
Tahap 3 · Satu tahun dan seterusnya · Artikel 100 · Wave 2
Nasihat yang kamu dapat dari teman dan internet soal berkencan setelah perpisahan biasanya terlalu indah (kamu itu menarik, ayo mulai lagi, kamu pantas bahagia) atau terlalu suram (jangan dipikir dulu sebelum dua tahun, anak-anak yang utama, nanti kamu cuma menyakiti orang). Keduanya bukan versi yang jujur. Versi yang jujur lebih menarik dan lebih berguna, dan itulah yang ingin diberikan artikel ini kepadamu.
Artikel ini membahas apa sebenarnya yang terlibat saat berkencan setelah perpisahan, lima penanda kesiapan yang perlu kamu tahu, tiga alasan orang berkencan terlalu cepat, untuk apa sebenarnya kencan-kencan awal itu, dan bedanya berkencan di usia 30-an/40-an/50-an dengan berkencan di usia 20-an dulu.
Apa sebenarnya yang terlibat saat berkencan setelah perpisahan
Bagi sebagian besar orang tua, berkencan setelah perpisahan bukan sekadar berkencan. Ini berkencan yang berlapis di atas satu keadaan tertentu: tanggung jawab mengasuh anak, seorang Co-Parent yang nyata ada, sebuah tubuh yang sudah melewati banyak hal, sebuah diri yang masih menata ulang. Nasihat kencan yang umum tidak memperhitungkan lapisan-lapisan itu.
Lima hal yang membuat versi kencan ini berbeda.
1. Kamu berkencan dari titik awal yang berbeda. Dirimu yang masih lajang dan berkencan dua puluh tahun lalu sudah tidak ada lagi. Siapa pun kamu sekarang, itulah yang berkencan, lengkap dengan anak-anak, Co-Parent, tubuh, pekerjaan, persahabatan, dan sejarahmu. Versi dirimu yang bertemu orang baru ini adalah versi pascaperpisahan, bukan versi sebelum menikah.
2. Yang dipertaruhkan terasa berbeda. Satu kencan yang hambar di usia dua puluhan dulu cuma satu malam yang terbuang. Satu kencan yang hambar sekarang adalah satu malam yang sebenarnya bisa kamu habiskan bersama anak-anak, bersama teman, atau sendirian. Biaya peluangnya lebih tinggi. Ini bukan berarti jangan berkencan; ini berarti jelas dulu kenapa kamu berkencan.
3. Orang yang kamu temui juga berlapis. Sebagian besar orang seusiamu yang berkencan setelah perpisahan punya versi mereka sendiri dari semua yang kamu punya. Ada Co-Parent, ada anak-anak, ada mantan, ada pekerjaan, ada tubuh. Berkencan di usia 30-an/40-an/50-an itu mempertemukan dua hidup yang sudah berlapis, bukan dua lembar kosong.
4. Soal memadukan dua hidup juga berbeda. Di usia dua puluhan, memadukan itu sederhana: apakah kalian saling suka, apakah kalian cocok. Sekarang, memadukan itu lebih soal susunan: apakah dua hidup kalian pas, apakah dua kelompok anak kalian pas, apakah dua kelompok kewajiban kalian pas. Soal kecocokan sekarang punya lebih banyak dimensi.
5. Kerangka waktunya berbeda. Sebuah hubungan kencan di usia dua puluhan dulu punya waktu yang terbuka lebar. Hubungan yang sama sekarang punya batasan: minggumu bersama anak-anak, minggu mereka bersama anak-anak, pekerjaan, urusan hidup, tidur. Waktu adalah sumber daya yang paling mahal. Kencan harus muat di dalamnya, dan itu mengubah kencan bisa jadi apa.
Tidak satu pun dari ini jadi alasan untuk tidak berkencan. Ini cuma lanskap yang sebenarnya. Berpura-pura ini lanskap yang sama seperti yang dulu kamu kenal biasanya cuma menghasilkan kekecewaan.
Lima penanda kesiapan
Kamu tidak perlu sembuh total untuk berkencan. Tapi kamu memang harus cukup siap supaya kencan itu tidak melukai kamu, anak-anakmu, atau orang yang kamu temui. Lima penanda yang menunjukkan kamu sudah cukup siap.
