dip
Belikan Kopi
A Year And Beyond

Memaafkan dalam tradisimu dan memaafkan sebagai kerja batin

By the dip team · 9 menit baca

Memaafkan dalam tradisimu dan memaafkan sebagai kerja batin

Tahap 3 · Setahun dan seterusnya · Artikel 77 · Wave 3


Hampir setiap tradisi punya sesuatu untuk dikatakan tentang memaafkan. Ajarannya beragam, apa itu memaafkan, ditujukan kepada siapa, apakah ia menuntut keterlibatan orang lain, apakah ia sebuah kewajiban atau sebuah pemberian, apakah ia bisa setengah-setengah. Menjelang Tahap 3, kamu kemungkinan sudah bersinggungan dengan ajaran tradisimu tentang hal ini, dan juga sudah menjalani sebagian kerja batin psikologis yang dikenal dengan nama yang sama. Dua makna memaafkan ini tidak sama, dan hubungan antara keduanya layak diperhatikan.

Artikel ini membahas dua makna itu, kenapa tradisi mengajarkan memaafkan, kenapa psikologi kerja batin mengajarkannya secara berbeda, kapan keduanya sejalan, kapan keduanya berbenturan, apa yang sebenarnya tidak harus dimaksud oleh memaafkan, dan apa yang bisa dilakukan kalau ajaran tradisimu terasa lebih dari yang sanggup kamu lakukan.

Dua makna

Kata memaafkan mencakup setidaknya dua hal yang berbeda.

Memaafkan secara tradisi adalah apa yang tradisimu ajarkan. Rinciannya sangat beragam. Sebagian tradisi mengajarkan memaafkan sebagai kewajiban agama. Sebagian mengajarkannya sebagai laku rohani yang membebaskan orang yang memaafkan. Sebagian mengajarkannya sebagai tindakan relasional yang menuntut keterlibatan pihak yang bersalah. Sebagian mengajarkannya sebagai keadaan rahmat yang diberikan, bukan diraih. Ajaran-ajaran ini punya struktur teologis yang khas di dalam masing-masing tradisi.

Memaafkan secara kerja batin adalah kerja psikologis untuk melepaskan cengkeraman yang dimiliki perbuatan seseorang atas hidupmu saat ini. Inilah kerja yang dibahas di Artikel 53. Kerja ini tidak menuntut keterlibatan orang lain. Ia tidak menuntut perbaikan hubungan. Ia berlangsung di dalam diri, dan untuk hidupmu sendiri, bukan untuk hubungan itu.

Dua makna ini sangat tumpang tindih dalam sebagian tradisi dan menyimpang tajam dalam tradisi yang lain. Hubungan antara keduanya tidak sederhana.

Kenapa tradisi mengajarkan memaafkan

Tradisi mengajarkan memaafkan karena beberapa alasan yang layak dipahami.

1. Ia baik untuk orang yang memaafkan. Hampir setiap tradisi sudah mengamati bahwa orang yang memendam dendam selama bertahun-tahun lebih menderita daripada orang yang melepaskannya. Ajaran itu merekam pengamatan ini. Kerja memaafkan, bagaimanapun ia dibingkai, punya manfaat psikologis yang sudah dikenali tradisi selama berabad-abad.

2. Ia baik untuk komunitas. Komunitas yang anggotanya memikul dendam lintas generasi berfungsi lebih buruk daripada komunitas yang laku memaafkannya kuat. Tradisi mengajarkan memaafkan sebagian untuk menjaga keberfungsian komunitas.

3. Ia mencerminkan sesuatu yang diyakini tradisi tentang hakikat kenyataan. Bagi sebagian tradisi, memaafkan adalah apa yang dilakukan Yang Maha Esa, dan manusia diminta meneladaninya. Bagi yang lain, ia mencerminkan tatanan mendalam tentang bagaimana dunia bekerja. Ajaran itu bukan sekadar praktis; ia teologis.

4. Ia memungkinkan fungsi-fungsi keagamaan tertentu. Sakramen, doa, laku-laku tertentu dalam banyak tradisi menuntut memaafkan sebagai prasyarat atau komponen. Ajaran itu menjadikan laku-laku ini bisa dijangkau.

Ajaran itu punya banyak lapisan dalam kebanyakan tradisi. Menyederhanakannya menjadi satu lapisan saja biasanya menyimpangkan ajaran itu.

Kenapa psikologi kerja batin mengajarkannya secara berbeda

Versi psikologis datang dari garis keturunan yang berbeda. Tujuannya tumpang tindih dengan memaafkan secara tradisi, tapi strukturnya berbeda.

