimana?
Ini pertanyaan filosofis. Anak itu sedang mencoba membangun pemahaman tentang apa arti dan apa makna perceraian atau perpisahan.
Yang sebaiknya dilakukan: jawaban yang singkat dan tidak menakutkan. Kadang orang merasa pernikahannya udah nggak cocok lagi buat mereka. Itu bukan hal jelek; cuma memang berat. Anak-anaknya biasanya baik-baik aja. Ini jujur tanpa menjadikannya sebuah tragedi atau menganggapnya remeh.
Pertanyaan Jenis 4 tidak butuh jawaban yang panjang. Bingkai yang singkat lebih berguna bagi mereka daripada penjelasan yang berkepanjangan.
Apa yang sebenarnya ingin mereka ketahui
Pertanyaan yang terucap sering kali bukan pertanyaan yang paling dalam. Ada lima hal yang sebenarnya sering ingin mereka ketahui.
1. Apakah aku aman? Versi terdalam dari banyak pertanyaan adalah tentang keamanan mereka sendiri. Apa orang-orang yang menyayangiku bisa pergi? Jawaban kamu tidak menjawab ini secara langsung, tapi sikap dan cara kamu membawa diri menjawabnya. Tenang, mantap, hadir untuk mereka. Cara membawa diri itu menyampaikan bahwa bahkan orang yang melewati hal-hal sulit pun tetap tenang dan tetap hadir.
2. Apakah keluargaku baik-baik saja? Anak-anak dari keluarga yang masih utuh ingin keluarga mereka tetap utuh. Perpisahan kamu membuat kemungkinan ketidakutuhan itu terlihat. Mereka sedang memastikan. Jangan mengomentari keluarga mereka. Tapi sampaikan, lewat cara kamu membawa diri, bahwa keluarga hadir dalam beragam bentuk dan orang tetap baik-baik saja.
3. Apakah anak-anak dalam situasi ini baik-baik saja? Kalau anak-anakmu terlihat oleh mereka, sering kali mereka sedang memastikan keadaan anak-anak itu. Apakah anak-anakmu sedih? Apakah mereka baik-baik saja? Pengecekan tersirat soal anak-anak itu sebagiannya tentang apakah mereka sendiri bisa baik-baik saja dalam keadaan serupa.
4. Apakah orang dewasa sanggup menghadapi hal-hal sulit? Anak-anak sedang mengamati apakah orang dewasa sanggup menghadapi hal-hal sulit. Kalau kamu sanggup, dunia menjadi tempat yang lebih bisa diandalkan. Kalau kamu tidak sanggup, dunia menjadi lebih menakutkan. Caramu menghadapinya, ketenangan itu, kemantapan itu, kenyataan bahwa kamu tidak hancur, itulah jawaban yang sebenarnya mereka cari.
5. Apakah boleh bertanya? Sebagian anak sedang menguji apakah kamu bisa ditanya. Kalau kamu bisa ditanya, kamu menjadi sebuah sumber bagi mereka, seseorang yang sudah melewati sesuatu yang suatu hari mungkin perlu mereka pahami. Sifat bisa-ditanya itu bagian dari nilaimu bagi mereka.
Bagaimana menjawab dengan cara yang jujur dan sesuai usia
Ada lima prinsip untuk jawaban-jawaban itu.
1. Buat singkat
Anak-anak tidak butuh penjelasan yang panjang. Sebagian besar jawaban cukup dua kalimat. Tiga paling banyak. Jawaban yang panjang justru mengaburkan proses pemaknaan yang sedang mereka lakukan.
2. Sesuaikan nadamu dengan usia anak
Anak enam tahun butuh kosakata yang berbeda dari anak dua belas tahun. Sesuaikan secara alami. Jangan menjelaskan hal-hal di bawah tingkat mereka; jangan memperkenalkan konsep di atas tingkat mereka.
3. Jujur
Jangan mengatakan hal yang tidak benar. Sekarang kami lebih akrab sebagai teman dibanding waktu kami masih menikah mungkin benar, mungkin tidak. Katakan versi yang benar. Kami nggak sering ketemu. Kami saling bantu ngurus anak-anak.
Anak-anak lebih bisa merasakan ketidakjujuran dibanding orang dewasa. Ketidakjujuran itu mengajari mereka bahwa topik ini tidak aman untuk ditanyakan.
4. Jangan menarik mereka ke pihakmu
Jangan beri tahu mereka perasaanmu tentang Co-Parent. Jangan berbagi keluhan. Jangan jadikan mereka sekutu. Bahkan ketika orang tua mereka bukan pasangan dari temanmu, bahkan ketika anak itu tidak akan mengulang apa pun, jangan.