Penanda 1: Cerita utamamu bukan lagi soal pernikahan itu
Kalau kisahmu tentang dirimu sendiri masih terutama soal aku ini orang yang pernikahannya berakhir, kamu belum siap. Pernikahan itu akan merembes ke setiap kencan, lewat hal-hal yang kamu singgung, lewat sudut tafsiranmu, lewat caramu menggambarkan hidupmu.
Kalau kisahmu sudah bergerak maju, aku orang tua dari anak remaja, aku sedang membangun usaha, aku sedang menggarap hal yang kupedulikan ini, aku belakangan ini jatuh cinta pada lari pagi, kamu lebih dekat ke siap. Pernikahan itu ada di latar belakang, bukan di depan.
Penanda 2: Kamu bisa membayangkan tidak akan berkencan lagi dan tetap baik-baik saja
Kedengarannya berlawanan dengan akal. Ujiannya begini: kalau karena suatu alasan kamu tidak pernah punya hubungan romantis lagi, apakah hidupmu tetap hidup yang kamu inginkan? Kalau ya, kamu siap berkencan. Kalau tidak, kemungkinan besar kamu sedang berharap kencan melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Orang yang bisa baik-baik saja tanpa pasangan cenderung jadi pasangan yang lebih baik. Mereka tidak menuntut pasangan untuk membuat hidup mereka berarti. Kencan itu tambahan, bukan fondasi.
Penanda 3: Cuaca batinmu cukup stabil
Beberapa minggu masih akan terasa berat. Di Tahap 3, minggu-minggu berat itu jadi tanda baca, bukan keadaan dasar. Kalau keadaan dasarmu cukup stabil sampai kamu bisa menerima kehadiran orang lain tanpa kehadiran mereka menjadi penanganan krisis, kamu siap.
Sinyalnya: kamu tidak sedang berharap kencan mengangkatmu keluar dari tempatmu sekarang. Kamu berharap kencan menambah sesuatu pada hidup yang sebagian besarnya sudah berjalan.
Penanda 4: Anak-anak cukup stabil
Ini bukan soal apakah anak-anak lebih suka kamu tidak berkencan. Sebagian besar tidak akan punya pendapat yang kuat ke arah mana pun sampai orang tertentu diperkenalkan. Ini soal apakah sistem keluarga sudah cukup menata diri sampai memasukkan satu variabel baru tidak akan mengguncangnya.
Di Tahap 3, sebagian besar anak sudah nyaman dengan pola yang baru. Memasukkan kegiatan berkencan (secara pribadi, belum terlihat oleh mereka) biasanya tidak mengganggu mereka. Memperkenalkan pasangan secara terbuka itu soal yang datang belakangan; sekadar berkencan dalam hidupmu sendiri jarang mengganggu.
Penanda 5: Kamu punya waktu dan tenaga untuknya
Kencan memakan waktu dan tenaga. Kalau kamu sudah berjalan di kapasitas penuh, menambah kencan akan menghasilkan salah satu dari dua hal: kamu akan berhenti berkencan, atau kamu akan mengikis sesuatu yang lain dalam hidupmu untuk memberi ruang. Keduanya bisa dijalani kalau itu pilihan yang disengaja. Tidak satu pun bisa dijalani kalau itu kejutan yang baru kamu sadari.
Lihat minggumu. Di mana kencan bisa muat? Apa yang harus digeser? Kalau jawabannya tidak ada, aku cuma akan berhenti tidur atau aku akan memangkas hal yang kulakukan untuk diriku sendiri, waktunya belum tepat.
Kalau dua atau kurang dari lima penanda itu jelas ada, berkencan mungkin terlalu dini. Kalau tiga atau empat ada, ini bisa dijalani. Kalau kelimanya ada, kamu berada di posisi yang baik.
Tiga alasan orang berkencan terlalu cepat
Berkencan terlalu cepat adalah kesalahan Tahap 2 / awal Tahap 3 yang paling umum. Tiga pemicu yang biasanya menghasilkannya.