1. Ia menempatkan orang yang menjalani kerja itu di pusat. Versi psikologis jelas-jelas untuk orang yang memaafkan. Ia bukan untuk orang lain, bukan untuk hubungan itu, bukan untuk hitung-hitungan kosmik. Orang yang memaafkan melepaskan demi kebaikan dirinya sendiri.

2. Ia tidak menuntut persetujuan atas apa yang terjadi. Versi psikologis secara tegas memisahkan memaafkan dari persetujuan. Kamu bisa memaafkan seseorang atas sesuatu yang tetap kamu anggap salah. Pelepasan itu bukan pembenaran.

3. Ia bisa setengah-setengah dan bertahap. Versi psikologis membuka ruang untuk memaafkan yang sebagian. Kamu mungkin melepaskan sebagian cengkeraman itu sambil masih menyimpan sebagian dendam. Kamu mungkin memaafkan satu hal sambil masih terpengaruh oleh hal yang lain.

4. Ia tidak menuntut partisipasi orang lain. Versi psikologis tetap utuh tanpa orang lain tahu, menyetujui, atau terlibat. Kerja itu berlangsung di dalam diri, tidak peduli apa yang dilakukan orang lain.

Versi psikologis pada dasarnya bersifat individual. Ia dikalibrasi untuk kesejahteraan orang yang memaafkan, bukan untuk kerangka relasional, komunal, atau teologis.

Kapan keduanya sejalan

Dua makna itu sejalan dengan nyaman bagi banyak pembaca. Tiga pola keselarasan yang umum.

Pola 1: Kerangka tradisi mendukung kerja psikologis

Ajaran tradisimu memberimu kerangka dan bahasa untuk kerja psikologis itu. Kerja psikologis itu, sebaliknya, membawa ajaran tradisimu ke kenyataan yang dijalani. Keduanya saling menguatkan.

Inilah keselarasan yang paling umum. Tradisi memberi kenapa; psikologi memberi bagaimana.

Pola 2: Laku-laku tradisi memuluskan kerja psikologis

Doa, meditasi, ritual, pengakuan, laku-laku dalam tradisi menghasilkan pergeseran yang menggerakkan kerja psikologis ke depan. Kerja psikologis yang mungkin butuh bertahun-tahun lewat penalaran semata bisa berlangsung lebih efisien lewat laku.

Pola 3: Kerja psikologis memperjelas ajaran tradisi

Bagi sebagian pembaca, menjalani kerja psikologis itu memperjelas apa sebenarnya yang dimaksud ajaran tradisinya. Ajaran yang tadinya tampak abstrak menjadi konkret lewat kerja itu. Tradisi diperkaya, bukan dikurangi, oleh keterlibatan psikologis itu.

Ketika keselarasan ada, dua makna itu bekerja bersama, dan pembaca tidak perlu memilih di antara keduanya.

Kapan keduanya berbenturan

Bagi sebagian pembaca, dua makna itu berbenturan. Lima benturan yang umum.

Benturan 1: Tradisi meminta memaafkan yang tidak kamu rasakan

Sebagian tradisi mengajarkan bahwa memaafkan adalah kewajiban, bukan hasil. Kamu diminta memaafkan bahkan ketika kamu belum menjalani kerja untuk sampai ke keadaan itu. Permintaan itu bisa terasa seperti tekanan rohani untuk menampilkan sesuatu yang belum terjadi.

Benturan 2: Tradisi menuntut perbaikan hubungan

Sebagian tradisi mengaitkan memaafkan dengan perbaikan hubungan. Versi psikologis tidak. Kalau tradisimu menuntut perbaikan hubungan sebagai bagian dari memaafkan, dan Co-Parent tidak aman untuk diajak berbaikan, benturan antara dua makna itu menjadi tajam.

Benturan 3: Tradisi punya waktunya yang tidak dimiliki kerja psikologis

Sebagian tradisi punya momen-momen tertentu, musim pengakuan, hari-hari suci, titik-titik liturgis tertentu, ketika memaafkan semestinya dijalankan. Kerja psikologis punya waktunya sendiri, yang mungkin tidak sejajar dengan kalender tradisi.

Benturan 4: Bingkai tradisi berpusat pada orang lain

Sebagian tradisi mengajarkan memaafkan terutama sebagai hal relasional, berpusat pada penebusan atau pemulihan orang lain. Versi psikologis berpusat pada orang yang memaafkan. Orientasi yang berbeda ini bisa menarik ke arah yang berbeda.