Anak itu sedang membentuk model tentang apa yang dilakukan orang dewasa di masa-masa sulit. Menarik anak-anak ke dalam dinamika orang dewasa adalah salah satu hal yang tidak semestinya dilakukan orang dewasa.
5. Tutup dengan izin untuk bertanya lagi nanti
Kalau kamu masih punya pertanyaan soal ini, kamu bisa tanya Om. Ini menandakan bahwa topik ini aman dan bahwa mereka dipercaya untuk menanganinya. Sebagian anak tidak akan punya pertanyaan lagi; sebagian lainnya akan punya, mungkin bertahun-tahun kemudian. Pintu yang dibuka itu memungkinkan mereka kembali kalau mereka perlu.
Apa yang harus dilakukan ketika orang tua mereka ada di situ
Sering kali pertanyaan itu muncul ketika orang tua anak itu ada di dekatnya. Ada tiga prinsip.
1. Lirik ke arah orang tuanya
Sekilas pandang yang seolah bertanya ini boleh nggak ya. Sebagian besar orang tua akan memberi isyarat boleh atau akan mengalihkannya. Kalau orang tuanya tidak sedang memperhatikan, biasanya kamu bisa menjawab versi dasarnya dengan aman.
2. Jaga jawaban tetap di tingkat yang akan diberikan orang tuanya
Kamu tidak tahu apa yang sudah diberitahukan kepada anak itu tentang kamu, tentang Co-Parent, atau tentang perpisahan. Tetap dekat dengan tingkat yang akan dipilih orang tuanya. Singkat, netral, faktual.
3. Jangan memasukkan hal yang belum dimasukkan orang tuanya
Kalau anak itu bertanya kenapa kamu bercerai, jangan menjelaskan dinamika pernikahan. Kadang orang berhenti jadi suami istri. Orang tua kamu bisa cerita lebih banyak kalau mereka mau. Pengalihan yang singkat.
Kalau orang tuanya jelas-jelas ingin kamu membawa percakapan itu ke arah tertentu, ikuti arahannya. Merekalah orang tuanya; kamu adalah teman keluarga. Tatanan ini penting bahkan dalam momen yang santai.
Lengkung yang lebih panjang dari hubungan kamu dengan anak-anak yang bukan anakmu
Sepanjang bertahun-tahun, hubungan kamu dengan anak-anak teman, saudara kandung, dan anggota keluarga lain ikut terbentuk oleh cara kamu menangani momen-momen ini. Ada tiga hal yang terjadi sepanjang bertahun-tahun.
1. Anak-anak yang bertanya kepadamu akan mengingatnya
Seorang anak yang bertanya kepadamu tentang perpisahan di usia enam tahun, dan mendapat jawaban yang tenang dan jujur, sering kali mengingatnya. Mereka biasanya tidak menyebutnya. Tapi mereka menyimpannya. Bertahun-tahun kemudian, kalau hidup mereka sendiri menghadapi sesuatu yang sulit, kamu menjadi bagian dari segelintir orang dewasa yang mungkin mereka percaya untuk diajak bicara.
Pengingatan itu tidak harus disengaja. Polanya muncul di masa remaja dan dewasa; seorang dewasa kadang menyebut kepadamu bahwa dia mengingat satu percakapan tertentu waktu dia masih kecil. Percakapan itu lebih berarti daripada yang kamu sadari saat itu.
2. Kamu menjadi bagian yang lebih bermakna dalam lanskap dalam diri mereka
Anak-anak di lingkaranmu yang mengamati cara kamu menghadapi perpisahan mulai membaca kamu sebagai seseorang yang sudah melewati sesuatu dan tetap baik-baik saja. Kamu menjadi sebuah teladan, kadang secara sadar, sering secara tidak sadar. Teladan itu berarti dalam perkembangan mereka sendiri.
Ini bukan peran yang perlu kamu perankan. Cukup jadi baik-baik saja; selebihnya akan mengikuti.
3. Hubungan itu menjadi lebih dalam seiring waktu
Kalau kamu sudah menangani pertanyaan-pertanyaan awal itu dengan baik, hubungan dengan anak-anak ini sering kali menjadi lebih dalam seiring mereka tumbuh besar. Mereka menjadi remaja, lalu dewasa muda, yang sesekali menghubungi kamu, yang melibatkan kamu dalam jalinan sosial mereka sebagai orang dewasa, yang kadang mencari sudut pandangmu tentang momen-momen sulit mereka sendiri.
Sebagian dari hubungan terbaik yang akan kamu miliki di paruh hidup dan sesudahnya adalah dengan anak-anak teman dan keluarga yang kamu kenal sejak mereka kecil. Cara menangani pertanyaan-pertanyaan awal itu adalah bagian dari bagaimana hubungan-hubungan itu terbangun.