Pemicu 1: Kesepian
Kesepian akibat perpisahan itu nyata dan menyakitkan. Kencan menawarkan satu kemungkinan jawaban. Kemungkinan jawaban itu kadang layak dikejar. Sering kali tidak.
Kenapa ini jadi bumerang: kencan sebagai obat kesepian biasanya memilih orang yang salah. Kamu tidak memilih berdasarkan kecocokan; kamu memilih berdasarkan siapa yang tersedia dan siapa yang hangat. Hubungan yang lahir dari situ cenderung menyala kuat, singkat, dan mengecewakan.
Apa yang sebaiknya dilakukan: tangani kesepian itu secara langsung. Teman, keluarga, kegiatan yang terstruktur, mungkin seorang psikolog. Kencan berjalan lebih baik saat ia tidak diminta mengerjakan tugas yang seharusnya diselesaikan kesepian lewat jalur lain.
Pemicu 2: Validasi
Setelah perpisahan, banyak orang ingin bukti bahwa mereka masih diinginkan, masih menarik, masih sosok yang layak dicintai. Kencan menghasilkan bukti ini dengan cepat.
Kenapa ini jadi bumerang: kencan yang didorong validasi memperlakukan orang lain sebagai cermin, bukan sebagai manusia. Cermin itu puas oleh perhatian; ia tidak peduli apakah orang yang memberi perhatian itu cocok untukmu. Saat kamu sadar kamu bersama orang yang salah, sering kali kamu sudah menanam banyak.
Apa yang sebaiknya dilakukan: sadari rasa lapar akan validasi itu. Akui bahwa ia ada dan bahwa ia wajar. Cari sumber validasi lain yang bukan kencan, pekerjaan, persahabatan, hal-hal yang kamu capai, hal-hal yang kamu buat. Berkencanlah saat rasa lapar itu sudah cukup reda sampai kamu bisa memilih orang karena kecocokan mereka, bukan karena perhatian mereka.
Pemicu 3: Mengisi waktu
Minggu pascaperpisahan punya ruang yang dulu tidak ada selama pernikahan. Sebagian ruang itu disambut baik. Sebagian terasa tidak nyaman. Kencan bisa terasa seperti cara yang produktif untuk mengisi bagian yang tidak nyaman itu.
Kenapa ini jadi bumerang: kencan yang dilakukan untuk mengisi waktu menghasilkan hubungan yang hanya hidup di dalam waktu yang ia isi. Saat waktu itu terisi oleh sesuatu yang lain (pekerjaan, hobi, teman), hubungan itu tidak punya tempat untuk hidup. Hubungan itu rapuh secara struktur sejak awal.
Apa yang sebaiknya dilakukan: biarkan ruang itu jadi ruang untuk sementara. Pakai untuk hal-hal yang bukan kencan. Di Tahap 3, kamu akan lebih paham apa sebenarnya yang ingin kamu isikan di situ. Kencan setelah itu bisa jadi tambahan yang disengaja pada hidup yang sudah kamu bangun, bukan mekanisme bertahan untuk hidup yang belum kamu bangun.
Untuk apa sebenarnya kencan-kencan awal itu
Kalau kamu memang berkencan di Tahap 3, kencan-kencan awal itu sedang mengerjakan sesuatu yang spesifik, sekalipun mungkin tidak terasa begitu.
1. Berlatih jadi seseorang lagi. Versi dirimu yang berkencan sudah lama tertidur. Kencan-kencan awal itu sebagiannya soal menghidupkan kembali versi dirimu itu. Tiga atau empat kencan pertama biasanya canggung karena sistemnya sedang menyala ulang. Ini normal; bukan tanda bahwa kencan tidak cocok untukmu.
2. Mengkalibrasi apa yang kamu mau. Kamu mungkin belum tahu apa sebenarnya yang kamu mau dari seorang pasangan sekarang. Kencan-kencan awal menghasilkan informasi. Kukira aku mau X; ternyata aku justru tidak nyaman dengan X. Kukira Y tidak akan penting; ternyata Y sangat penting. Kalibrasi itu kerja yang sungguh-sungguh berguna.