Benturan 5: Standar tradisi terasa mustahil tingginya

Sebagian tradisi mengajarkan memaafkan dalam istilah mutlak, penuh, lengkap, tidak bisa ditarik kembali. Versi psikologis nyaman dengan memaafkan yang setengah-setengah dan bertahap. Selisih ini bisa membuat standar tradisi terasa mustahil, sementara kerja psikologis terasa kurang memadai menurut ukuran tradisi.

Benturan-benturan ini nyata. Banyak pembaca mengarunginya dengan memegang dua makna itu tanpa memaksa keduanya menjadi sama.

Apa yang tidak harus dimaksud oleh memaafkan

Lintas dua makna itu, ada lima hal yang tidak dituntut oleh memaafkan.

1. Persetujuan atas apa yang terjadi. Memaafkan tidak berarti apa yang dilakukan itu tidak apa-apa. Ia bisa berarti melepaskan cengkeraman itu sambil tetap menganggap apa yang dilakukan itu salah.

2. Perbaikan hubungan dengan orangnya. Memaafkan tidak menuntut kamu menyambung kembali hubungan. Kamu bisa memaafkan seseorang yang takkan kamu ajak bicara lagi selamanya.

3. Melupakan. Memaafkan tidak menuntut kamu berpura-pura peristiwa itu tidak terjadi. Peristiwa itu tetap ada dalam sejarah hidupmu; memaafkan mengubah cengkeramannya, bukan keberadaannya.

4. Merasa baik-baik saja dengan akibatnya. Memaafkan tidak menuntut kamu menerima semua akibat sebagai sesuatu yang beres. Kamu bisa memaafkan seseorang sambil tetap berduka atas akibat dari perbuatannya.

5. Sekali jalan lalu selesai. Memaafkan sering kali bukan satu momen tunggal. Ia berlangsung bertahap lintas bertahun-tahun. Kamu mungkin memaafkan sesuatu di tahun kedua, lalu hal itu muncul lagi di tahun kelima dan menuntut memaafkan yang lebih lanjut. Kerja itu tidak selesai dengan satu tindakan.

Pembedaan-pembedaan ini penting karena ketiadaannya menghasilkan kebuntuan yang tidak perlu. Banyak pembaca merasa tidak bisa memaafkan karena mengira memaafkan menuntut satu atau lebih dari hal-hal ini. Melepaskan syarat-syarat yang tidak perlu itu sering kali justru melepaskan kerja memaafkannya.

Apa yang bisa dilakukan kalau ajaran tradisimu terasa lebih dari yang sanggup kamu lakukan

Sebagian pembaca mendapati ajaran tradisinya tentang memaafkan meminta lebih dari yang sanggup mereka beri saat ini. Lima laku untuk keadaan ini.

1. Bedakan cita-cita ideal ajaran itu dari kewajiban yang segera

Kebanyakan tradisi punya keduanya, sebuah keadaan memaafkan yang ideal, dan sebuah penerapan yang lebih bersifat pendampingan untuk manusia biasa dalam kesulitan biasa. Yang ideal itu cita-cita; penerapan pendampingan itulah yang sebenarnya harus kamu lakukan hari ini. Carilah penerapan pendampingan dalam tradisimu; ia biasanya lebih manusiawi daripada versi yang ideal.

2. Bicaralah dengan seseorang dalam tradisimu yang sudah menjalani kerja ini

Artikel 70 membahas percakapan dengan seseorang yang bijak dalam tradisimu. Percakapan itu bisa memperjelas apa yang sebenarnya dituntut tradisimu, dibanding apa yang terasa dituntut. Sering kali tuntutan yang sebenarnya lebih ringan daripada tuntutan yang dirasakan.

3. Biarkan kerja itu berlangsung bertahap

Sekalipun tradisimu mengajarkan memaafkan sebagai tindakan yang utuh, kamu tidak harus mencapai keutuhan itu untuk dianggap sedang menjalani kerjanya. Bergeraklah ke arahnya. Jalani bagian-bagian yang tersedia. Biarkan sisanya datang.

4. Jangan berpura-pura atas apa yang belum terjadi

Menampilkan memaafkan yang sebenarnya tidak kamu rasakan lebih buruk daripada mengakui bahwa kerja memaafkan itu belum tuntas. Pertunjukan itu menghasilkan kekusutan rohani. Pengakuan itu jujur.

5. Pegang ketegangan itu kalau perlu

Bagi sebagian pembaca, jarak antara ajaran tradisi dan apa yang sanggup mereka lakukan tetap ada lintas bertahun-tahun. Jarak itu dipegang, bukan diselesaikan. Ini kadang memang posisi yang tersedia. Jangan memaksa penyelesaian yang terlalu dini; jarak itu mungkin menutup pada waktunya.