Ketika anak-anak menanyakan pertanyaan yang sulit
Sebagian pertanyaan lebih sulit daripada kategori-kategori di atas. Pertanyaan terkait kematian kalau ada anggota keluarga yang meninggal di sekitar waktu yang sama. Pertanyaan soal kekerasan atau penganiayaan kalau ada yang terlibat dalam perpisahan itu. Pertanyaan yang menyiratkan bahwa mereka sendiri sedang melewati sesuatu.
Ada tiga prinsip.
1. Kalau pertanyaannya di luar kemampuanmu untuk menjawab, katakan begitu
Itu pertanyaan yang Om lebih ingin kamu tanyakan ke orang tua kamu. Ini tepat ketika kamu tidak tahu bagaimana menangani pertanyaan itu, ketika pertanyaan itu menyentuh hal yang semestinya ditangani orang tuanya, atau ketika pertanyaan anak itu menunjukkan bahwa dia butuh dukungan orang dewasa yang lebih dari sekadar jawaban singkat.
2. Kalau anak itu menunjukkan tanda tertekan, beri tahu orang tuanya
Anak yang menanyakan pertanyaan sulit mungkin sedang memikul sesuatu yang berat. Setelah percakapan itu, sebutkan secara singkat kepada orang tuanya apa yang ditanyakan. Aku nggak tahu apa kamu sudah tahu, tapi [nama anak] tadi nanya ke aku soal [topik]. Mungkin kamu mau menindaklanjutinya dengan dia.
Menyebutkannya tetap tepat bahkan ketika percakapan itu berjalan lancar. Orang tuanya sebaiknya tahu.
3. Kalau pertanyaan itu mengungkap adanya bahaya, naikkan ke tingkat yang lebih tinggi
Dalam kasus yang jarang, pertanyaan seorang anak mengungkap bahwa dia sedang disakiti. Jawabannya sama seperti bagi orang dewasa mana pun yang mendengar hal ini: keselamatan anak itu didahulukan. Beri tahu orang tuanya kalau memang aman dan tepat. Beri tahu pihak berwenang kalau orang tuanya bukan pihak yang aman. Untuk dugaan ancaman keselamatan anak, ada Layanan SAPA 129 dari Kementerian PPPA (telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129) dan UPTD PPA di daerahmu; Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga bisa menjadi rujukan.
Kasus-kasus ini jarang tapi nyata. Jangan menganggap pertanyaan itu sekadar pertanyaan kalau memang bukan sekadar pertanyaan.
Rujukan cepat
Tiga hal yang mendorong pertanyaan:
- Memperbarui model mereka tentang cara dunia bekerja.
- Ingin tahu apakah ini bisa terjadi pada mereka.
- Ingin tahu apakah ini bisa dilalui.
Empat jenis pertanyaan:
- Fakta (jawaban fakta yang singkat).
- Emosi (jujur tapi disesuaikan).
- Proyeksi (jangan meramal masa depan keluarga mereka, arahkan ke orang tua).
- Pertanyaan besar (bingkai singkat yang tidak menakutkan).
Lima hal yang sebenarnya ingin mereka ketahui:
- Apakah aku aman?
- Apakah keluargaku baik-baik saja?
- Apakah anak-anak dalam situasi ini baik-baik saja?
- Apakah orang dewasa sanggup menghadapi hal-hal sulit?
- Apakah boleh bertanya?
Lima prinsip untuk jawaban:
- Buat singkat (biasanya 2 kalimat).
- Sesuaikan nada dengan usia anak.
- Jujur.
- Jangan menarik mereka ke pihakmu.
- Tutup dengan izin untuk bertanya lagi nanti.
Ketika orang tua mereka ada di situ:
- Lirik ke arah orang tuanya.
- Tetap di tingkat orang tuanya.
- Jangan memasukkan hal yang belum dimasukkan orang tuanya.
Lengkung yang panjang:
- Anak-anak yang bertanya akan mengingatnya.
- Kamu menjadi lebih bermakna dalam lanskap dalam diri mereka.
- Hubungan itu sering kali menjadi lebih dalam sepanjang bertahun-tahun.
Ketika pertanyaannya sulit:
- Kalau di luar kemampuanmu untuk menjawab, katakan begitu dan arahkan.
- Kalau anak menunjukkan tanda tertekan, beri tahu orang tuanya.
- Kalau pertanyaan mengungkap adanya bahaya, naikkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Penutup
Anak-anak yang mengamati kamu melewati hal ini sedang membentuk model mereka tentang apa arti perpisahan. Jawaban yang tenang, jujur, dan singkat adalah sebagian besar dari apa yang mereka butuhkan. Pekerjaannya adalah menunjukkan kepada mereka bahwa orang dewasa sanggup menghadapi hal-hal sulit, dengan cara menghadapinya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.