3. Memperbarui gambaranmu tentang apa yang ada di luar sana. Gambaranmu tentang siapa yang tersedia, mereka seperti apa, bagaimana kencan berjalan di lingkup usiamu, mungkin sudah usang. Kencan-kencan awal memperbarui gambaran itu. Pembaruan itu kadang menyemangati, kadang menyadarkan. Keduanya berguna.
4. Menemukan apa yang bisa kamu jalani bersamaan dengan kencan. Kencan memengaruhi tidur, waktu bersama anak-anak, fokus kerja, persahabatan. Kencan-kencan awal mengungkap apa yang bisa bertahan dan apa yang tidak. Aku sanggup satu kencan seminggu tanpa hal lain retak. Dua kencan seminggu membuatku kehabisan tenaga. Penemuan itu penting.
Jangan berharap kencan awal menghasilkan sebuah hubungan. Kadang ya, tapi biasanya tidak. Anggap saja sebagai kalibrasi. Tugasnya adalah belajar apa yang kamu mau dan apa yang sanggup kamu lakukan, bukan menemukan Sang Orang Itu.
Berkencan di usia 30-an, 40-an, 50-an, 60-an
Setiap dekade berkencan dengan cara yang berbeda. Beberapa hal yang perlu kamu tahu untuk masing-masing.
Berkencan di usia 30-an
Kolamnya paling besar. Susunannya (usia anak-anak, tahap karier) paling menuntut. Sebagian besar orang yang kamu temui sedang menangani sesuatu yang besar sekaligus. Ritmenya cenderung cepat: orang sedang mencari pasangan dan tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama.
Yang membantu: jujurlah soal keadaanmu sedari awal. Orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengannya akan menyaring diri lebih cepat, dan itu menghemat waktu semua orang.
Berkencan di usia 40-an
Kolamnya masih cukup besar. Susunannya jadi stabil sekitar pertengahan dekade (anak-anak jadi lebih mandiri). Sebagian besar orang sudah melewati putaran pertama mengenal diri sendiri. Berkencan kadang lebih menarik dibanding usia 30-an karena orang lebih tahu apa yang mereka mau.
Yang membantu: manfaatkan pengenalan diri itu. Kejernihan yang kamu punya sekarang adalah salah satu asetmu. Gunakan.
Berkencan di usia 50-an
Kolamnya lebih kecil tapi lebih terpilih. Sebagian besar orang yang kamu temui punya hidup yang panjang di belakang mereka. Berkencan bisa terasa kurang menegangkan karena anak-anak sering kali sudah dewasa dan karier sudah mapan. Ia juga bisa terasa lebih berat secara eksistensial karena waktu yang di depan mulai kelihatan tepiannya.
Yang membantu: jangan pakai asumsi usia 30-an. Bentuk hubungan yang tersedia sekarang berbeda, dan itu bukan kekurangan. Bentuk-bentuk yang baru tetap bisa dijalani.
Berkencan di usia 60-an dan seterusnya
Kolamnya lebih kecil lagi. Pertimbangan kesehatan mulai masuk. Cakrawala waktu lebih kelihatan. Banyak orang yang kamu temui sudah hidup lebih lama daripada pernikahan mereka, bukan mengakhirinya; teksturnya berbeda.
Yang membantu: jangan buang waktu yang tidak bisa kamu dapatkan kembali. Disiplin kejujuran lebih tajam di tahap ini. Hubungan yang tidak punya potensi sebaiknya dilepaskan lebih cepat.
Apa yang tidak bisa diperbaiki kencan
Layak disebut. Kencan tidak memperbaiki satu pun dari ini.
- Kesepian sebagai kondisi yang mengakar (berbeda dari kesepian sebagai keadaan sementara).
- Persoalan citra diri yang sudah ada sebelum pernikahan.
- Tekanan keuangan.
- Duka soal pernikahan yang belum tuntas dijalani.
- Perilaku Co-Parent atau reaksimu terhadapnya.
- Hubungan dengan anak-anakmu.
Kalau kamu berkencan untuk memperbaiki salah satu dari ini, kencan itu akan gagal memperbaikinya dan sekaligus menghasilkan hubungan yang cacat secara struktur sejak awal.