Kapan kerja memaafkan sudah cukup dalam

Versi psikologis jarang sepenuhnya tuntas. Versi tradisi mungkin punya penanda kelengkapan tertentu yang diakui tradisimu. Lima tanda praktis bahwa kerja memaafkan sudah mencapai kedalaman yang berguna.

1. Perbuatan orang lain itu tidak lagi menata masa kinimu. Kamu tidak memikirkan apa yang dilakukannya hampir setiap hari. Ketika kamu memang memikirkannya, hal itu tidak menata ulang harimu.

2. Kamu bisa mendoakan kebaikan untuknya tanpa memaksakannya. Semacam niat baik yang tenang terhadapnya tersedia, sekalipun tidak menggebu.

3. Pernikahan dan akhirnya sudah mengendap menjadi sejarah. Artikel 64 dan 80 membahas hal ini. Pernikahan itu adalah apa adanya. Kamu tidak butuh ia pernah menjadi berbeda.

4. Hubungan anak-anak dengan Co-Parent tidak dibentuk oleh dendammu yang berlanjut. Kamu bisa mendukung hubungan anak-anak dengan Co-Parent karena tidak ada apa pun dalam dirimu yang butuh mereka untuk tidak memilikinya.

5. Kamu bisa memegang harganya tanpa mengungkit kesalahan itu. Kamu bisa menyebut apa yang sudah berat tanpa membawa-bawa apa yang dilakukannya. Harganya nyata; harga itu tidak menuntut dendam itu diproses lebih dulu.

Kalau sebagian besar tanda ini ada, kerja memaafkan, dalam makna yang mana pun, sudah mencapai kedalaman yang berguna. Ia mungkin terus berkembang lebih jauh, tapi ia sudah melakukan apa yang memang menjadi tujuannya.

Rujukan cepat

Dua makna memaafkan:

  • Secara tradisi: apa yang tradisimu ajarkan.
  • Secara kerja batin: pelepasan psikologis atas cengkeraman pada hidup saat ini.

Empat alasan tradisi mengajarkan memaafkan:

  • Baik untuk orang yang memaafkan.
  • Baik untuk komunitas.
  • Mencerminkan apa yang tradisi yakini tentang kenyataan.
  • Memungkinkan fungsi-fungsi keagamaan tertentu.

Bagaimana versi kerja batin berbeda:

  • Menempatkan orang yang memaafkan di pusat.
  • Tidak menuntut persetujuan.
  • Bisa setengah-setengah dan bertahap.
  • Tidak menuntut partisipasi orang lain.

Tiga pola keselarasan:

  1. Tradisi mendukung kerja psikologis.
  2. Laku tradisi memuluskannya.
  3. Kerja psikologis memperjelas ajaran tradisi.

Lima benturan yang umum:

  1. Tradisi meminta memaafkan yang tidak kamu rasakan.
  2. Tradisi menuntut perbaikan hubungan.
  3. Waktu tradisi tidak cocok dengan waktu psikologis.
  4. Tradisi berpusat pada orang lain.
  5. Standar tradisi terasa mustahil tingginya.

Lima hal yang tidak dituntut oleh memaafkan:

  1. Persetujuan.
  2. Perbaikan hubungan.
  3. Melupakan.
  4. Merasa baik-baik saja dengan akibatnya.
  5. Sekali jalan lalu selesai.

Kalau ajaran tradisimu terasa lebih dari yang sanggup kamu lakukan:

  1. Bedakan cita-cita ideal dari penerapan pendampingan.
  2. Bicara dengan seseorang yang bijak dalam tradisimu.
  3. Biarkan kerja itu berlangsung bertahap.
  4. Jangan berpura-pura atas apa yang belum terjadi.
  5. Pegang ketegangan itu kalau perlu.

Lima tanda kerja memaafkan sudah mencapai kedalaman yang berguna:

  1. Perbuatan mereka tidak lagi menata masa kinimu.
  2. Kamu bisa mendoakan kebaikan untuk mereka tanpa memaksakannya.
  3. Pernikahan dan akhirnya sudah mengendap menjadi sejarah.
  4. Hubungan anak-anak dengan Co-Parent tidak dibentuk oleh dendammu.
  5. Kamu bisa memegang harganya tanpa mengungkit kesalahan.

Penutup

Memaafkan yang tradisimu ajarkan dan memaafkan yang sanggup kamu lakukan mungkin tidak sama. Pegang keduanya dengan jujur. Jangan berpura-pura atas apa yang belum terjadi. Versi yang perlahan itulah versi yang tahan lama.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.