Hal-hal yang memang bisa diberikan kencan (teman, kemitraan, kedekatan, kesenangan, pengalaman dipilih) itu nyata dan berharga. Ia bukan solusi untuk masalah lain. Ia sesuatu yang berdiri sendiri.
Konteks budaya dan agama, secara ringkas
Di Indonesia, berkencan setelah perpisahan jarang berdiri sendiri di luar keluarga dan agama. Bingkainya berbeda-beda, dan tidak ada satu pun yang lebih benar dari yang lain.
Bagi banyak keluarga Muslim, berpacaran sebelum menikah memang bukan sesuatu yang dianjurkan. Bingkainya bukan kencan dalam arti umum, melainkan mencari jodoh dengan niat menikah lagi, sering kali dengan keterlibatan keluarga, dan dalam batas yang dijaga, kadang lewat proses taaruf. Untuk pembaca dalam keadaan ini, banyak prinsip dalam artikel ini tetap berlaku (soal kesiapan, soal waktu dan tenaga, soal anak-anak), hanya saja diletakkan dalam bingkai mencari jodoh dan bukan bingkai kencan santai.
Bagi keluarga non-Muslim, ruangnya sering kali lebih terbuka, walaupun pegangan keluarga, harapan kerabat, dan norma komunitas tetap membentuk apa yang terasa nyaman. Aplikasi kencan lazim di kalangan pembaca perkotaan.
Apa pun bingkaimu, dua hal tetap benar. Pertama, kerangka waktumu adalah kerangka waktumu, bukan kerangka waktu keluarga besar atau orang lain. Kedua, kejujuran soal keadaanmu, anak-anakmu, Co-Parent, dan posisimu sekarang, itulah yang membuat apa pun yang datang berikutnya jadi lebih bersih.
Rujukan cepat
Lima hal yang membuat kencan pascaperpisahan berbeda:
- Titik awal yang berbeda (pascaperpisahan, bukan sebelum menikah).
- Yang dipertaruhkan berbeda (biaya peluang lebih tinggi).
- Orang yang kamu temui juga berlapis.
- Memadukan itu soal susunan, bukan sekadar emosi.
- Waktu adalah sumber daya yang paling mahal.
Lima penanda kesiapan (tiga atau lebih = bisa dijalani):
- Cerita utamamu bukan lagi soal pernikahan itu.
- Kamu bisa membayangkan tidak akan berkencan lagi dan tetap baik-baik saja.
- Cuaca batinmu cukup stabil.
- Anak-anak cukup stabil.
- Kamu punya waktu dan tenaga untuknya.
Tiga alasan orang berkencan terlalu cepat:
- Kesepian (tangani langsung, bukan lewat kencan).
- Validasi (cari sumber lain dulu).
- Mengisi waktu (biarkan ruang itu jadi ruang).
Untuk apa sebenarnya kencan-kencan awal itu:
- Berlatih jadi seseorang lagi.
- Mengkalibrasi apa yang sebenarnya kamu mau.
- Memperbarui gambaranmu tentang apa yang ada di luar sana.
- Menemukan apa yang bisa kamu jalani bersamaan dengan kencan.
Catatan khusus per dekade:
- 30-an: kolam paling besar, susunan paling menuntut, ritme cepat.
- 40-an: kolam cukup besar, lebih menarik karena pengenalan diri.
- 50-an: kolam lebih kecil dan terpilih, bisa kurang menegangkan, waktu mulai kelihatan tepiannya.
- 60-an ke atas: kolam lebih kecil, disiplin kejujuran lebih tajam.
Apa yang tidak bisa diperbaiki kencan:
- Kesepian sebagai kondisi yang mengakar.
- Persoalan citra diri yang sudah ada sebelumnya.
- Tekanan keuangan.
- Duka yang belum tuntas.
- Perilaku Co-Parent.
- Hubungan dengan anak-anak.
Penutup
Versi jujur dari berkencan setelah perpisahan tidak lebih mudah daripada berkencan di usia 20-an, dan tidak lebih sulit. Ia cuma berbeda. Mengenali perbedaan itu sudah jadi sebagian besar dari kerjanya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.